Resensi Buku

Haru di Gwangju 1980

Posted on in Resensi Buku

Rilis pada Agustus 2017, film A Taxi Driver menempati urutan kedua box office di Korea Selatan dengan penghasilan total $84.448.023, mengalahkan Spiderman: Homecoming di urutan keenam. Sebuah fenomena yang harus ditiru di dunia perfilman Indonesia, bahwa film drama sejarah based on true events ternyata juga sangat diminati publik Korea.

A Taxi Driver mengisahkan Jurgen Hinzpeter, reporter televisi Jerman ADZ yang berusaha menembus embargo tentara atas Gwangju dengan bantuan sopir taksi kuning bernama Kim Sa-bok. Dia berhasil mencuri gambar real time kondisi Gwangju, kemudian menyebarkan ke dunia internasional. Nama Hinzpeter lantas dikenal sebagai salah satu tokoh penting di kalangan pro-demokrasi.

Tergambar betapa pemerintahan dan tentara berusaha menjaga agar tidak terjadi kebocoran informasi ke dunia luar perihal gejolak Gwangju, sebuah pengalaman visual tentang salah satu fragmen sejarah berdarah di Korea Selatan.

A Taxi Driver cukup menjadi komplemen dalam membaca Mata Malam karya Han Kang. Meskipun novel ini terbit pertama kali dalam edisi Korea pada tahun 2014, tiga tahun lebih awal dibandingkan film, tetapi keduanya berhasil membangun nuansa Gwangju di tahun 1980, ketika terjadi pergesekan antara tentara dan sipil.

Gwangju di tahun 1980, atau tepatnya ketika terjadi gelombang protes sipil sejak tanggal 18 hingga 27 Mei 1980, begitu mencekam. Bahkan beberapa tahun setelahnya, kejadian itu masih menjadi topik sensitif untuk muncul di publik. Masyarakat sipil ketakutan, seolah moncong senjata tentara siap melesatkan peluru ke kepala mereka sewaktu-waktu.

Salah satu sumber tertulis terkait peristiwa ini ialah sebuah buku berjudul Gwangju Diary: Beyond the Death, Beyond the Darkness of the Age. Buku yang sempat dilarang beredar ini adalah serangkaian catatan para aktivis yang terbit tahun 1985. Buku ini terbit di bawah nama pena Nömö nomo (jauh yang jauh).

Han Kang menemukan ceceran fakta perihal pembantaian di Gwangju ketika dia berusia 12 tahun. Sebuah album memorial yang diambil rahasia oleh wartawan asing tertumpuk di bagian belakang rak buku agar Han Kang dan saudara-saudaranya tak membacanya. “Aku ingat ketika pandanganku tertuju kepada wajah wanita muda yang dimutilasi, wajahnya terpotong mata bayonet,” tulis Han.

Baca Juga:  Selamat Datang di Angkringan Ninuk

Orang tua Han Kang sebagaimana orang-orang Korea Selatan lainnya jarang mengungkapkan sejarah berdarah tersebut. Momen tersebut mengendap hingga Han Kang dewasa dan menyimpan dua pertanyaan besar akan peristiwa Gwangju; bagaimana manusia bisa begitu kasar dan kejam, dan apa yang bisa orang-orang lakukan untuk melawan kekerasan ekstrem itu.

Dan Han Kang yang telah bercita-cita menjadi penulis sejak usia 14 tahun, memilih memperjuangkan keadilan melalui buku, melalui Human Acts. Melalui karya-karyanya kemudian, Han Kang telah menjadi aset dunia. Semenjak Vegetarian menjadi pemenang Man Booker International Prize 2016, Human Acts memenangi hadiah sastra bergengsi Italia Malaparte Prize. Dan kembali buku edisi bahasa Inggris terbarunya, The White Book, dinominasikan untuk Man Booker International Prize 2018. Sebuah sanjungan dunia untuk sastra Korea Selatan.

Melalui novel Mata Malam, versi Indonesia dari Human Acts, Han Kang mencoba merekonstruksi tragedi  Gwangju. Novel ini terbagi atas enam fragmen yang dimulai dari 1980 hingga 2013 dengan suara masing-masing berbeda.

Tokoh utama yang ingin Han Kang soroti adalah Dong-ho, remaja berusia lima belas tahun. Keenam suara ini mewakili berbagai pihak yang langsung maupun tidak menjadi saksi dan kemudian mengisahkan dari sudut pandang masing-masing.

Dong-ho secara tidak sengaja terlibat dalam peristiwa Gwangju. Semula Dong-ho hanya bermaksud mencari sahabatnya, Jeong-dae yang tidak juga pulang. Jeong-dae tinggal di rumah Dong-ho, semacam loteng yang disewakan. Di pusat informasi, Dong-ho mendengar Jeong-dae tertembak dan bersama semua mayat dikumpulkan di pusat gimnasium. Di sanalah, Dong-ho menyaksikan tumpukan mayat dan berbagai kekhawatiran muncul.

Dong-ho menjadi relawan di aula gimnasium sambil terus meneliti kemungkinan menemukan jenazah Jeong-dae. Malam itu, delapan puluh tiga peti berisi jenazah datang. Dong-ho bertugas memberi nama dan nomor pada peti. Hujan sebentar lagi turun, dan Dong-ho, sebagaimana para relawan yang  meyakini bahwa hujan adalah air mata roh, semakin yakin malam itu Gwangju benar-benar didera haru. Ternyata air mata roh itu dingin, kata Dong-ho saat air hujan masuk ke balik kemejanya.

Baca Juga:  I Am Sarahza: Latihan Panjang Mensyukuri Kehidupan

Pada fragmen selanjutnya, Han Kang bermain di area surealis, yakni membuat mayat Jeong-dae yang berada dalam tumpukan mayat bersuara. Aku bukan lagi Jeong-dae. Aku merasa aneh karena kekuatan besar muncul, yang bukan karena kematian, melainkan karena pikiran-pikiran yang tak kunjung berhenti, suara mayat itu menebar kengerian.

Suara Jeong-dae ini menjadi bagian penting yang menegaskan kekhasan Han Kang; simbolisasi tubuh. Bila dalam Vegetarian Han Kang menerjemahkan tubuh perempuan sebagai simbol perlawanan stereotip budaya Korea Selatan, dalam Mata Malam tubuh lebih bukan lagi sekadar simbol, melainkan bentuk perlawanan itu sendiri.

Bahkan saat jiwa dalam tubuh itu direnggut, suara-suara mereka masih mempertanyakan rasa humanisme, menuntut keadilan. Di mana posisi kemanusiaan, di tubuh manusia yang masih hidup atau bersama jiwa mereka yang menjadi korban?

Meminjam kalimat Han Kang, bila manusia sudah sedemikian brutal dan kekerasan tidak bisa dihindari, Mata Malam mempertanyakan bagaimana manusia memperjuangkan hak hidup.

Pertanyaan bagaimana memperjuangkan hak hidup ini juga disuarakan oleh fragmen ketiga di tahun 1985, yang berkisah bagaimana seseorang editor berjuang menyuarakan salah satu buku yang berkisah tentang Gwangju. Walau harus menerima tujuh tamparan di depan umum, perempuan ini tetap berusaha agar semua tulisan muncul tanpa dipotong oleh dewan sensor. Terlebih buku itu akan terbit saat mulai terjadi gelombang protes presiden, “Gulingkan Chun Doo Hwan si Penjagal”

Bagian Besi dan Darah menjadi bagian paling kontempelatif. Han Kang mengisahkan mantan narapidana yang juga adalah mantan tentara sekaligus eksekutor di peristiwa Gwangju. Dalam fragmen ini diketahuilah bahwa tidak hanya tentara yang dipersenjatai militer untuk melawan sipil. Bahkan tidak sedikit para mahasiswa yang dipersenjatai untuk menembak sesama sipil.

Hari itu tentara dijatah 800 ribu peluru, sedangkan penduduk Gwangju saat itu berjumlah 400 ribu. Tentara berhak mencabut dua kematian. Senada dengan penuturan Han Kang, bahwa Gwangju 1980 adalah arena pembunuhan yang dilakukan terus menerus. Pembunuhan yang bukan bertujuan menegakkan kebenaran. Pembunuhan di siang bolong yang bahkan disarankan oleh petinggi negara.

Baca Juga:  Panduan Mengejek Kehidupan Serius

Cha Ji Cheol, sekretaris kepresidenan waktu itu, dengan tegas mengatakan, “Kamboja membunuh dua juta orang. Tidak ada alasan Korea Selatan tidak bisa melakukan hal yang sama.”

Kekerasan telah menjadi tontonan sekaligus ajang pemusnahan kelompok yang tidak satu pemahaman. Mata Malam hanya satu dari sekian banyak cara mengabadikan bahwa pernah ada masa-masa kelam menyelimuti Korea Selatan, negeri yang tampak glamour oleh budaya popnya. Selain peristiwa Gwangju, Korea Selatan pun menyimpan luka perang lainnya; invasi Jepang, perang saudara dengan Korea Utara yang sampai sekarang masih penuh ketegangan.

Enam suara dalam Mata Malam menjadi elaborasi komplet atas sebuah peristiwa berdarah Gwangju. Tidak melulu dari suara korban, juga pelaku. Tidak terbatas usia dan gender. Kekerasan adalah lawan kemanusiaan sekaligus mendiskreditkan hak hidup individu.

Usai membaca buku ini, kita akan dibukakan realitas bahwa di balik budaya hallyu yang diekspor secara masiv itu, Korea Selatan juga menyimpan episode kelam kemanusian, fase berdarah. Sejarah berdarah pernah yang terjadi hampir di semua negara di dunia, pun Indonesia.

Tidak jauh berbeda dengan Gwangju, Indonesia pernah mengalami peristiwa senada di Mei 1998. Peristiwa 1998 di Indonesia juga telah diabadikan dalam novel Laut Bercerita (2017) karya Leila S Chudori.

Sama-sama mengangkat kekerasan dan penuntasan keadalian, sama-sama diselipi aroma surealis. Meski tentu keduanya memiliki timbangan yang tidak apple to apple untuk disetarakan. Novel ini bisa jadi cara baru untuk mengabadikan luka di Korea, sekaligus cermin untuk Indonesia sebarapa jauh mengupayakan penuntasan kasus serupa.[]

Identitas Buku

Judul: Mata Malam (Human Acts)

Penulis: Han Kang

Penerbit: Penerbit Baca

Tebal: 257 hal

Edisi: Pertama, November 2017

ISBN: 9786026486127

Gambar: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Pegiat Klub Baca.