Ulasan Film

Red Sparrow, Burung Gereja yang Sok Tegar namun Rapuh

Posted on in Ulasan Film

Satu hal yang selalu dinanti audiens setiap menonton film mata-mata adalah pertunjukan kecerdikan. Entah itu kecerdikan sang lakon dalam mengelabui musuhnya atau si musuh yang selalu punya cara licik untuk meloloskan diri. Tak ayal film mata-mata sering kali menyajikan plot berlapis walau ternyata plot utamanya sendiri cenderung linear.

Semisal, oleh negaranya, seorang agen rahasia—namun sayangnya tidak lagi rahasia karena jutaan penonton sudah mengetahui identitas sebenarnya, tapi okelah, paling tidak di dunia fiktif itu mereka memang rahasia—diberi tugas menghentikan aksi si tokoh antagonis teroris yang akan menyelundupkan senjata nuklir ke sebuah negara maju namun di tengah misi, si agen bertemu tokoh lain yang mengalihkan perhatiannya—biasanya perempuan cantik dan seksi jika si agen rahasianya cowok atau sebaliknya—yang rupanya adalah salah satu upaya kongkalikong untuk menggagalkan misi si agen rahasia kita itu dalam membekuk teroris.

Plot semacam ini, setelah dibumbui dengan adegan tembak-tembakan, kejar-kejaran mobil, cumbuan-cumbuan murahan, pamer gawai-gawai canggih, atraksi ledakan hebat di berbagai lokasi serta sematan judul yang diambil dari puisi koran Minggu picisan seperti ‘Dunia yang Tak Pernah Cukup’, ‘Mati di Lain Hari’, ‘Dari Angkringan dengan Cinta’, dan lain sebagainya akan langsung disetujui oleh produser-produser mata duitan.

Lalu dirilislah film mata-mata cheesy berseri yang hanya akan membuat tukang pop corn kesenangan.

Jika ada film mata-mata yang tidak menampilkan aksi tembak-tembakan dan pukul-pukulan tak tentu arah semacam itu melainkan belaka menyajikan operasi mata-mata yang senyap dan intens, maka film Red Sparrow adalah anomali sesungguhnya di tengah gempuran mainstream pasar Hollywood belakangan ini.

Film besutan Francis Lawrence ini memang tidak sesenyap film-film beraliran arthouse indie yang menampilkan shot-shot aesthetic serta dialog mendalam. Bisa jadi penonton yang mengharapkan film mata-mata seperti itu akan kecewa jika menonton film ini.

Film ini berkisah tentang ‘burung gereja’, pasukan khusus yang dididik oleh negara Rusia. Dipersiapkan untuk menjalankan misi-misi khusus yang berhubungan dengan syahwat, sudah pasti pasukan ini disesaki oleh para pria tampan dan wanita cantik jelita.

Baca Juga:  Dogman: Anjing, Manusia, Kokain, Keluarga

Salah satu ‘burung gereja’ itu adalah Katnis Everdeen, yang setelah mendapati kenyataan pahit bahwa uang hadiah Hunger Games tak lagi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari karena harga-harga yang terus meroket naik dari waktu ke waktu dan tidak pandai turun lagi, akhirnya dia memutuskan untuk mendekati Profesor X lalu—oke … Jennifer Lawrence memang tokoh utama film ini dan sutradaranya adalah orang yang juga membesut semua seri The Hunger Games.

Karakter peranannya di sini adalah seorang balerina yang mengalami kecelakaan saat pementasan yang membuatnya tak bisa menari balet lagi lantas demi membiayai semua kebutuhan hidup dan pengobatan ibunya yang sakit keras, dia direkrut pamannya yang bekerja di pemerintahan.

Sayangnya, pamannya bukan calo PNS, jadi pekerjaan yang dilakukan oleh J Law membawanya sampai ke sebuah sekolah pelatihan ‘burung gereja’ yang ironisnya di tempat itu orang-orangnya justru dididik bagaimana menjadi pelacur yang baik dan benar.

Jangan harap sekolah ini seperti yang ada di film Kingsman karena memang pelajaran utama yang diterima murid-muridnya adalah tata cara ‘menggoda’ musuh. Pelajaran menembak dan membobol kunci pintu tentu tetap ada. Kurikulum utamanya tetaplah bagaimana mengetahui teknik-teknik bercinta melalui film-film biru yang dipertontonkan kepada para murid.

Di sini pula terlihat kalau film ini memang ditujukan untuk penonton dewasa karena akan banyak sekali adegan telanjang dan tidak tanggung-tanggung … JENNIFER LAWRENCE PUN TELANJANG!!!

*elap keringat dan pencet replay berulang….

Mungkin beberapa orang akan merasa tidak nyaman jika menonton film ini setelah membaca novelnya tapi jangan khawatir, walaupun adegan buka bajunya lebih banyak daripada adegan peluru ditembakkan—sepertinya istilah make love not war memang jadi slogan para sparrow ini, plot film ini masih lumayan bisa dinikmati.

Ditambah twist tidak terduga yang cukup bikin menganga—sebenarnya, kalau penonton cukup jeli memperhatikan, petunjuknya sudah terlihat samar sepanjang film. Andai tidak ada twist ini, penulis hampir menyerah di sepertiga akhir film karena plot yang mulai tak jelas.

Baca Juga:  Three Billboards Outside Ebbing, Missouri: Kontras-Kontras di Seputar Kekerasan

Mungkin karena penulis susah menghapalkan nama-nama Rusia yang aneh atau terus terdistraksi setiap lima menit sekali mengulang adengan J Law telanjang—sangat tidak direkomendasikan menonton film ini di jam-jam kerja—serta tema berat tentang patriotisme terhadap negara yang sangat adiluhung.

Tema besar perang dingin antara Rusia dan Amerika jadi titik sentral film ini. Cuma yang disayangkan adalah jika mereka memakai seting Rusia di sepanjang film, kenapa karakternya harus memakai bahasa Inggris? Bahkan J Law yang di film ini dikisahkan memang berdarah asli Rusia pun fasih berbahasa Inggris dan hanya beberapa potong dialog saja memperdengarkan percakapan dalam bahasa Rusia. Jelas film ini sudah menjadi produk pemutih Hollywood.

Sosok jenderal Rusia saja diperankan oleh Jeremy Irons, bukan aktor Rusia atau setidaknya dia berusaha memperbaiki aksen Rusianya yang terdengar aneh. Demikian juga Mathias Schoenaerts, aktor yang memerankan  paman J Law yang sekilas mirip dengan Mads Mikkelsen, punya aksen Rusia yang lagi-lagi aneh.

Sementara J Law masih seperti J Law pada umumnya. Cantik dan ‘akhirnya’ bisa dilihat secara polosan. Ehm….

Selain itu, pemilihan judulnya sendiri sebenarnya agak membingungkan. Dulu ketika trailer film ini muncul, penulis memikirkan, ‘Oh oke … film mata-mata. Lakonnya J Law. Seksi. Dia berambut pirang dan memakai nama samaran yang aneh. Kok jadi mirip sesuatu?’

Apa kalian bisa menebaknya?

Jika tidak bisa, maka kalian harus menonton Atomic Blonde serta Avengers: Infinity War karena di dua film ini ada tokoh mata-mata yang diperankan oleh wanita seksi, berambut pirang dan punya nama samaran yang hampir mirip. Bahkan Black Widow sendiri juga berasal dari Rusia dan punya masa lalu seorang balerina, apakah ini sebuah kebetulan?

Terlepas dari itu, jika kalian—para lelaki terutama, bertemu dengan wanita berambut pirang dan punya nama aneh, jauhi karena dia sudah pasti mata-mata. Atau kalau enggak, suruh dia mengecat rambutnya lebih dulu lalu suruh sebutkan bahan-bahan pembuat es kepal. Jika dia mau dan nurut, bisa ditebak dia pantas diajak kencan.

Baca Juga:  Hakikat Merdeka: Menjadi Muda dan Otentik

Kembali ke soal judul, karakter J Law tidak disebutkan punya nama yang sama dengan judul film ini. Sparrow hanyalah organisasi sementara maksud Red ini mungkin julukan lain Rusia. Penulis sempat berpikir apakah jangan-jangan produser-produser Hollywood ini sejatinya memang sudah memiliki semacam name generator untuk memberi nama samaran para agen mata-mata mereka?

Pilih acak salah satu nama hewan yang terlintas pertama kali dalam kepala, bubuhkan jenis warna tertentu di belakangnya, lalu tadaaa! Jadilah sebuah nama agen rahasia yang akan membuat gentar musuh-musuh. Masalahnya adalah, bagaimana bila seorang agen yang ketiban sial kebagian nama semacam Ubur-Ubur Magenta, Ulat Sutera Cyan, Burung Hantu Kuning atau yang paling menyedihkan, Arwana Kelabu?

Yah, walau kita semua tahu kalau Panther Hitam bukanlah film tentang mata-mata, setidaknya jika kalian mau jadi agen mata-mata pilihlah nama samaran yang keren. Jangan nama hewan dan warna, tidak malu sama Power Ranger?

Meski demikian, jika kalian mencari film bernuansa mata-mata yang tidak memiliki banyak adegan aksi, film ini bisa jadi rujukan utama karena JENNIFER LAWRENCE TELAN—jangan berpikir negatif dulu, nikmati saja.

Kalau pun ingin menonton film mata-mata penuh aksi, masih ada pilihan lain seperti serial Mission Imposible—yang notabene saat tulisan ini dibuat Fallout akan sebentar lagi tayang atau seri lanjutan James Bond yang sudah dipastikan akan tetap diperankan oleh Daniel Craig. Terlepas dari itu, memang dunia perlu berhati-hati dengan mata-mata terutama wanita apalagi jika yang main seperti sosok Jennifer Lawrence yang tegar namun rapuh seperti burung gereja.[]

Data Film

Sutradara: Francis Lawrence

Skenario: Eric Singer, Justin Haythe

Genre: Drama, Mystery, Thriller

Durasi: 2 jam 20 menit

Pemain:  Jennifer Lawrence, Joel Edgerton, Matthias Schoenaerts

Tahun Rilis:  2 Maret 2018 (USA)

Rating: 6.6/10 (IMDb), 47% (Rotten Tomatoes)

Gambar: Cineman

Facebook Comments

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.