Resensi Buku

Arab Pegon: Warisan Nusantara untuk Dunia Islam

Posted on in Resensi Buku
232 Shares

Salah satu kekayaan Nusantara adalah tulisan Arab Pegon, yaitu tulisan yang ditulis menggunakan huruf-huruf hijaiyah—dengan penambahan beberapa huruf tambahan dan sandangan/harakat tertentu—serta digunakan di wilayah Jawa, Sunda, Madura atau Indonesia secara umum. Khazanah Arab Pegon nyata telah menjadi salah satu penyumbang terbesar atas persebaran ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sejarah dan agama di masyarakat Nusantara.

Arab Pegon bertahan hingga sekarang pasti karena ada (tradisi) yang merawatnya. Siapa yang merawat? Jika demikian pertanyaannya, maka jawabannya adalah pesantren, tradisi pesantren, dan para santri. Meskipun tiga elemen ini bukan perawat dan pengawal satu-satunya, namun ketiga unsur sama sekali tidak dapat dinafikan peranannya.

Di sanalah tradisi penggunaan Arab Pegon ini diberlangsungkan sampai sekarang. Memang, institusi-institusi lain barangkali tetap menerapkannya, namun tidak segiat yang dilakukan oleh para santri/kiai di pondok-pondok pesantren.

Buku “Arab Pegon” karya Sahal Mahfudh bin Abdurrahman (sengaja ditulis lengkap dengan nisbat orangtuanya agar pembaca tidak salah persepsi dengan KH Sahal Mahfudz yang pernah menjabat ketua MUI dan Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, meskipun sama-sama berasal dari Pati, Jawa Tengah) merupakan karya tulisnya yang diajukan untuk meraih gelar magister di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Buku yang kemudian diterbitkan oleh Sahadah Press, Pati (Cetatakn 1: Januari 2018) ini berjudul lengkap :“Arab Pegon: khashaisuha wa ishamatuha  fi Tathwir Ta’lim al Lughah al Arabiyyah bi Indonesia”. Dengan demikian, meskipun secara spesifik buku ini membahas sejarah dan perkembangan huruf pegon, namun ia tetap mengelitkannya dengan perkembangan dan pembelajaran Bahasa Arab secara umum karena persebaran bahasa Arab di Nusantara, di pesantren khususnya, nyaris tidak dapat terlepas dari peran huruf arab pegon ini.

Baca Juga:  I Am Sarahza: Latihan Panjang Mensyukuri Kehidupan

Seperti kita tahu, pemaknaan (makna gandul; jenggotan)  untuk kitab-kitab di pesantren itu, terutama di Jawa, Sunda, dan Madura, masih menggunakan aksara ini. Hal serupa dapat ditemukan di Aceh dan beberapa bagian wilayah Sumatra lainnya, bahkan Malaysia, Brunei, dan sebagian Thailand bagian selatan (Pattani). Hanya saja, penggunaan namanya yang berbeda, antara pegon, Jawi, atau Melayu. Tentu saja, bukan sekadar nama yang berbeda, melainkan juga beberapa itemnya.

Pnggunaan huruf hijaiyah yang ditulis dalam bahasa Melayu disebut Arab Jawi. Banyak persamaan tetapi ada pula perbedaannya. Sahal Mahfudh membuat tabel untuk memudahkan persamaan dan perbedaan ini (hal. 18-24).

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut: Penggunaan huruf dan harakat Arab Pegon ada 21 huruf, sementra hijaiyah ada 28. Pegon mengacu pada konsep “Hanacraka” yang mengandung 20 huruf dalam penulisan dan 21 dalam pengucapan. Deskiripsinya: huruf-huruf Arab yang tidak digunakan di dalam pegon adalah “tsa”, “ha”, “kha”, “dzal”, “zay”, “syin”, “shad”, “dlad”, “tha’”, “dha’”, “‘ain”, “ghin”, “fa’”, dan “qaf”.

Sebaliknya, ketujuh huruf berikut ini; “ca”, “pa”, “dha”, “nya”, “ga”, “tha”, dan “nga” tidak dikenal dalam hijaiyah-Arab. Demikian untuk dicatat, bahwa di samping satuan terkecil bunyi “cha”, “pa”, “dha”, “nya”, “ga”, “tha”, dan “nga” yang mana semuanya itu tidak ditemukan di dalam nuruf hijaiyah, hal lain yang juga membedakan pegon dengan Arab adalah segi rumus harakat/sandangan, yakni wulu, suku, taling, taling-taroeng, pepet, cacar dan pangkon.

Penyebutan Jawi, dalam hal ini, sejujurnya masih kental aroma orientalis. Menurut laporan Snouck Hurgronje, orang Arab menggunakan istilah “Jawi” untuk mengacu pada ras Melayu dalam keadaannya dan pemahaman yang paling luas. Adapun batas geografisnya adalah semenanjung Melaya dan Siam di barat dan Papua Nugini di timur.

Baca Juga:  Negeri (Tanpa) Dokumen: dari Aidit, Orde Baru, hingga Muhidin M. Dahlan

Wilayah tersebut, kesemuanya, mengacu pada Bilad al-Jawah. Hal ini dibuktikan atas keterpengaruhan orang-orang Melayu yang tampak dalam penerapan peristilahan-peristilahan Arab dalam kehidupan masyarakat mereka. Seperti disinyalir pula oleh Amin Sweeney dalam bukunya, “A Full Hearing” (1987: 56 & 199), mayoritas penggunaan peristilahan untuk konsep asli dalam beberapa penulisan adalah bahasa Arab.

Sejarah penemuan inskripsi di Trengganu (702 H/1303 M) menjadi bukti tulisan Jawi pertama. Sementara yang menggunakannya untuk teks kitab adalah murid Syaikh Muhammad al Hamid di Aceh, tahun, 1590, pada kitab Bahrul Lahut, karya Abdullah Arif (kitab unik ini ditemukan di lemari koleksi Raden Umro, Sumberanyar, Tlanakan, Pamekasan) serta pada Ummul Barahin As-Sanusi, dll.

Sahal berpendapat bahwa jasa Sunan Ampel tidak dapat dilupakan jika mengaitkan Arab Pegon ini dengan proses pembelajaran agama dan persebarannya di Nusantara, khususnya Jawa. Sunan melakukan proyek penerjemahan beberapa kitab dengan menggunakan aksara Pegon.

Di masa itu pula, banyak ulama Nusantara yang belajar ke Hijaz, sebagian tinggal dan sebagian menetap. Fenomena ini merupakan bagian dari alasan mengapa aksara Pegon dan Jawi/Melayu terus berkembang.

Dan kini, dengan warisan sistem pemaknaan kitab gundul dengan menggunakan makna gandolan/jenggotan yang terus dilangsungkan di pesantren, dapat dikata kalau pesantren adalah satu institusi yang paling gigih melanggengkan tradisi dan warisan ini.

Sahal juga mengakuinya dengan bukti-bukti adanya sistem pengajian sorogan dan bandongan yang bertahan hingga sekarang (hal. 156). Di tempat lain, seperti di kampus-kampus, penulisan Arab Pegon atau Jawi hanya hidup di ruang penelitian yang setelah itu kembali mendekam dalam kesunyian rak-rak perpustakaan karena jarang sekali tangan yang menyentuhnya.

Sayangnya, karya penelitian setebal 211 halaman ini disajikan masih dalam keadaan seperti tesis, hanya saja dalam ukuran buku. Latar belakang masalah, sistematika pembahasan, dan serangkaian syarat-rukun tesis masih ditulis dalam format lengkap dan disiplin.

Baca Juga:  Pembangkangan Itu Cerita Biasa

Mestinya, karena buku ini akan dilemparkan ke publik yang dilandasi oleh semangat memperkaya khazanah leluri Nusantara, kiranya akan lebih baik jika disajikan sudah dalam keadaan seperti “buku jualan”, tidak lagi seperti buku syarat kelulusan.

Namun begitu, meskipun ditulis dalam bahasa Arab, pembaca kita tidak akan sukar memahaminya sebab sebagian srukturnya relatif banyak yang setia menggunakan logika dan ‘citarasa’ tata bahasa Indonesia meskipun ditulis dengan (tata) bahasa Arab.

Apa yang begini ini kurang ‘ngarab’? Justru yang seperti inilah yang memberikan sumbangsih pada khazanah literatur Nusantara dan Arab sekaligus.[]

Facebook Comments

Aktivis literasi pesantren, tinggal di PP Annuqayah, Guluk-Guluk.