Ulasan Film

Hakikat Merdeka: Menjadi Muda dan Otentik

Posted on in Ulasan Film

Di sore yang ramai itu saya terperangkap dalam obrolan dua orang perempuan yang salah satunya berencana melanjutkan studi ke Eropa, sementara satu lainnya baru saja pulang dari Belanda dan sedang kangen-kangennya mengobrol di Indonesia. Mereka berbincang soal perbedaan kultural antara Jawa dan Sunda juga Belanda, lalu soal visa, pekerjaan, dan hal-hal yang tidak terlalu penting namun menarik sebab merupakan pengetahuan baru buat saya.

Obrolan itu melompat ke sana kemari, sampai akhirnya menempatkan saya sebagai bagian darinya ketika salah satu dari mereka menyinggung soal rencana saya untuk jalan kaki dari Jakarta sampai puncak gunung Rinjani, Lombok. Kamu harus nonton Into The Wild! katanya dengan nada memerintah. Lalu saya tanya, tentang apakah film ini?

Seorang anak muda yang kecewa pada masyarakatnya, pada dunianya. Selesai kuliah, dia memutuskan untuk kabur dari rumah, menyumbangkan seluruh tabungan yang dia punya, juga membakar uang yang tersisa di sakunya, bermodal ransel, menggembel selama dua tahun. Menurutnya, uang adalah racun yang melahirkan banyak kepalsuan dan hidup akan lebih murni jika dijalani tanpanya. Mirip kan dengan isi kepalamu?

Tapi apa cuma itu alasan dia kabur dari keluarganya? Maksudku, itu naif sekali. Apa dengan begitu dia pikir dia bisa membuat dunia lebih baik, bisa bikin politikus jadi lebih jujur, atau membuat orang-orang kaya jadi lebih dermawan? Jelas tidak.

Dia tumbuh dalam keluarga yang berantakan—sebetulnya tidak teramat parah, tapi yang jelas, ayahnya kerap memukul ibunya, dan kedua orang tuanya punya obsesi yang besar terhadap kekayaan dan posisi, khas mimpi orang Amerika. Si Christopher McCandles, tokoh utama yang menyebut dirinya sebagai Alexander Supertramp, gemar membaca—dan bahkan terinspirasi oleh—Thoreau dan Tolstoy.

Dia manusia otentik yang terasing dalam rumahnya sendiri. Salah satu kata-kata Thoreau dikutipnya secara emosional ketika berbincang soal hubungan antarmanusia, “Rather than love, than money, than fame, than fairness… give me truth.” Dan ini kisah nyata. Kamu bisa mengecek sosok asli McCandles di Google. Aku nangis ketika film ini sampai ending. Harusnya endingnya tidak begitu.

Pada masa itu Ganool masih eksis, sehingga saya dengan mudah menemukan film ini. Saya lantas menontonnya dengan teliti, mencari-cari kelemahannya, sebagaimana yang selalu saya lakukan. Sayangnya, usaha itu gagal. Saya terpukau oleh Emile Hirsch, pemeran McCandles, yang tampil dengan total dan betul-betul menyerupakan dirinya dengan sosok asli McCandles.

Di matanya, kita bisa melihat amarah dan semangat seorang anak muda yang bergelut dengan ide-ide besar, yang berusaha memahami dunia sekaligus terjebak di dalamnya. Sebuah pencarian, yang juga pernah mendorong Siddharta kabur dari istananya, mempertemukan McCandles dengan banyak orang—yang beberapa di antaranya jelas dia benci secara konseptual.

Baca Juga:  Mission: Impossible - Fallout: Jalan Memutar Menuju Titik Awal

Perjumpaan-perjumpaan itu memberinya kesadaran bahwa manusia, dengan segala boroknya, tidaklah segagal yang ia lihat dalam berita-berita atau yang ia baca dalam buku-buku atau yang ia sangka dalam kepalanya. Di lain pihak, karakternya yang kuat memberi kesan yang mendalam bagi orang-orang yang ditemuinya itu. Mereka menjadi manusia yang berbeda setelah jumpa dengannya.

McCandles, sebagaimana kata kawan saya, merupakan sosok yang otentik—dalam batasan bahwa otentisitas bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan suatu gairah yang diekspresikan dengan jujur, dengan utuh, sehingga seorang manusia hidup dalam gerak dan pikir yang solid meski harus berbenturan dengan yang lain.

Kita bisa saja tak setuju dengan McCandles dalam banyak hal, tapi kita tak bisa membencinya, sebab kita tahu bahwa dia tidak sedang mencari pengakuan ataupun persetujuan, dan semua yang dia katakan, semua yang dia kerjakan, dituang langsung dari kejernihan jiwanya. Di dalam dirinya sendiri, McCandles sadar bahwa dia manusia yang merdeka dan tak bisa dikendalikan orang lain.

Dia yakin bisa meraih apa pun meski kerap bingung tentang apa dia inginkan sebab cita-citanya lebih banyak tentang orang lain, tentang sebuah kondisi ideal masyarakat atau dunia yang sulit untuk dicapai.

Kekecewaan yang didapati McCandles, dalam berbagai bentuknya, telah mendorong banyak orang lari dari kehidupan dan menjadi pejalan, petualang, pencari, yang akhirnya bisa menggerakkan sebuah generasi. Buah pikiran mereka, atau karya-karyanya, atau langkah-langkahnya, kerap menjadi pioneer yang membawa sebuah masyarakat selangkah lebih maju.

Kendati kisah hidup McCandles tidak seheroik para nabi, dia telah menancapkan jejaknya yang tegas dan kita akan terus menziarahinya, tidak hanya sebagai sebuah tubuh, melainkan juga sebuah ide. Maka, ketika kita menyaksikan McCandles berpetualang dari Selatan Amerika, sempat mampir ke Meksiko, melanglangbuana di Barat Amerika, lalu bergerak ke utara sampai belantara Alaska, yang kita saksikan adalah sebuah ide yang bersentuhan dengan ide-ide lain; perjalanan yang berisi benturan-benturan yang tidak hanya menciptakan peristiwa, melainkan juga kesadaran.

Film ini berhasil melakukan tugasnya dalam mengemas “McCandles”. Ia memberi bentuk lain kepada ruh anak muda itu yang sebelumnya dituliskan oleh Jon Krakauer dalam buku yang berjudul sama.

Di Alaskalah McCandles mendapatkan momen profetiknya, di mana akhirnya dia menyadari bahwa “Happiness only real when shared”. Dalam perjalanan saya ke Lombok, beberapa kali saya berjumpa dengan momen ketika alam menunjukkan keindahannya, berupa pemandangan sore di pantai yang terpencil dan saya memunguti kerang-kerang untuk makan malam.

Baca Juga:  Dağ II: Pilihan Patuh pada Misi atau Kemanusiaan

Atau kabut yang terangkat dari mata kaki sembari saya menyeduh kopi, atau matahari yang terbit di sebuah bukit yang dingin tepat ketika saya bangun pagi, namun saya tak punya siapa-siapa di samping saya untuk diajak bicara atau sekadar saling menatap. Saat begitu, sebuah kekosongan turun begitu saja dan bagi saya kalimat McCandles itu menjadi semakin kuat kebenarannya.

Salah satu ujaran lain yang saya amini habis-habisan dari McCandles ialah: “The core of man’s spirit comes from new experiences,” atau dalam versi yang lebih panjangnya, “So many people live within unhappy circumstances and yet sill not take the initiative to change their situation because they are conditioned to a life of security, conformity, and conservatism, all of which may appear to give one peace of mind, but in reality nothing is more dangerous to the adventurous spirit within a man than a secure future. The very basic core of a man’s living spirit is his passion for adventure. The joy of life come from our encounters with new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun,” telah menjadi ayat suci dalam batin saya.

Sepulang dari Lombok itu, usai menempuh perjalanan kaki selama 4 bulan dengan jarak sekitar 1700 Km dan berjumpa dengan berbagai jenis makhluk hidup, saya kembali menonton film ini dan ketika saya mendengar narasi itu lagi, rasanya berbeda sekali dengan sebelumnya; ia seolah mengantarkan saya pada gambaran diri saya yang dulu, yang menjalani kehidupan di tanah yang merdeka dengan cara-cara hidup manusia yang terpenjara; saya yang terlalu muda untuk takluk pada moral dan sistem; saya yang terlalu muda untuk mengikuti alur-hidup yang ditentukan oleh pasar dan politik.

Saya rasa, orang-orang seperti McCandles, petualang yang tinggal di Amerika, lebih beruntung dari orang Indonesia sebab hidup dalam sebuah masyarakat yang lebih siap untuk menyaksikan seorang pembelot, menyaksikan suatu anomali; sebuah masyarakat yang pernah melahirkan semangat perlawanan hippies, yang kemudian menjadi rahim bagi generasi para hitchhiker, dan kemudian para backpacker—yang belakangan menular ke Indonesia, meski dengan basis yang berbeda yaitu untuk mencari foto-foto cantik atau kuliner yang apik-apik.

Baca Juga:  Kulari ke Pantai: Sentilan untuk Generasi Z

Menonton film ini bagi saya telah menjadi sebuah pengalaman orgasmik. Dia tak hanya sentimentil, melainkan juga idealistik. Saya suka caranya menampilkan imej dunia yang berkoreng dan alam yang megah sekaligus brutal; sebuah film perjalanan yang tidak menjadikan destinasi sebagai inti cerita dan lebih banyak menampilkan realitas jalanan.

Suara maskulin Eddie Vedder, yang satu albumnya dipakai untuk film ini, menambah tegas suasana jalanan itu. Lirik-lirik dalam lagu Eddie menggaungkan isi kepala McCandles. Dalam “Society” dilantunkan “It’s a mystery to me. We have a greed, with which we have agreed. You think you have to want more than you need, until you have it all you want be free.”

Lalu dalam “Guaranteed” dikatakan bahwa “Everyone I come across in cages they bought. They think of me and my wandering. But I’m never what they thought. Got my indignation but I’m pure in all my thoughts. I’m alive.” Dan dalam “End of The Road” dikatakan bahwa “I won’t be the last, I won’t be the first, find a way to where the sky meets the earth.”

Sejak pertemuan tiga tahun lalu di food court mall itu, saya belum berjumpa lagi dengan dua perempuan itu. Yang satu sudah kembali ke Belanda, sementara yang satunya kini menjadi konsultan teknik sipil di Jakarta. Kalau suatu saat jumpa lagi, saya akan sangat berterima kasih, dan mungkin akan sedikit bercerita tentang apa dan siapa yang saya jumpai di pesisir selatan pantai jawa, di teriknya jalanan pantura, dan di heningnya pagi di puncak Rinjani.

Dan ketika mereka bertanya pendapat saya soal film ini, saya akan bilang bahwa saya menyukainya, hanya saja McCandles salah dalam beberapa hal dan saya ingin menegurnya.

Pertama, ketika dia hendak mengawetkan daging moose yang diburunya, harusnya dia asapi daging itu di ruang kering dan terbuka, dan kedua, ketika dia kesulitan menyeberangi sungai, harusnya dia bergerak ke hulu sampai menjumpai aliran yang lebih dangkal. Dia malah menimbun daging moose itu dan menyerah pada aliran sungai itu.

Sialnya, memang selalu lebih mudah ketika menjadi penonton.[]

Data Film

Judul: Into The Wild (2007)

Sutradara: Sean Penn

Cast: Emile Hirsch, William Hurt, Catherine Keener, Vince Vaughn, Kristen Stewart

Durasi: 148 menit.

Genre: Adventure, Drama

Rating: 8.1/10 (IMDb), 73% (Metacritic), 82% (Rotten Tomatoes)

Poster: IMDb

Facebook Comments

Komentator lintas dimensi yang tidak pernah akur dengan buncis. Bercita-cita ingin berkawan dengan Thanos.