Resensi Buku

Selamat Datang di Angkringan Ninuk

Posted on in Resensi Buku

Novel Ninuk bersampul warna biru, dengan gambar perempuan berambut kriwil dan berpipi gembung minta dijawil yang menggenggam punuk ceret di tangan kanan dan gelas di tangan kiri. Latar sketsa Lawang Sewu menambah clue bahwa salah satu Gemblongers Series ini ber-setting di Kota Semarang. Bersama tiga kawan kenthelirkentel plus kenthir—Mbak Retni Sb ikut berkolaborasi membuat novel dewasa muda yang mengangkat tema berbeda.

Tidak banyak memang novel teenlit atau young adult yang menyoroti tokoh remaja dari kalangan menengah ke bawah. Hampir sebagian besar nuansa novel remaja yang sedang menjamur berkutat tentang kehidupan modern kalangan atas. Remaja pinggiran seolah terlupakan. Bolehlah novel ini dibilang katro dan sedikit enggak gaul, tapi kisah Ninuk ini layak untuk dituturkan dan dibaca oleh semua kalangan.

Faktanya, tidak semua remaja di Indonesia itu bisa nongkrong di mal, makan makanan khas luar negeri, bisa menyesap kopi segelas seharga lima puluh ribu, bahkan untuk traveling ke luar benua itu seperti mimpi.

Ya, di negara kita ini masih banyak remaja yang harus berpikir keras untuk sekadar bertahan hidup dan membiayai kuliah ketimbang menuruti kegalauannya mau potong rambut gaya Gigi Hadid atau Emma Watson.

Sebelum mengulas tentang buku ini, izinkan saya sedikit bercerita tentang proses lahirnya series yang berjudul Ninuk, Mara, Diajeng, dan Alin. Penggagas pertama Gemblongers Series adalah Mbak Netty Virgiantini. Konon, penulis kocak ini mendapat inspirasi setelah membaca sebuah buku tentang cewek strong, seorang driver ojol. Berangkat dari itu, penulis Mahluk Tuhan Paling Katrok ini menggagas sebuah ide series tentang cewek kuat.

Setelah melewati masa inkubasi ide dan diskusi dengan editor tercinta, Mbak Netty akhirnya mengajak pasukan kenthelir-nya, Mas Wien, Dik Sophie Maya, dan Mbak Retni Sb untuk bareng-bareng merealisasikan proyek ini. Setelah melewati drama yang tidak sedikit, ujian dari sang Khalik, serta hantaman truk yang sempat mematahkan tangan Dik Sophie, Gemblongers Series akhirnya lahir. Meskipun sempat terseok-seok karena kecelakaan nahas itu, alhamdulillah keempat-empatnya bisa lahir sehat, ginuk-ginuk, dan sudah gentayangan di seluruh toko buku seluruh nusantara.

Baca Juga:  Osamu oleh Dazai

Lalu, kenapa harus Gemblong sih?

Pasti akan ada pertanyaan semacam itu. Kalau sama-sama niatnya ingin mengangkat salah satu makanan khas Semarang, kenapa nggak lumpia, tahu gimbal, tahu petis, atau bandeng presto? Ketika saya tanyakan kepada Mas Wien, penulis Mara dan editor series ini, dia menjawab: justru dengan memilih makanan yang jarang diekspos, diharapkan bisa mengangkat gemblong menjadi kuliner kota Semarang yang diperhitungkan untuk dicoba oleh khalayak.

Selain itu, filosofi gemblong memang terasa pas dan cocok untuk menggambarkan keempat tokoh series ini yang masih saudara sepupuan. Erat, lekat, dan kuat. Terbuat dari beras ketan dan santan kelapa yang dimasak hingga lengket kemudian dipukul-pukul untuk menghasilkan gemblong yang liat, kenyal, dan rekat.

Bukankah untuk mendapatkan hubungan yang erat dan kuat, perlu timpaan berkali-kali untuk menguji? Simbolisasi dari makanan berwarna putih susu ini persis hubungan kekerabatan dan persahabatan empat sepupu tadi. Ya, selain fakta bahwa mereka berempat memang doyan banget makan gemblong.

Beda lagi di daerah saya—adat Jawa. Pemaknaan gemblong ini lebih kepada adat melamar seorang perempuan. Calon mempelai pria wajib membawa berloyang-loyang gemblong saat melamar. Simbolisasi sebuah harapan agar ikatan tali pernikahan yang segera dilakukan bisa kuat, liat, dan lengket seperti gemblong. Bahkan, pertanyaan dia sudah digemblong atau belum, menjadi hal lumrah bagi seseorang yang ingin tahu apakah perempuan itu sudah ada yang nggemblongi (memiliki) atau belum.

Novel ini sendiri bercerita tentang Ninuk, remaja perempuan yang hanya hidup dengan ibunya. Sepuluh tahun lalu bapaknya tiada dan meninggalkan sebuah gerobak angkringan sumber kehidupan keluarga kecil mereka. Dua perempuan yang setiap sore sampai malam menjual nasi kucing, aneka sate, berbagai rupa klethikan, gorengan hangat, dan aneka wedang dan es, tidak akan terbebas dari gunjingan dan persepsi buruk beberapa kalangan.

Baca Juga:  Andy Warhol, Sang Raja Sablon

Apalagi status ibunya Ninuk itu janda morakdoh—muda orak, tuwa adoh. Malam-malam sepi di pinggir jalan dengan angkringan remang akan menimbulkan banyak fitnah dan pelecehan.

Sungguh, kenyataan tersebut bukan hal yang mudah bagi kedua perempuan itu. Apalagi, tidak bisa dipungkiri penikmat angkringan mulai berkurang. Pelanggan mereka banyak berpindah ke tempat-tempat yang terasa lebih nyaman; lampu terang, punya wifi kencang, dan meja kursi yang memadai. Hanya pelanggan setia orang-orang jadul yang masih sering mampir di angkringan Ninuk.

Dua persoalan itulah yang membuat Ninuk memberanikan diri untuk menerima tawaran Dito—salah satu mahasiswa sefakultas Ninuk—untuk melakukan kerja sama. Dito memiliki ide membangun sebuah angkringan modern dengan konsep kafe-kafe kekinian namun dengan menu khas angkringan. Angkringan Urban, dia memberi nama.

Meskipun sahabat dekat Ninuk, si Jangkrik, melarang, Ninuk tetap bertahan dengan keinginannya menjadi mitra Dito. Dia sudah bosan dihina dan tidak sampai hati melihat ibunya sakit-sakitan karena angin malam. Perkara wajah Dito yang tampan bersih dan berseri-seri itu ya cuma bonus.

Selain menceritakan tentang usaha Ninuk menjalankan bisnis angkringan ini, romansa Ninuk, Dito, dan Jangkrik pun menjadi bumbu yang menggenapkan novel ini. Jujur, saya sangat menikmati membaca novel ini. Sesekali saya mesem, berkali-kali saya semi-ngakak, dan entah berapa kali hati saya hangat oleh kisah Ninuk.

Dialog khas Semarang yang medok itu berhasil membuat saya terbahak. Bahkan saya bisa membayangkan si Ninuk dengan rambut kriwil dan pipi tebal itu ngomong. Asal njeplak. Wah, apalagi kalau sedang ngobrol sama Jangkrik, sudahlah, kenthir tenan! Guyonannya itu bikin saraf tertawa saya tertusuk-tusuk.

Menyesap kisah Ninuk, saya juga diajak oleh Mbak Retni untuk bernostalgia dengan kota tempat saya kuliah, indekos, dan pergaulan saya di sana. Setting area kampus Undip, Tembalang, sukses besar membangkitkan memori saya beberapa tahun silam. Perjuangan menunggu dosen yang sibuknya melebihi penyanyi dangdut papan atas, begadang mengerjakan skripsi, dan tentu mencari uang untuk kebutuhan hidup. Jika Ninuk dengan jualan, saya cukup jadi mentor di salah satu bimbel.

Baca Juga:  Tafsir Cinta ala Erich Fromm

Menyoal perkara kualitas tulisan, Mbak Retni Sb sangat piawai dalam menjalin konflik dan sub-konflik hingga tidak terjadi timpang tindih antarmasalah. Alur berjalan lancar dan tidak terseret-seret. Saya pun dibuat puas dengan akhir penyelesaian masalah-masalah Ninuk. Tidak kaget, karena penulis senior ini sudah lama malang melintang di dunia literasi.

Namun, saya menemukan beberapa typo (salah tik). Awalnya saya ragu, apakah memang sengaja dibuat seperti ini. Setelah saya cek, ternyata memang itu typo. Yang sangat kentara adalah saya temui kalimat menghirup karbon dioksida—bukannya dalam pernapasan yang dibutuhkan oksigen?

Kemudian ada salah satu adegan yang terlalu klise sebab formulanya sudah terlalu sering digunakan oleh penulis atau pembuat film. Ketika Ninuk berada di kampus, Dito yang ingin menemuinya secara tidak sengaja malah mendengar suatu obrolan yang menguak sebuah kebenaran menyakitkan, mengingatkan saya pada Siska saat mendengar kenyataan pahit dari Leo di Badai Pasti Berlalu.

Lepas dari itu, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Mbak Retni, yang telah mengajak saya berjalan-jalan kembali di kota Tembalang. Mengajak saya menikmati hangatnya angkringan yang penuh candaan, obrolan renyah, dan ejekan-ejekan yang harus dibalas dengan tawa. Buku ini sangat direkomendasikan kepada para generasi muda jaman now. Bahwa hidup itu penuh perjuangan dan layak untuk diperjuangkan.

Ninuk, potret cewek kuat yang memberi kita pelajaran tentang semua itu.[]

Data Buku:

Judul buku : NINUK; Angkringan, Jangkrik, dan Cinta yang Bergentayangan

Penulis : Retni Sb

Editor : Wiwien Wintarto

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman : 264 halaman; 20 cm

ISBN : 9786020380612

Genre : Young Adult

Gambar: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Jebolan Kampus Fiksi dan GWP 3 yang sedang sibuk menunggu karya barunya lahir. Doakan novelnya lahir sehat, ginuk-ginuk, dan dicintai banyak orang.