Resensi Buku

Humor, Seni Mengkritik tanpa Melukai

Posted on in Resensi Buku
189 Shares

Masyarakat Madura dengan segala keunikan budaya dan dinamika kehidupannya selalu menarik untuk diulik. Karena keunikannya itu, majalah Time edisi istimewa Agustus 2000 menempatkan suku Madura secara khusus di antara kelompok-kelompok masyarakat khas di Asia. Liputan spesial majalah asal Amerika itu dengan bernas membeberkan bahwa orang-orang Madura adalah pekerja yang ulet dan setia.

Keunikan lain yang juga menarik untuk ditelisik dari warga penghuni Pulau Garam itu adalah homor-humornya yang cerdas dan tajam. Kekhasan mereka bisa kita telusuri, misalnya, dari ketakterdugaan alur nalarnya. Kepolosannya menjadikan mereka sumber humor yang tak pernah kering. Sindirannya menyengat, namun terselip hikmah dan kebenaran bersahaja.

Lewat buku Kelakar Madura Buat Gus Dur, Sujiwo Tejo coba menghadirkan humor Madura yang segar dan menggelitik itu. Aneka ragam humor Madura disajikan berdasar tutur tinular, faktual sejarah dengan aneka rupa tokoh di dalamnya. Sujiwo Tejo cukup piawai meramu humor Madura menjadi narasi-narasi pendek layaknya kisah keseharian.

Humor itu, umpamanya, bisa kita simak dalam cerita Jabatan Rangkap. Alkisah, anggota DPR sedang menyetir mobil sendirian. Tiba-tiba mobilnya mogok tepat di depan penjual sate Madura. Karena kasihan, penjual sate kemudian membantu mendorong mobil tersebut. Sementara anggota DPR yang terhormat itu hanya duduk manis di ruang kemudi.

Melihat ada sebuah ketimpangan orang Madura pun tak tinggal diam, “Bapak lihat! Saya sudah berkorban tidak mendorong gerobak sate demi mendorong mobil Bapak. Lha, pengorbanan Bapak apa?” “Bagaimana bisa mendorong kalau saya juga harus mengemudi,” bantah anggota DPR. “Lho, Bapak ini menjadi anggota DPR merangkap jabatan lain saja bisa kok. Masa nyetir sambil mendorong saja tidak bisa?” (hlm 86).

Baca Juga:  Merawat Ekosistem Bersama Toshihiko Izutsu

Kita juga bisa menyimak lelucon dalam cerita Presiden Sakit Punggung. Secara historis, Gus Dur sukses menjadi presiden karena didukung oleh Poros Tengah. Namun dalam perjalanan pemerintahannya, dukungan Poros Tengah akhirnya terpecah belah. Bagi orang Madura, poros artinya punggung. Berarti Gus Dur sedang sakit punggung (sakek tengah). “Makanya sekarang saya harus menyembuhkan Gus Dur. Kasihan kalau presiden punggungnya sakit,” ujar orang Madura (hlm 57).

Humor lain yang tak kalah lucu ada pada cerita seorang penjual gambar menawarkan foto Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati kepada orang Madura. Masing-masing foto itu dibandrol dengan harga Rp 10.000. Orang Madura tak terima dan melayangkan protes. “Kamu tahu kedudukan presiden dan wakilnya? Mengapa harganya bisa sama? (hlm 156).

Jika kita telaah secara saksama, di tengah carut-marut jagat politik, sesungguhnya humor bisa dijadikan sejenis katup pelepas. Humor tidak lagi sekedar mengolah tawa, namun juga membawa pemikiran tertentu yang lebih serius. Bahkan dalam tataran filosofis, humor merupakan media protes sosial yang paling cocok dengan karakteristik masyarakat kita yang tidak suka dikritik secara langsung.

Humor sebagai asupan senyum juga memiliki banyak sudut pandang. Logika humor adalah logika jungkir balik yang melibatkan realitas kehidupan keseharian. Kesimpulannya sulit diterka bahkan cenderung samar. Demikianlah cara kerja humor sehingga membuat orang secara otomatis tertawa terbahak-bahak. Perut seperti dikocok dan secara alamiah si pendengar akan melakukan senam pelemasan bibir.

Terkait dengan hal tersebut, kita bisa menyimak dari lelucon yang cukup fenomenal dan rasanya tak akan lekang digerus zaman. Seperti diceritakan bahwa Gus Dur menganalogkan DPR dengan Taman Kanak-kanak. Sontak statemen itu membuat para anggota dewan meradang.

Baca Juga:  Refleksi Futuristik atas Sejarah Manusia

Menurut orang Madura, anggota DPR itu mestinya tak perlu marah besar. Mereka itu masih beruntung disamakan dengan sesuatu yang tidak ada. Sebab, di Madura yang ada hanyalah Taman Nak Kanak (hlm 53).

Selain humor berbalut politik, Presiden Republik The Jancukers dalam buku ini juga menyuguhkan humor-humor yang identik dengan keseharian Suku Madura. Mayoritas cerita yang dituangkan sedemikian hidup dengan rajutan lelucon masyarakat Madura yang terkenal keras dan banyak akal.

Salah satu humor itu bisa kita baca dalam cerita Asuransi untuk Reformasi. Dikisahkan, orang Madura tak mau mengasuransikan mobilnya dengan alasan mahal. Anehnya ia justru membeli poster Jennifer Lopez dan menempelkan foto itu di kaca mobil bagian belakang. Nah, tepat di pantat Jennifer Lopez diberi lingkaran dengan dibumbui tulisan; “Jangan cem-macam. Pantat dia saja diasuransikan. Apalagi mobil ini!” (hlm 157).

Secara umum boleh dikata humor merupakan seni mengkritik tanpa melukai. Sebagai seni olah rasa, humor lebih banyak mengusung narasi kritik ketimbang lelucon yang hanya mengundang gelak tawa. Humor mengajak orang-orang berani menertawai dirinya sendiri, lawan-lawannya, pemerintahannya, kultur sosial dan budayanya sendiri.

Mengapa kemampaun menertawakan diri sendiri menjadi demikian penting? Dalam konteks tersebut patut kiranya kita simak tulisan jernih Gus Dur ketika memberikan kata pengantar dalam buku karya Zhanna Dolgopolova bertajuk Mati Ketawa Cara Rusia (1986):

“Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.”

Baca Juga:  Cerita Laki-Laki Tercengkeram Patriarki

Pendek kata, di tengah masyarakat yang terhimpit oleh aneka rupa persoalan, humor merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup sebuah masyarakat. Dengan itu warga masyarakat dapat menjaga jarak dari keadaan yang dinilai tidak benar. Salah satunya adalah sikap penuh pretensi, yang sama sekali tak sesuai dengan kenyataan.

Dari situlah kita bisa tahu mengapa secara umum masyarakat kita sejatinya sangat menyukai lelucon. Humor-humor itu seolah tak ada matinya. Saban hari seakan tak pernah henti diproduksi. Bahkan, bos Facebook, Mark Zuckerberg, pernah mengakui bahwa orang Indonesia saat membagikan joke-joke atau meme-meme selalu memiliki rating tinggi.

Dalam konteks tahun politik yang semakin menghangat bahkan cenderung memanas, hadirnya buku ini layak kita apresiasi. Humor-humor yang sarat mutiara hikmah ini bisa menjadi sejenis angin segar di tengah derasnya berita-berita bohong yang kian hari kian tak tertakar.

Nah, daripada kita sibuk menyebarkan hoaks di linimasa alangkah lebih elok jika kita tebar humor yang membuat orang lain bisa tertawa riang gembira. Mari ngakak bersama. Hilangkan dari hati; duka-lara.[]

Data Buku:

Judul : Kelakar Madura Buat Gus Dur

Penulis: H. Sujiwo Tejo

Penerbit : Imania, Bandung

Cetakan : Pertama, Januari 2018

Tebal : 200 halaman

ISBN : 978-602-8648-25-7

Gambar: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Pecinta buku. Alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini staf di Yayasan Tarbiyatul Wathon, Campurejo, Gresik.