Resensi Buku

Membaca (Kritis) Epos La Galigo

Posted on in Resensi Buku

Jika dalam bahasa Bugis “manurung” berarti orang-orang atau benda-benda yang turun dari langit, barangkali tidak salah jika saya katakan buku ini sebagai benda yang turun dari alam La Galigo. Saya katakan demikian karena kumpulan puisi yang ditulis Faisal Oddang dalam bukunya ini seluruhnya terispirasi dari kisah La Galigo.

La Galigo sendiri merupakan karya sastra klasik suku Bugis berupa syair yang terdiri dari hampir 300 ribu bait. Bahkan, oleh UNESCO kisah purba ini telah dinobatkan sebagai memory of the world (ingatan dunia).

Sejujurnya, saya belum tahu sama sekali tentang epos La Galigo. Baru setelah membaca “Manurung” inilah saya tahu cerita tersebut. Tidak mendetail memang, namun setidaknya buku ini sudah memberi gambaran umum tentang karya besar suku Bugis tersebut.

Buku ini berisi 13 pertanyaan kepada 3 nama; yaitu Datu Palinge, Sawerigading, dan La Galigo yang ditulis Faisal ke dalam bahasa puitik. Yang menarik adalah bahwa ketigabelas pertanyaan tersebut merupakan manifestasi atas kegelisahan dan kritik Faisal yang—dalam puisi-puisinya ini—disuarakan oleh kaum budak.

Keadaan kaum budak yang hanya sebagai alat penghibur, pengorbanan, serta pemuas nafsu kekuasaan bagi para keturunan langit menjadi sorotan utama Faisal. Dalam prolog, Faisal menulis begini “Tidak ada yang mengenali kami, kami hanya budak / yang dilahirkan untuk kematian atau hidup di ujung telunjuk dan / bibir kalian,…”.

Mereka (para budak) adalah hadiah yang dikirimkan kepada Batara Guru oleh ayahnya sendiri, Patotoe, yang merupakan penguasa langit dan menobatkan dirinya sebagai tuhan. Para budak dikirim untuk mengabdi kepada Batara Guru yang telah diutus untuk menjadi tunas kehidupan di muka bumi. Namun, alih-alih sebagai abdi, seiring perjalanan waktu dan pergantian generasi, para budak justru menjadi alat pemuas segala keinginan termasuk dijadikan sebagai media pengorbanan.

Baca Juga:  Tokoh-Tokoh yang Tak Berusaha Tampil Baik

Kekuasaan dan Selangkangan

Ada dua hal yang sering disebut Faisal dalam puisinya, yaitu kekuasaan dan selangkangan. Kedua hal tersebut saya menyimpulkannya sebagai sumber atas penderitaan-penderitaan yang sia-sia. Dimulai dari awal mula kisah La Galigo, ketika sang penguasa langit Patotoe ingin memiliki penyembah (manusia). “Apalah arti Tuhan bila tak ada manusia yang menyembah?” Ia kemudian menugaskan anaknya sendiri, Batara Guru, untuk turun ke bumi dan menciptakan manusia.

Batara Guru kemudian menyanggupi perintah ayahnya tersebut. Ia akhirnya turun ke bumi, mengorbankan kemegahan langit dan status kedewaannya, turun derajat mejadi manusia—karena setelah menciptakan segala hal di bumi, setelah menyembah tiga kali, ia akhirnya berubah menjadi manusia—demi kekuasaan ayahnya.

Jika direnungkan, Patotoe telah melakukan segala cara untuk menjadi penguasa tunggal dan memiliki penyembah. Ia mengorbankan anaknya sendiri untuk turun ke bumi tanpa memikirkan kesedihan apa yang ditanggung Batara Guru karena harus meninggalkan keluarganya, dan kesedihan Datu Palinge yang harus berpisah dengan putra tercintanya.

Untuk memenuhi ambisi memperoleh kekuasaan, seseorang tega menghalalkan segala cara meski harus mengorbankan orang lain sekalipun dengan dalih untuk kehidupan yang lebih baik. Barangkali itulah salah satu keresahan Faisal mengenai cerita epik ini.

Yang kedua adalah selangkangan. Tentang selangkangan ini, banyak disorot Faisal dalam pertanyaannya kepada Sawerigading yang telah banyak menimbulkan korban karena kebutaan cintanya kepada adiknya sendiri, Tenri Abeng.

Misalnya dalam kalimat “Kau mulai membayangkan selangkangan adikmu yang basah. Buah dadanya yang mengkal, membuatmu siap mati atau membunuh atau mengelabui Tuhan” atau “kau bahkan tak mampu menutup mata dan telingamu dari sesuatu yang datang dari selangkangan” dan lainnya.

Baca Juga:  Membicarakan Kenangan ala Semasa

Kata selangkangan ini saya menyimpulkannya sebagai simbol kegeraman Faisal kepada Sawerigading yang telah menimbulkan penderitaan seperti: ratusan bayi yang dijemur di halaman istana, kematian budak-budak untuk dilumurkan darahnya di Pohon Welenreng, juga darah yang mengalir saat peperangan untuk merebut We Cudai hanya demi untuk memenuhi berahinya.

Kalau kita merefleksikan kedua hal tersebut, kekuasaan dan selangkangan (wanita) adalah penyakit yang mampu merenggut kemanusiaan manusia. Seperti yang dikatakan sebuah pepatah, bahwa ada tiga hal yang merusak (kebijaksanaan) diri seseorang, yaitu harta, tahta, dan wanita.

Kritik Sosial

Dalam buku kumpulan puisinya ini, Faisal juga memberikan kritik pedas kepada para keturunan langit yang memegang status kelas tertinggi. Kisah La Galigo sendiri adalah cerita yang istanasentris. Tokoh-tokoh yang dikisahkan adalah para penguasa istana dan juga para keturunan langit.

Dan hanya merekalah yang benar-benar manusia karena semua yang hidup di luar istana hanyalah budak yang hidupnya ada di ujung telunjuk dan mulut keturunan langit. Kelas sosial yang sangat kontras ini, yang telah menimbulkan banyak penderitaan, akhirnya melahirkan semacam gugatan-gugatan dari Faisal Oddang.

Salah satu kisah yang dikritik oleh Faisal adalah ketika Sawerigading diberikan kemenangan oleh Langit ketika berperang dengan orang-orang Cina saat hendak merebut We Cudai—tunangan seorang lelaki di Cina. Faisal menulisnya begini, “Di hadapan kekuasaan yang telah Langit kirimkan untukmu / kebenaran hanya lempung, tanah liat yang bisa dibentuk sesuai / kehendak orang-orang yang berkuasa atasnya, seperti kehendakmu.”

Dalam kisah ini Langit telah membenarkan suatu hal yang sudah jelas salah. Kebenaran macam apa yang dibenarkan oleh langit atas perilaku merebut tunangan orang lain? Alasan kemenangan ini adalah karena Sawerigading seorang keturunan langit. Dan keturunan langit, tidak patut menuai kekalahan dari para budak.

Baca Juga:  Sketsa Kisah Kaum “Swagman”

Selain pada kisah tersebut, kritik-kritik Faisal juga bisa ditemukan pada pertanyaan-pertanyaan kepada La Galigo. Misalnya seperti penuntutan kebenaran atas nyawa-nyawa yang telah dijadikan tumbal, atau menjadi korban atas peperangan yang tidak pernah diinginkan hanya karena status mereka adalah para budak yang dikirim untuk membuat nama para keturunan langit disegani.

Ini bukan kali pertama Faisal Oddang membawa tema kebudayaan lokal sekaligus mengkritisinya. Dalam novelnya Puya Ke Puya ia telah lebih dulu membawa rambu solo’, yaitu upaca pemakaman suku Toraja. Dalam novelnya itu, ia mengkritisi upacara adat tersebut yang menghabiskan biaya yang sangat besar hanya untuk sebuah pemakaman, serta kelas-kelas sosial yang ada di suku Toraja.

Bagi saya, Faisal adalah penulis cerdas yang mampu merespon hal-hal yang terjadi di lingkungannya dan menuangkannya ke dalam prosa atau puisi yang menarik. Ia suka mempertanyakan segala hal yang menurutnya kurang pas untuk nilai-nilai kemanusiaan. Dan pada setiap pertanyaannya, ia sepertinya juga tidak terlalu menuntut jawaban dengan menggebu-gebu. Karena baginya, “Pertanyaan, barangkali juga adalah sebuah jawaban.”[]

Data Buku

Judul: Manurung (13 Pertanyaan untuk 3 Nama)

Penulis: Faisal Oddang

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 128 halaman

Cetakan: pertama, 2017

ISBN: 9786020376813

Foto: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Lahir di Rembang pada Juli 1996. Sekarang tengah menempuh pendidikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Ia senang menulis cerpen dan puisi. Ia tergabung di sebuah komunitas pecinta buku yang bernama Klub Buku Yogyakarta (KBY).