Ulasan Film

Oh, Snap! – Ulasan Film Avengers: Infinity War

Posted on in Ulasan Film

Mustahil rasanya menghindari euforia Avengers: Infinity War dewasa ini, bahkan bagi Anda golongan kurang piknik yang menganggap rendah film superhero. Sebagai konsumen target, saya sejujurnya sudah bosan dijejali formula film superhero yang tidak banyak menawarkan pembaruan. Setidaknya, itu yang saya katakan enam tahun lalu sebelum menonton The Avengers.

Dalam Ilmu Ekonomi, law of diminishing returns secara singkat menjelaskan bahwa input harus dijaga proporsional terhadap kapasitas produksinya untuk mendapatkan output optimal. Bukan, saya bukan ingin membuat prediksi pendapatan box office dari Infinity War. Dengan menerapkan hukum ini—dan sedikit licentia poetica—saya mencoba memahami konsep dasar ketiga film Avengers itu sendiri.

The Avengers menetapkan norma baru bagi film-film blockbuster dengan menggabungkan enam pentolan Marvel Cinematic Universe ke dalam grup eponim. Film ini menandakan bagian pertama yang biasa disebut fase increasing return.

Tiga tahun kemudian, Avengers: Age of Ultron memperkenalkan sejumlah karakter (input) baru. Hasilnya, reaksi terhadap Age of Ultron masih terhitung positif meski sering dianggap inferior dibanding pendahulunya. Ini merupakan fase diminishing return.

Mengikuti tren ini, seharusnya Infinity War memasuki fase negative return mengingat jumlah jagoan super yang terlibat saja setidaknya tiga kali lebih banyak. Tapi rupanya teori di atas kertas tidak selalu merefleksikan fakta di lapangan.

Membagi dua setengah jam durasi film kepada 35 karakter utama secara sepadan bukanlah pekerjaan mudah. Maka dari itu, apresiasi berlebih harus diberikan pada duet penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely yang berhasil mencegah film ini menjadi tontonan teruk yang serba berlebihan.

Berkat mereka pula Avengers: Infinity War tidak pernah terasa terseret-seret ataupun terburu-buru kendati memiliki tiga sampai lima plot besar yang saling bersimpulan. Alur cerita selalu berjalan dengan tensi tinggi lantaran dua pertiga bagian film diisi adegan aksi skala besar, sementara sisanya adalah persiapan dari aksi tersebut dan jual-beli lawakan antara orang-orang bawel.

Baca Juga:  Mission: Impossible - Fallout: Jalan Memutar Menuju Titik Awal

Sayangnya, pendekatan ini memiliki konsekuensi tersendiri. Tidak banyak waktu yang diberikan kepada para pendekar paling sakti sedunia ini untuk mengembangkan karakternya. Kebanyakan dari mereka datang dan pergi begitu saja bagaikan bayangan dari pribadinya yang telah direduksi ke beberapa poin sederhana.

Stark dan Strange adalah dua orang tinggi hati; Black Widow kini berambut pirang; Peter Parker adalah bocah millennial; sementara Steve Rogers banyak berdiam diri dan membiarkan berewoknya memancarkan keluhuran.

Namun, penyederhanaan ini tak lantas menjadi nilai cacat.

Dilihat secara individual, tidak sepenuhnya salah untuk menilai Infinity War sebagai film yang terlampau bising, di mana karakter-karakter kopong berseliweran tanpa motivasi terang. Tapi perlu diingat, bukan tanpa alasan Marvel Studios merilis 18 film selama satu dekade ke belakang. Melalui film-film tersebut, sepotong dialog atau selayang pandang dapat menjabarkan berlapis-lapis kontekstualitas di Infinity War.

Bagi Anda yang kebetulan penggemar Breaking Bad, coba jelaskan bagaimana bunga bakung lembah bisa memiliki pemaknaan yang begitu keji kalau bukan karena 45 episode yang mendahuluinya. Ya, ketimbang sebagai film tunggal, Infinity War lebih bisa disetarakan sebagai episode pamungkas dari sebuah serial televisi.

Berhubung mayoritas karakter telah padat terbangun, Infinity War bisa sepenuhnya berfokus pada Thanos dan obsesinya untuk mengoleksi infinity stones, enam batu akik maha ajaib yang pada hakikatnya adalah dragon ball versi MCU.

Menggunakan keenam infinity stones, Thanos dapat mewujudkan cita-cita mulianya, yaitu melenyapkan setengah populasi alam semesta dalam satu jentikan jari. Untuk seorang tokoh yang digadang-gadang sebagai antagonis paling beringas selama enam tahun terakhir, agaknya sulit untuk mencari motivasi yang lebih pantas. Meski begitu, ia tidak semata-mata hadir sebagai penjahat yang sekadar jahat.

Baca Juga:  Tengkorak: Film Nekat Nihil Substansi

Thanos tidak digambarkan sebagai tiran perkasa atau seorang megalomaniak yang kelewat menggelikan seperti di lembaran komiknya. Ia memandang genosida sebagai solusi pragmatis untuk mengembalikan kesetimbangan semesta yang sudah tidak mampu menampung seluruh populasinya.

Sebelum Anda berpendapat masih banyak solusi lain yang lebih manusiawi, perlu ditekankan bahwa kita sedang membicarakan film yang menyuguhkan petualangan seekor rakun jahil dan dewa Nordik di luar angkasa—lagi pula, diskusi demi kemaslahatan umat adalah tindakan para pecundang!

Merasionalisasi genosida bukanlah kegiatan yang digemari orang “bermoral” pada umumnya. Tapi melihat latar belakang Thanos sebagai penyintas Planet Titan yang punah akibat overpopulasi, dapat dipahami bagaimana mentalitas utilitarian ini mengakar kuat. Konon, ia diasingkan dan dianggap sinting karena ingin mencegah kepunahan tersebut dengan menghabisi setengah populasinya secara acak, tanpa memandang kelas, ras, atau afiliasi politik.

Dari perspektif Thanos, muncul konsistensi tematik di tengah kesemrawutan naratif ini.

We don’t trade lives,” tegas Steve Rogers saat Vision menawarkan diri untuk berkorban dengan menghancurkan mind stone di jidatnya. Jawaban tersebut menunjukkan seberapa naif dan istimewanya tuntunan moral yang ia pegang teguh. Steve Rogers tidak berpikir dua kali untuk melindungi kameradnya tanpa pernah memperhitungkan gambaran yang lebih besar.

Sebagai antitesis, Thanos tidak ragu untuk menghalalkan segala cara agar setengah populasi semesta yang selamat dari aksinya bisa hidup makmur dan sejahtera. Setelah itu, dia cuma ingin menjadi pertapa, hidup sederhana sebagai petani sambil menikmati matahari terbit.

Lebih dari ancaman fisik, Thanos merupakan perwujudan ekstrem dari masalah moralitas Kantian pahlawan super. Memang, aneh rasanya memantik percakapan filosofis tentang moral dan etika dengan Infinity War, di mana salah satu karakternya adalah mantan ahli bedah syaraf yang banting setir menjadi dukun. Tapi entahlah, mungkin 70 ribu redditor di /r/thanosdidnothingwrong punya pendapat lain.

Baca Juga:  Si Mulut Besar yang Antimati

Berbeda dengan Joker versi The Dark Knight yang terabadikan sebagai “poster boy” anarkisme berkat konsep ideologis mewahnya, Thanos justru menjantang karena sisi sentimental yang ia miliki. Melanjutkan tradisi MCU, interaksinya dengan Gamora menghadirkan sudut pandang lain dari permasalahan paternal yang sudah lama menjangkiti Tony Stark, Peter Parker, Star-Lord, hingga yang terbaru T’Challa.

Di balik pembawaannya yang serba tenang dan terukur, terdapat batin yang terenyuh saat menerima kenyataan kalau dia baru saja kehilangan sosok terpenting dalam hidupnya. Tentunya, kompleksitas Thanos tidak akan beresonansi jelas dengan penonton tanpa akting kaliber tinggi Josh Brolin dari balik sensor-sensor motion capture.

Mau tidak mau, mengetahui karakter mana yang meregang nyawa di Infinity War sudah terasa seperti mendengar teriakan bocah yang memperingatkan kedatangan serigala dalam Fabel Aesop. Untungnya, tragedi Thanos memberikan bobot emosional yang lebih membekas ketimbang melihat berlusin-lusin karakter lain yang berubah menjadi debu dalam sekejap.

Walaupun menyandang nama Avengers pada judulnya, tidak bisa dipungkiri kalau Infinity War sejatinya menempatkan Thanos sebagai jangkar naratif. Dengan pendekatan tanpa basi-basi yang mampu menyeimbangkan corak dramatis dan absurditas komik, film ini menjadi buah termanis dari eksperimentasi Marvel Studios selama 10 tahun terakhir. Lupakan deretan film Star Wars dan Harry Potter. Avengers: Infinity War adalah definisi baru dari film blockbuster generasi ini.[]

Data Film:

Sutradara : Anthony dan Joe Russo

Genre : Superhero/Action/Adventure

Cast : BANYAK.

Durasi : 149 menit

Studio : Marvel Studios

Rating : 8.8/10 (IMDb), 84% (Rotten Tomatoes)

Sumber gambar: IEmpire

Facebook Comments

Filmmaker kacangan, wartawan serampangan.