Ulasan Film

ReLIFE: Sebuah Kesempatan untuk Mengulang Kembali Kehidupanmu

Posted on in Ulasan Film

Bagi pecinta manga terkhusus karya-karya So Yayoi tentu tidak asing dengan judul film ini. Saya belum membaca manganya tapi sudah menonton adaptasi animenya lebih dulu, bertahun-tahun yang lalu. Ketika tahu live action movie-nya akan dirilis, saya juga menanti-nantikan hal itu.

Namun, saya tidak akan membahas perbandingan antara anime dan filmnya. Meski tentu hal itu seru juga untuk dibahas, mengingat terdapat banyak perbedaan yang menguntungkan sekaligus merugikan antara anime dan filmnya.

Kalau versi animenya cenderung menekankan pada persoalan psikologis setiap tokoh dalam cerita, filmnya lebih terasa menjurus pada cerita romance kedua tokoh utamanya saja. Tapi dalam ulasan ini saya hanya akan fokus pada apa yang saya rasakan saat menonton filmnya.

Barangkali setiap kita kerap memikirkan hal yang sama: ketika kecil kita berpikir akan tumbuh dewasa, melanjutkan pendidikan, kuliah di universitas yang kita dambakan. Lalu kita lulus dengan nilai memuaskan atau biasa-biasa saja, dan kemudian mendapat pekerjaan di perusahaan yang kita minati, sesui dengan passion kita.

Setelah itu sudah tentu kita akan mencintai seseorang dan memutuskan menikah dengannya, memiliki beberapa anak, menyaksikan anak-anak itu tumbuh dewasa, dan kemudian mati. Sudah, begitu saja? Kehidupan yang biasa dan seolah-olah mudah untuk dijalani.

Dalam perenungan-perenungan (untuk tidak menyebutnya sebagai penyesalan) saya menyadari, ada beberapa hal yang seharusnya tidak begitu, melainkan begini. Seharusnya saya bisa berbuat lebih, tidak hanya ini. Ujung-ujungnya kembali pada rasa bersalah dan menyesal.

Ketika berada dalam masa-masa sulit menjalani hidup saya juga kerap berandai-andai, bagaimana jika dalam beberapa babak kehidupan saya, saya mendapat kesempatan untuk mengulanginya tanpa melenyapkan kesadaran saya terhadap apa yang sudah terjadi. Mengulangi masa lalu tapi tanpa mengubah masa depan. Hanya saja dengan mengulangi masa lalu, diharapkan kita belajar dari sana dan mau menjalani masa depan kita sendiri ke arah yang tentunya lebih baik.

Baca Juga:  Pacific Rim: Uprising—Pemberontakan Setengah-Setengah

Setidaknya, itu pulalah yang dipikirkan oleh tokoh utama Kaizaki Arata (diperankan oleh Taishi Nakagawa) yang pada kenyataannya masih menganggur bahkan di usia 27 tahun. Ia kerap berbohong pada teman-temannya perihal status penganggurannya itu. Hidup hanya diisi oleh kebiasaan merokok dan minum bir di sebuah rumah yang entah miliknya, entah menyewa dengan keuangan yang kian hari kian menipis; bersama penyesalan-penyesalan masa muda memenuhi kepalanya. Menyedihkan.

Dalam budaya masyarakat Jepang yang rentan terhadap depresi dan bunuh diri, menjadi dewasa memang bukan perjalanan hidup yang mudah. Saya jadi teringat ucapan Naoko dalam novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami yang berharap di perayaan ulang tahunnya yang ke 19, waktu bisa berhenti atau berulang kembali menjadi usia 18 tahun dan waktu tak perlu bergerak ke angka 20 atau 21.

Tetapi, alih-alih menjadi Naoko yang tak bisa lepas dari masa lalu dan enggan beranjak menuju masa depan, film ini memberimu perspektif baru terhadap masa lalu dan masa depan dalam sebuah kalimat yang akhirnya disadari Kaizaki: “Jagalah dengan baik saat-saat ini.” Ya kita kembali lagi pada kesimpulan, bahwa yang terpenting untuk kita jaga adalah “masa saat ini” sembari belajar dari masa lalu dan tak perlu terlalu berlebihan memikirkan masa depan.

Tokoh-tokoh yang lain juga membangun konflik dan cerita menjadi kokoh. Ada Yuna Taira yang cukup bagus saat memerankan karakter Hishiro Chizuru, wanita pendiam dan punya masalah serius saat berkomunikasi dengan orang lain, tetapi cerdas dan unggul dalam semua pelajaran.

Ada juga Elaiza Ikeda yang juga berhasil memerankan karakter Kariu Rena yang pekerja keras, senang bersaing, dan keras kepala. Mahiro Takasugi sebagai karakter Ooga Kazuomi, pemuda yang pintar tapi lemot alias tidak peka dalam masalah cinta.

Baca Juga:  Kimi no Na Wa; Sebuah Pertunjukan Seni yang Komplet dan Megah

Sae Okazaki yang tidak terlalu mencolok sebagai Onoya, tetapi karakternya yang manis dan imut, serta selalu bersemangat menambah suasana seru dalam pertemanan mereka.

Jangan lupakan Yudai Chiba sebagai Yoake Ryo, agen rahasia yang menjadi penyebab Kaizaki dapat mengulang kembali hidupnya selama satu tahun dalam sebuah eksperimen rahasia bernama ReLIFE. Meski ini kisah fiksi, tetapi menimbang negara Jepang memiliki segala keajaiban dalam mencipta dan berinovasi, mengapa tidak, mungkin saja eksperimen ReLIFE memang benar-benar ada. Hehehe!

Aroma persahabatan ala kehidupan remaja anak sekolah sangat kental terasa di bagian pertengahan hingga akhir film. Ingatan saya kembali berziarah pada momen-momen tak terlupakan bersama sahabat-sahabat di sekolah dulu (orang-orang yang sudah lama saya tidak berkomunikasi lagi dengan mereka).

Alih-alih mengulang hidup kembali, eksperimen ReLIFE sebenarnya memberikan Kaizaki kenangan baru, bersama teman-teman baru yang membuat saya menjadi sentimental sepanjang menontonnya.

Kalau kamu ingin mendapatkan fokus penceritaan perihal psikologis tiap-tiap tokohnya, tontonlah versi animenya (karena di sini cerita lebih panjang sebab setiap tokoh mendapat porsi penceritaan tersendiri). Jika ingin fokus pada hubungan persahabatan dan romantisme antar dua tokoh utama saja, menonton film ini sangat dianjurkan. Jika kamu ingin mendapatkan kesemuanya tontonlah versi anime dan filmnya sekaligus dan bila perlu baca terlebih dahulu manganya.

Harapan saya, semoga kamu juga mendapat apa yang saya dapatkan saat menonton film ini. Kesadaran bahwa kita perlu menghargai setiap momen yang kita lalui “saat ini”, sebab kehidupan yang kita jalani tak hanya berlalu dari waktu ke waktu, tetapi juga dari satu momen ke satu momen yang lain, dari satu suasana ke satu suasana yang lain.

Baca Juga:  Hichki: Sulitnya Menjadi Guru

Data Film

Sutradara:  Takeshi Furusawa

Skenario: Kumiko Aso

Genre: Comedy, Drama, Romance

Durasi: 2 jam 1 menit

Pemain:  Taishi Nakagawa, Yuna Taira, Mahiro Takasugi, Elaiza Ikeda, Sae Okazaki

Tahun Rilis:  2017

Rating: 8.4/10 (IMDb)

Poster: IMDb

Facebook Comments

Belajar di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU.