Ulasan Film

Narasi Pop Aktivis Radikal

Posted on in Ulasan Film

Bagaimana jadinya seorang tokoh paling kontroversial—penulis, aktivis, dan pemikir radikal seperti Karl Marx digambarkan dalam sebuah film biopik?

Bayangkan saja, seorang Marx, yang namanya lekat di ingatan para penghayat ‘kidal’ dunia dan (tafsir) ajarannya masih termaktub dalam Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 sebagai Bapak Komunisme yang terlarang di negeri ini, lalu dirasionalisasi ke dalam medium sinematik. Ngeri-ngeri sedap!

Sejenis Der Junge Karl Marx atau Le Jeune Karl Marx pun akan pula bersinggungan dengan aral sudut pandang, misi dan subyektifitas kreatornya. Buang jauh segala ekspektasi; keakuratan sejarah, penokohan dan tafsiran ilmiah yang dapat mendistraksi kita untuk sekadar menikmati alternatif tontonan.

Kita tidak sedang menonton dokumenter di sebuah aula seni, kelas filsafat, atau layar-layar rahasia lalu mendiskusikan secara serius lingkup pemikirannya. Tidak pandangan pribadi Marx atas agama, pada aforisme sosial, kutub revisionis-ortodoks-revolusioner dalam praksis, determinisme ekonomi dalam relasi basis-suprastruktur, atau kritiknya pada Hegel di sebuah adegan yang hanya mengontraskan diri dari sang inspirator dengan pengakuan minim, “Saya seorang yang sangat materialis,” tanpa penjabaran lebih lanjut.

Tak dipungkiri, Marx adalah nama besar, peramu filsafat Hegel dan Feuerbach yang cukup jeli tapi tak cukup ampuh menawar bahkan mengalahkan candu kapitalisme yang sudah berkumandang angkuh sejak Tembok Berlin runtuh. Kapitalisme vs Sosialisme sudah tak lagi relevan, kecuali azimat populisme semata di ranah politik atau pemilu. Tanpa counter intelek Syariati dan Magnis Suseno pun, secara de facto kita ketahui bahwa resep utopia ala Marx, kalah. Sudah.

Apa rela seandainya Anda memiliki usaha yang susah payah dirintis sejak nol lalu menggurita, tiba-tiba diambil alih begitu saja oleh doktrin ‘kepemilikan bersama’ via aparatus proletariat yang dilegalkan negara atas dasar ‘sama rata sama rasa’, sementara dalam sebuah adegan pertemuan awal dengan Proudhon—tokoh intelektual anarkisme, Marx mengkritisi retorikanya; jika kepemilikan adalah sebentuk pencurian, apakah seseorang yang mencuri barang orang lain berarti dia mencuri dari seorang pencuri? Terdengar kontradiktif.

Mubazir rasanya membicarakan keadilan sosial atau perjuangan kelas pada realitas perdagangan dunia kini, franchise global, rentenir internasional, kapitalisme media, dan internet yang inheren di keseharian kita sedangkan di waktu lainnya menggebu-gebu memutar ulang ‘G30S’ dengan kualitas gambar rendah  di layar-layar outdoor di tengah semaraknya gejala ekstrem ‘kanan’ yang nyata.

Film yang sebagian besar berbahasa Jerman dan Prancis ini rilis tahun 2017 lalu lewat tangan Raoul Peck sebagai sutradara sekaligus penulis skenario bersama Pascal Bonitzer. Lewat film ini, Peck seolah ingin menyuguhkan konteks menyeluruh, menghindari glorifikasi klise tema biopik umumnya, sekaligus tak menafikan sisi hiburan.

Baca Juga:  Wadjda: Wajah Perempuan Saudi di Persimpangan Budaya Patriarki

Film dibuka dengan latar historis tahun 1843 saat tren monarki absolut tengah di ambang perubahan besar. Gejolak sosial-politik imbas dari angin setengah abad Revolusi Perancis yang mengembus Eropa, khususnya Jerman, memunculkan ragam kondisi kelaparan, resesi, dan krisis ekonomi. Di Inggris, Revolusi Industri melahirkan strata kelas proletar. Organisasi pekerja mulai terbentuk dalam lingkaran kecil.

Reinische Zeitung di Koln, sebuah kantor penerbitan yang sering berada di bawah tekanan sensor diserbu oleh petugas keamanan Prusia yang hendak mencokok siapa pun pekerja di dalamnya, terutama Karl Marx, penulis cerdas pemberani yang terlihat sedang membacakan artikel ‘Debates on the Law on the Thefts of Wood’, opini pedasnya yang mengutip Montesquieu tentang hukum sebagai pranata penuh ironi.

Di Manchester, pemilik pabrik Spinnerei Ermen & Engels dipusingkan dengan ulah perlawanan para buruh yang menyabotase mesin uap karena kesewenangan aturan jam kerja yang berlebihan. Biaya perbaikan mesin lalu dipotong dari upah para pekerja.

Tak ada yang berani mendebat, kecuali Mary Burns, pekerja perempuan Irlandia paling vokal, yang kemudian dipecat saat itu juga. Hal ini menyentak Friedrich Engels, putra sang pemilik pabrik, yang kemudian blusukan ke kawasan kumuh, pub murah tempat para working-class Irlandia menghabiskan waktu, untuk bertemu Mary yang sesaat telah memberi kesan tersendiri dalam hatinya.

Beberapa waktu kemudian di Paris, Jenny von Westphalen anak keturunan aristokrat Prusia, dengan semua kenyamanannya bersedia menikah dengan Marx, lelaki bokek yang digodanya dengan candaan “… Yahudi sosialis yang bahkan tidak dapat memberi makan keluarganya dari tulisan-tulisan subversif….”

Jika para redaktur cerpen, konon, sangat memerhatikan kalimat-kalimat paragraf awal yang menarik dan unik untuk meloloskan sebuah naskah cerita, sebagai penonton yang kerap kali ketiduran pada genre film sejenis (semisal The Motorcycle Diaries), 20 menit awal perkenalan empat karakter di atas cukup memberi kejutan manis yang efisien dan intens.

Plot film tampak berusaha setia pada tajuknya, lebih banyak bercerita tentang kehidupan pribadi dan orang-orang terdekat Marx di usia muda periode 1843-1848. Sesuai hikayat, kehidupan Marx tak pernah lepas dari persahabatan eratnya dengan Engels, duo kamerad yang sempat saling silang di pertemuan pertama namun rukun, saling respek, bahkan bersaudara secara ideologis di kemudian waktu.

Baca Juga:  Sajian Tiga Lapis Rasa dari Edwin

Percintaan yang kontras antara dua pasangan Marx-Jenny dan Mary-Engels, sekali lagi mengulang kisah roman klasik perihal dua karakter yang berbeda latar belakang dan tradisi. Perbedaan strata melebur dalam ikatan kasih yang saling menguatkan. Tegar tanpa kompromi, sekalipun kesulitan-kesulitan materi terus mengekor perjuangan.

Sosok Jenny mengingatkan saya pada Rose deWitt di Titanic. Perempuan kaya Trier paling cantik menurut Marx ini telah jatuh cinta pada sosok penulis-filsuf bohemian yang arogan, tukang kritik, keras kepala, penyuka cerutu murah yang tekun menulis semalam suntuk, satir, humoris, sekaligus hangat pada orang terdekat. Magnet Marx digambarkan sebagai pribadi yang kompleks.

“Saya lari dari kehidupan membosankan”, kata Jenny, sebab “… kebahagiaan memerlukan pemberontakan …. Dan saya berharap melihat dunia lama segera runtuh,” katanya suatu ketika pada Engels menjelaskan ihwal kebangsawanan yang ia tinggalkan demi hidup bersama Marx.

Empat karakter inilah yang mengisi hampir sebagian besar durasi, khususnya persahabatan Marx dan Engels dalam memperjuangkan cita-citanya lewat pergulatan ide dan teori yang berupaya memengaruhi para proletar, Hegellian muda, meski harus beradu panggung dengan Proudhon, yang lebih senior dan Weitling, si orator ulung. Sementara Bakunin, hanya muncul sesekali layaknya cameo yang nihil perdebatan proposisi.

Ia steril dari hardikan intelek seperti yang Marx lakukan pada Weitling, “Anda mengumpulkan pekerja tanpa doktrin konstruktif …. Kebodohan tidak akan menolong siapapun,” semburnya. Marx terlihat lebih menekankan pentingnya teori sebagai fondasi gerakan, bukan hanya niat, keinginan, kebahagiaan, demonstrasi perlawanan,  atau sekadar mencari harmoni universal.

Tokoh Engels sendiri kerap menuai peperangan batin. Penelitian bukunya, ‘Kondisi Kelas Pekerja di Inggris’, embrio sosialisme ilmiah yang memancing pujian Marx, lahir dari psikososial pribadi anak seorang borjuis pemilik pabrik yang dilematis. Skema kontradiksi memang digunakan Peck di sana-sini untuk menguatkan sejarah sekaligus dramatisasi.

Jika bukan Marx sebagai episentrum, film ini adalah panggungnya Engels (secara harfiah) si flamboyan, delegasi Brussels terpilih yang berbicara lugas di ‘League of The Just’ di London mengutip Kemiskinan Filsafat Marx—sebuah tanggapan atas The Philosophy of Poverty-nya Proudhon:

“Borjuasi tidak menunjukkan kelembutan pada kita (kelas pekerja), dan kalian tidak bisa mengalahkannya dengan kebaikan …. Semua orang bersaudara? Kau dan aku bersaudara karena sama-sama kelas pekerja, tetapi dengan borjuasi tidak! Mereka musuh kita! Antagonisme antara proletariat dan borjuasi hanya bisa berujung pada revolusi sepenuhnya!”

Satu kalimat Engels yang paling saya ingat, “Air mata tidak memberikan kekuatan. Kekuatan tidak meneteskan air mata,” terdengar begitu puitis.

Baca Juga:  Three Billboards Outside Ebbing, Missouri: Kontras-Kontras di Seputar Kekerasan

Pasca adegan sublimasi konsep ‘League of The Just’ yang bertransformasi menjadi ‘Communist League’ ini, keanehan lalu terpapar pada sosok Engels yang justru terkesan lebih terlihat revolusioner dan ‘berbahaya’. Peck bak tersinyalir punya misi tertentu, membuat sosok Marx seolah mendua; seseorang yang mengutamakan teori dan konsep, atau merestui praksis kekerasan?

Tapi sisi menyenangkan film ini (justru) terletak pada script dialog yang bernas dalam bingkai dialektika sebuah idealisme. Pembicaraannya tidak membosankan. Porsi setiap adegan cukup efektif mengikuti alurnya yang mainstream.

Terkecuali scoring music dan penggambaran mobilisasi massa yang ‘biasa saja’ untuk ukuran sebuah tema pergerakan, mise en scene segi setting, lanskap Eropa, kostum, khususnya penampilan dari para aktor seperti August Diehl, Stefan Konarske, dan Vicky Krieps yang kuat lumayan membekas sampai akhir pertunjukan. Kompleksitas karakter Marx dalam berbagai mood berhasil dihidupkan Diehl—eksponen Gestapo Nazi di Inglourious Basterds, secara matang.

Sebagai biopik yang menenteng nama Marx, film ini dibuat Peck ringan saja, tak muluk-muluk  berpretensi menjadi kolosal dengan perdebatan filsafat yang membuat kening berkerut, bahkan untuk siapapun yang awam soal figur Marx.

Tak ada glorifikasi pengkultusan. Kesadaran berserikat dan iklim sosialisme telah tumbuh di masyarakat Eropa sebelum Marx-Engels muncul ke permukaan. Gagasan mereka lahir dari konteks sosial yang ada.

Sepertinya Peck sengaja menghindari potensi ruam kontradiksi ‘pemikiran’ itu melebar, yang lewat tafsiran-tafsiran ideologisnya secara historis telah menciptakan kanal-kanal liar oleh tangan penuh kegilaan oknum penerus, seturut Weitling mewanti-wanti Marx, “Kritik akan melahap semuanya. Dan ketika tak ada yang tersisa, dia akan melahap dirinya sendiri.”

Cuplikan montase di akhir penutup menyiratkan bahwa implikasi negatif kapitalisme di era modern membuat ‘The Spectre’ tidak pernah tidak relevan beroposisi biner sebagai sebuah wacana, meski kita tahu, hegemoni kaum borjuis akan tetap membuatnya bernasib utopis, dengan niscaya.[]

Data Film

Judul : Der Junge Karl Marx atau Le Jeune Karl Marx atau The Young Karl Marx (2017)

Sutradara : Raoul peck

Genre : Biografi | Drama | Histori

Cast : August Diehl, Stefan Konarske, Vicky Krieps, Hannah Steele, Olivier Gourmet, Alexander Scheer.

Durasi : 118 Menit

Rating : 6.6/10 (IMDb), 7/10 (Cinenews), 63% (Metacritic), 57% (Rotten Tomatoes).

Poster: IMDb

Facebook Comments

Menulis puisi, prosa, dan esai, menetap di Bandung.