Ulasan Film

In Bruges: Tragedi Tanpa Jeda di Kota Brussel

Posted on in Ulasan Film

Hal terbaik dari hidup saya dalam seminggu terakhir adalah menyaksikan sekaligus 3 film besutan Martin McDonagh. Sutradara Irlandia ini adalah sosok terbaik dalam menciptakan film-film bergenre dark comedy, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir.

Tiga film garapannya yang saya tonton diwarnai tragedi hidup yang sepatutnya bisa dirasakan semua orang.

Kali ini saya akan membahas film In Bruges. Dua lainnya, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan Seven Psychopaths, kita lewatkan terlebih dahulu.
In Bruges bukan film baru, tapi kebaruan bukan segalanya.

Untuk menemukan film bagus yang layak ditenteng ke mana-mana sebagai bahan obrolan dan rujukan menonton, film produksi tahun 2008 ini masuk kategori layak.

Ceritanya tentang dua pembunuh bayaran yang tengah bersembunyi di Brussel, Belgia, usai membunuh seorang pendeta di London. Mereka menginap di hotel kecil yang berada di pusat kota, di antara bangunan tua Brussel yang indah dan terawat.
Tidak ada yang perlu mereka lakukan di sana kecuali bersembunyi sampai mendapat instruksi selanjutnya dari bos mereka, Harry Waters.

Di Brussel, keduanya tidak memiliki tugas khusus, lebih terlihat seperti dua orang turis yang meninggalkan peradaban modern agar dapat merasakan ketenangan kota tua. Mereka seperti orang kaya yang kelebihan waktu.

Jadilah penonton diajak ikut menikmati indahnya ibu kota Belgia itu. “Brussel adalah kota tua paling terawat di dunia,” ucap pembunuh bayaran pertama bernama Ken layaknya pria pada umumnya yang senang jalan-jalan dan menikmati keindahan.
Ucapan itu ia sampaikan kepada Ray, pembunuh bayaran kedua, yang tak antusias dengan ucapan Ken.

Perbedaan usia antara Ken dan Ray yang cukup jauh membuat perbedaan selera itu terasa wajar. Ray masih muda dan gagah, mungkin berusia 20 atau 30. Ray lebih suka menghabiskan waktu minum-minum bir di bar daripada jalan-jalan mengunjungi gedung tua dan membaca catatan sejarah di sana. “Waktu kecil aku tidak suka sejarah, itu hanya pengulangan kejadian.”

Baca Juga:  Sajian Tiga Lapis Rasa dari Edwin

Dalam film ini, pembunuh bayaran tidak ditampilkan sebagai sosok kejam yang selalu terlihat dingin tanpa menyisakan celah kebaikan.

Cerita In Bruges tidak seklise itu. Kita justru disuguhi dengan pengalaman-pengalaman psikologis setiap karakter.

Dalam film-film besutan Martin McDonagh, tiap karakter selalu diposisikan sampai di batas terjauh ketahanannya, begitu pula In Bruges. Ray dihantui penyesalan sebab pernah membunuh seorang anak berusia kurang dari tujuh tahun.

Itu terjadi saat ia menembak seorang pendeta di London, peluru yang ia lepaskan tidak berhenti di tubuh si pendeta, tapi tembus dan berakhir di kepala bocah malang itu.

Ray memang melakukannya secara tidak sengaja, tapi perasaan bersalah memaksa batinnya berteriak, “Akulah pembunuh anak itu, akulah pembunuh anak itu!”

Di Brussel, beban rasa bersalah Ray kian besar. Saat menemani Ken mengunjungi museum seni, ia terpatung di hadapan lukisan tentang Hari Penghakiman. Ken bilang lukisan itu menggambarkan suatu masa sebelum manusia diputuskan masuk neraka atau surga.

“Kau percaya hal-hal seperti itu? Penghakiman terakhir dan alam baka. Kesalahan, dosa, dan sebagainya?” tanya Ray.

“Entahlah, aku tak tahu apa yang kupercayai. Ajaran yang kau dengar sejak kecil sulit dilupakan. Aku mencoba jalani hidup yang baik.” Ken menjawab ragu.
Ken tahu mengapa Ray menanyakan hal itu. Perasaan bersalah yang bersarang di dada Ray kian memuncak, membuatnya benar-benar depresi.

Kondisi Ray sedikit tertolong saat bertemu dengan Chloe, gadis perfilman Belgia yang diajaknya kencan di malam kedua. Seorang pria pasti merasa terhibur jika seorang gadis yang pertama kali ditemuinya langsung mengiyakan saat diajak makan malam.

Dan benar saja, malam kedua para pembunuh bayaran itu berada di Brussels, Ray kencan dengan Chloe. Sementara Ken tinggal di hotel menunggu telepon dari Harry Waters, nama yang saya sebut di awal tulisan.

Apa yang diperintahkan Harry malam itu sebenarnya cukup mengejutkan mengingat posisinya sebagai bos mereka berdua yang memberi pekerjaan membunuh sekaligus memberi kesempatan berlibur di salah satu kota terbaik di dunia.

Baca Juga:  The Motive: Cara Busuk Menjadi Penulis

Setelah basa-basi membicarakan indahnya Brussel dan bertanya pada Ken, apakah Ray menikmati liburan itu, melihat angsa, dan menghayati keindahan Brussel sebagai kota impian, Harry memerintahkan Ken untuk membunuh Ray.

Ya, Harry memerintahkan Ken untuk membunuh Ray karena pemuda itu pernah membunuh anak kecil. Sangat mengejutkan, bukan? Sekali lagi, ini soal prinsip dan integritas di lingkaran pembunuh bayaran.

“Telpon aku jika ia sudah mati,” kata Harry di ujung telepon.

Saat itu kita bisa melihat ekspresi bingung Ken, tapi kita tidak benar-benar tahu apa yang dipikirkannya. Sepanjang yang saya sadari, tidak ada adegan membatin seperti yang jamak terjadi di sinetron-sinetron Indonesia.

Sekalut apa pun persoalan yang dihadapi tokoh-tokoh In Bruges, penonton tidak diberi tahu apa yang dipikirkannya, tetapi tentu saja kita bisa menebak-nebak, dan di sinilah sensasi keseruan menonton itu bisa ditemukan.

Pada akhirnya, Ken tidak membunuh pemuda depresi itu. Ia jusru mencegahnya bunuh diri. Tepat ketika Ray hendak meledakkan kepalanya dengan sebuah pistol pada siang hari di taman kota yang sepi, Ken muncul menggagalkan upaya tersebut.

Padahal beberapa menit sebelumnya, Ken sudah bersiap menembaknya. Ia mengendap dari belakang sambil menenteng sebuah pistol yang diberi peredam. Semula pistol itu hendak digunakan untuk menuntaskan misi dari Harry. Tetapi Ken mengurungkannya.

Kita harus memberi cacatan penting pada adegan ini. Salah satu hal paling saya senangi dari film ini adalah cara tokoh-tokohnya mengambil keputusan saat menghadapi tragedi. Mereka mengambil keputusan yang memiliki imbas besar hanya dalam hitungan detik, seperti keputusan Ken untuk meloncat dari menara lonceng demi menyelamatkan Ray dari kejaran Harry.

Ini tragedi penutup yang paling menegangkan. Benar-benar di luar dugaan. Setidaknya menurut saya.

Anda tentu tahu apa yang akan dilakukan seorang bos pembunuh bayaran ketika anak buahnya tidak melakukan apa yang ia perintahkan. Tentu saja marah besar dan segera menuntaskan persoalan.
Ken sudah siap dengan semua jenis konsekuensi yang mungkin ia dapatkan.

Baca Juga:  The Insult; Narasi Ego dalam Konflik Komunal

Bagi Ken, Harry adalah seorang bajingan berintegrias. Ia juga merasa memiliki hutang budi sebab Harry pernah berjasa besar menemukan pembunuh istrinya bertahun-tahun silam. Selanjutnya, yang terjadi adalah tragedi-tragedi memilukan.

Sudah begitu lama saya tidak merasakan kepuasan yang dalam usai menonton film. In Bruges bisa jadi jawaban. Tentu saja bagi Anda yang menyukai tragedi dan siap merayakannya.

Tragedi tidak sesederhana aksi tembak menembak antara pahlawan dan penjahat. Lebih dari itu, tragedi adalah pergulatan batin seorang manusia dalam menghadapi kejutan hidup dan kesiapan mereka untuk menerima segala kemungkinan.

Jika Anda sedang mencari film drama komedi gelap yang dipastikan meninggalkan kesan mendalam, tontonlah In Bruges.

Melalui film ini, Martin McDonagh kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu sutradara terbaik yang suka menghadirkan tokoh-tokoh dalam filmnya sebagai manusia biasa.

Ia senang menguji seorang karakter berada di ambang batas kemampuannya. Kita tidak akan tertawa terbahak-bahak seperti sedang menonton film-film yang dibintangi Sacha Baron Cohen, misalnya.

Lihatlah betapa suramnya penggambaran depresi yang dibebankan sang sutradara untuk karakter Ray. Bagi pemuda itu, Brussel yang sangat indah itu, yang menjadi surga wisata bagi kebanyakan penduduk Bumi, adalah neraka. Seharusnya ia bisa pergi dengan mudah. Tapi tragedi selalu datang di luar rencana. Ray pada akhirnya akan selalu berada di Brussel. Ray akan selalu berada di kota yang ia anggap sebagai neraka.[]

Data Film

Tanggal rilis: 8 Februari 2008 (Amerika)
Sutradara: Martin McDonagh
Skenario: Martin McDonagh
Genre: Drama, Crime, Dark Comedy
Durasi: 106 menit
Pemeran: Colin Farrel, Brendan Gleeson, Clemence Poesy, Ralph Fiennes
Rating: Rotten Tomatoes 84%, IMDb 7.9/10, Metacritic 67%

Poster: IMDb

Facebook Comments

Pelajar.