Resensi Buku

Tafsir Cinta ala Erich Fromm

Posted on in Resensi Buku

“Ketika manusia lahir, bangsa maupun individual, dia terlempar dari sesuatu yang pasti, sepasti insting, ke dalam situasi yang tak pasti, tak jelas dan terbuka. Kepastian hanya menyangkut masa lalu dan yang pasti tentang masa depan hanyalah kematian.” (Seni Mencintai, hlm. 16)

Sejak detik pertama ketika mulai menyelami alam pikiran Erich Fromm tentang cinta, itu artinya kita telah bersedia untuk ‘ditelanjangi’. Kemudian setelah menyelam cukup dalam, kita akan sadar dengan sendirinya bahwa pemahaman kita selama ini tentang apa dan bagaimana itu cinta, rupanya masih mengambang di permukaan.

Mengawali uraiannya yang amat panjang tentang cinta, Fromm mengemukakan dua premis. Yang pertama adalah cinta sebagai suatu seni, karena itu butuh pengetahuan dan upaya. Kedua, cinta merupakan sensasi nyaman, yang dialami semata karena kesempatan, yang hanya orang beruntung saja yang dapat “jatuh cinta”.

Dalam hemat Fromm, mayoritas orang kejamakan pastilah sangat meyakini dan dengan berbangga hati menyebut bahwa cinta pastilah termaktub dalam premis yang disebut belakangan. Mereka akan merasa asing dengan premis yang pertama. Selanjutnya akan mempertanyakan dan bahkan mungkin akan menegasikan ungkapan cinta membutuhkan upaya dan pengetahuan. Karena itu, mereka anggap proses mempelajari seluk beluk cinta adalah suatu kedunguan belaka.

Dengan meyakini cinta dalam perspektif premis kedua, kebanyakan orang menganggap bahwa soal cinta, yang terpenting adalah dicintai, bukan mencintai. Sebab itu, tidaklah mengherankan hingga detik ini bejibun cara ditempuh dengan tujuan agar dicintai. Bukan laki-laki saja, atau perempuan saja.

Dua jenis kelamin itu sama-sama melakukannya. Bagi laki-laki, bentuk upayanya agar dicintai adalah dengan menjadi sukses, kaya raya, berkuasa dan sebagainya. Lain halnya dengan kaum perempuan, mereka akan bertungkus lumus mempersolek diri, merawat tubuh, mengenakan pakaian menarik dan sebagainya.

Sampai di sini, cinta pada akhirnya memiliki kaitan erat dengan karakteristik budaya kontemporer. Di mana diferensiasi antara gagasan tukar-menukar dan jual-beli dengan cinta, menjadi sangat sumir. Laki-laki dan perempuan, masing-masing tak ubahnya barang dagangan yang menunggu dilirik khalayak untuk kemudian dibeli menggunakan alat tukar.

Baca Juga:  Cinta Tak Tentu Arah

Anggapan cinta dalam perspektif premis kedua, akan semakin menemukan titik terangnya manakala subyek keliru memahami perbedaan mencolok antara jatuh cinta (falling in love) dan berada dalam cinta (standing in love). Tatkala dua orang yang pada mulanya asing membiarkan tembok penghalang di antara mereka runtuh, maka muncullah perasaan dekat dan menyatu.

Momen tersebut menjadi pengalaman paling menggembirakan—bahkan ajaib—bagi mereka yang sebelumnya terasing, terpencil, sendiri dan tak pernah merasakan kehadiran cinta. Apalagi jika hal tersebut disertai hadirnya ketertarikan seksual. Akan tetapi, cinta jenis ini tidaklah permanen.

Seiring waktu, setelah dua insan ini saling mengetahui satu sama lain, ketertarikan yang pada mulanya sangat besar daya ledaknya itu, perlahan akan memudar. Proses tersebut bahkan bisa lebih singkat jika dibumbui dengan kekecewaan, permusuhan, kebosanan dan sebagainya.

Dalam bukunya, The Art of Loving, Fromm menggunakan premis pertama dalam merekonstruksi pemahaman akan cinta. Ia menilai penggunaan premis kedua sebagai dasar memahami cinta adalah keliru. Karena itulah ia meyakini bahwa cinta adalah seni.

Artinya, cinta butuh untuk dipelajari dan dipahami secara mendalam layaknya bidang seni lainnya. Prosesnya terbagi tiga, yakni menguasai teori, menguasai penerapan dan yang terakhir ialah penguasaan seni tersebut.

Dalam Cinta, Keterpisahan Manusia Menemukan Jawaban

‘Mengaji’ cinta kepada Fromm, kita akan dibawa jauh pada awal mula eksistensi  manusia. Yang paling mendasar adalah bahwa manusia muncul dari kerajaan hewan kemudian melampaui atau terpisahkan dari alam melalui adaptasi instingtif. Dengan anugerah nalar yang dimiliki, manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri, sesamanya, masa lalunya, dan bahkan kemungkinan-kemungkinan masa depannya.

Kesadaran akan segala hal yang mengerucut pada afirmasi bahwa dirinya adalah entitas tersendiri yang terpisah tersebut, pada gilirannya menjelma penjara yang tak tertahankan. Artinya, kesadaran akan keterpisahan adalah sumber segala kecemasan.

Baca Juga:  Mencari Kesejatian dengan Riang

Itulah yang mendorong manusia—baik secara sadar, namun sering kali tanpa sadar—pada upaya mengatasi keterpisahannya melalui jalan penyatuan. Sejauh ini, menurut Fromm, terdapat beberapa cara yang sering ditempuh manusia untuk membebaskan diri dari keterpisahan.

Yang pertama ialah menempuh berbagai cara agar tubuh sampai pada kondisi orgiastic. Cara ini telah sejak lama dilakukan, bahkan hingga hari ini. Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan hilangnya kesadaran untuk sementara watu. Pada masyarakat primitif, ritual-ritual yang dilakukan dengan tujuan membuat seseorang bahkan suatu kelompok kesurupan secara massal, adalah bentuk peraihan kondisi orgiastic.

Pada masyarakat dengan peradaban yang mulai maju, bentuknya ialah mengonsumsi alkohol atau obat-obatan. Pengalaman seksual yang berakhir dengan orgasme, dapat pula dikategorikan dalam ranah ini.

Cara penyatuan lain yang dipilih manusia, ialah dengan penyesuaian dengan kelompok (konformitas). Pada mulanya, makna konformitas sebatas penyesuaian dengan adat istiadat, kebiasaan dan kepercayaan. Namun sayangnya, seiring waktu bentuk penyatuan ini mengalami pergeseran radikal. Bahkan sejak akhir abad dua puluh hingga sekarang, sifatnya menjadi semakin tidak humanis, alih-alih menyelamatkan manusia dari derita keterpisahannya.

Cara selanjutnya ialah meraih penyatuan dengan aktivitas mencipta. Kerja produktif sebagai seniman atau perajin, terlingkup di dalamnya. Namun, perlu digarisbawahi bahwasanya cara ini terbatas pada kerja kreatif yang direncanakan, dicipta, dan terlihat hasilnya oleh sang subyek. Oleh karena itu, kerja modern sebagai pegawai kantor, buruh pabrik dan sebagainya, tak termasuk di dalamnya.

Tiga jalan penyatuan yang telah disebut di atas, rupanya memiliki kelemahan tersendiri. Penyatuan orgiastic sifatnya temporal; penyatuan konformis hanyalah kesatuan semu; dan penyatuan lewat jalan kerja produktif sifatnya tidak interpersonal. Maka kemudian, Fromm menyebut penyatuan dengan orang lain melalui jalan cinta adalah jalan terbaik. sifatnya tidak sementara, tidak semu dan juga interpersonal.

Jalan penyatuan lewat cinta, rupanya masih melahirkan polarisasi pemaknaan. Yang pertama adalah sebagai sarana atau jawaban dewasa atas persoalan eksistensi manusia. Kedua, cinta sebagai bentuk-bentuk tak dewasa yang oleh Fromm disebut sebagai penyatuan simbiotik. Selama ini, menurut from, mayoritas orang masih mendefinisikan cinta dalam perspektif yang kedua.

Baca Juga:  Menjadi Muslim, Menjadi Orang Indonesia yang Baik

Cinta sebagai penyatuan simbiotik, sederhananya dapat dipahami sebagai penyatuan—baik fisik maupun psikis—antara dua tubuh terpisah yang melahirkan ikatan intim. Penyatuan simbiotik terbagi dua jenis: pasif dan aktif.

Jika ia pasif, maka karakter yang akan tampak ke permukaan ialah masokisme. Seorang berkarakter masokis coba lari dari perasaan terpisah dengan cara menjadikan dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari orang lain yang mengarahkannya, memandunya, melindunginya. Ciri paling kuat adalah ketundukan dan ketergantungan.

Bentuk aktif dari penyatuan simbiotik adalah sadisme. Ia adalah antitesa murni dari masokisme. Artinya, seorang yang berkarakter sadistik, akan mengupayakan segala sesuatu untuk menjadikan orang lain bagian tak terpisahkan dari dirinya. Cara apapun bisa ditempuh, bahkan meskipun itu lewat jalan kekerasan dan pemaksaan. Itulah ciri paling kuat orang sadistik.

Individu masokistik dan sadistik, sejatinya tidak pernah berdiri sendiri. Mereka membutuhkan satu sama lain. Individu masokistik membutuhkan individu sadistik untuk dijadikan tempatnya bergantung. Sebaliknya, individu sadistik sejatinya juga membutuhkan individu masokistik yang akan selalu tunduk pada dirinya.

Sampai di sini, jelaslah kemudian bahwa cinta sebagai jalan penyatuan dari keterpisahan bukanlah semata penyatuan simbiotik. Ia jauh melampauinya. Ia dapat pula dipahami sebagai leburnya sikap masokis sekaligus sadis. Fromm menegaskan bahwa dalam cinta yang dewasa, adalah laku memberi—yang itu artinya tak sebatas menerima—yang menjadi ciri utamanya. Sama halnya ia juga adalah laku mencintai, dan bukan dicintai.

Data Buku:

Judul buku : Seni Mencintai

Penulis : Erich Fromm

Penerbit : Basabasi, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Januari 2018

Tebal : 192 Halaman; 14 x 20 cm

ISBN : 978-602-6651-69-3

Gambar: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Pemimpin Redaksi LPM Advokasia Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.