Ulasan Film

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri: Kontras-Kontras di Seputar Kekerasan

Posted on in Ulasan Film

Mildred Hayes, seorang ibu yang putrinya dibunuh dan diperkosa dengan sadis, menyewa tiga papan reklame di dekat rumahnya untuk mempertanyakan secara provokatif kelanjutan penyelidikan atas kasus yang macet dan sudah berlalu tujuh bulan lamanya itu. Sasarannya adalah William Willoughby, kepala polisi setempat, yang belakangan diketahui sedang sekarat akibat kanker pankreas.

Dari konflik itu sutradara sekaligus penulis skenario Martin McDonagh menyusun bangunan film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri.

Dari konflik itu kemudian terbuka partisi-partisi yang menjadi penopang cerita, sekaligus latar belakang logis atas sikap dan tindakan tokoh-tokohnya. Dari pihak Mildred terlihat sifat kasar dan keras kepalanya yang sudah ada semenjak ia jauh lebih muda, serta kenyataan atas situasi rumah tangganya yang berantakan.

Dari pihak Willoughby, tampak citranya sebagai petugas hukum yang disegani, dengan anak buah yang loyal, juga gambaran akan rumah tangganya yang tenteram dan sejahtera. Dua pemandangan dari kedua karakter tersebut sepertinya memang sengaja dibuat kontras.

Kontras tersebut secara tak langsung menolak kecenderungan hitam-putih dalam memosisikan protagonis dan antagonis dalam cerita. McDonagh menghadirkan karakter-karakter ceritanya dengan membuat mereka berangsur-angsur saling menguatkan sekaligus melemahkan, sehingga kita dapat bersimpati pada satu karakter di satu momen, lalu berubah tidak simpati di momen lainnya.

Misalnya hubungan antara Mildred dengan mantan suaminya, Charlie. Secara implisit dikisahkan bahwa Charlie ringan tangan pada istrinya–memang ada sedikit adegan yang menunjukkan hal itu–tapi yang lebih dominan tampak ringan, bukan hanya tangan, tapi juga lidah dan kakinya, justru adalah Mildred sendiri. Dia gemar memaki, menendang, bahkan melempar molotov cocktails ke kantor polisi.

Begitu juga dengan Willoughby yang terlihat berkharisma, jadi panutan anak buahnya serta punya keluarga bahagia, justru memilih satu tindakan yang tidak mencerminkan kondisi tersebut.

Baca Juga:  Enter the Void (2009): Vakansi Psikedelik Pasca-Kematian

Pun dengan Jason Dixon, anak buah Willoughby yang paling loyal–yang digambarkan senang mabuk, kasar dan rasis–terlihat tak lebih dari seorang “anak mami” ketika berada di rumah, berdua dengan ibunya yang tak punya kegiatan apa-apa kecuali duduk di kursi menonton televisi sambil minum bir.

Bila dicermati, skenario ini tampaknya disusun di atas lapisan hubungan antara tokoh satu dan lainnya, sekaligus menempatkan sosok sampiran–yang tidak begitu punya hubungan langsung dengan isu utama tetapi punya hubungan dekat dengan tokoh-tokoh utama–dalam posisi yang penting.

Sosok-sosok ini penting sebagai mata rantai untuk menguatkan satu karakter sekaligus melemahkan yang lainnya. Sosok Momma Dixon, misalnya, menumbuhkan simpati pada karakter Dixon yang meskipun pemabuk, kasar dan rasis tapi ternyata rapuh, penyayang, dan menderita akibat sangkaan gay pada dirinya.

Karakter Pamela, pacar Charlie yang masih berusia 19 tahun; cantik tapi dungu membuat tindakan memandang Charlie dengan stereotip suami pemarah dan doyan selingkuh jadi patut diragukan. Juga karakter James, lelaki cebol yang ada hati dengan Mildred membuat perasaan tak bersimpati atas “penghinaan” tak langsung Mildred pada dirinya tumbuh dengan cepat.

Mata rantai tersebut tidak putus dan mengikat isu utama film ini, yakni kemarahan di depan ketidakadilan. Di hadapan ketidakadilan, kemarahan adalah hal wajar, bahkan mungkin harus. Orang harus marah atas ketidakadilan yang menimpanya. Namun film ini tidak menghadirkan kemarahan dalam adegan-adegan mencekam dan menguras adrenalin.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah drama-komedi yang menyajikan kemarahan sebagai sesuatu yang alami, tidak dibuat heroik, pun tidak menjadi sketsa komikal, meskipun di beberapa bagian, melodrama ala Hollywood hadir dan sedikit mengganggu emosi.

Kemarahan Mildred lebih merupakan tindakan atas penyesalannya sendiri mengendapkan bayangan manusia yang walau bagaimanapun rapuhnya, berusaha untuk teguh bagai batu. Ini membuat karakternya miskin dinamika emosi, tapi sekaligus juga menjauhkannya dari cliché pribadi yang biasanya digambarkan akan sampai pada pencerahan dan pertobatan lalu meninggalkan sifat-sifat buruknya.

Baca Juga:  Her: Menjadi Manusia dalam Distopia

Pada bagian akhir film, hadir bayangan pemikiran universal lewat kata-kata Dixon dan tindakan yang kemudian dilakukannya bersama Mildred. Penutup itu seperti menegaskan semacam tagline bagi film ini, bahwa kemarahan hanya akan melahirkan kemarahan yang lebih besar.

Namun, sebesar apapun kemarahan itu, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri membuatnya jadi terpahami bahkan termaklumi. Tak ada yang perlu disalahkan, kejahatan bisa terjadi setiap saat, ketidakadilan bisa menimpa kapan saja, ketidakberdayaan mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang melampaui batas.

Demikian wajar dan terampuni. McDonagh menyusun plot nyaris tanpa alur-mundur, memasukkan satu-persatu tokoh-tokohnya untuk membuat citra kondisi psiko-sosial dari Ebbing, sebuah kota kecil di negara bagian Missouri.

Seluruh cast mendukung skenario itu dengan ensembel yang asyik. Bintangnya tiada bukan adalah Frances McDormand, aktris yang mendominasi hampir semua ajang bergengsi tahun ini, memainkan peran Mildred Hayes dengan kematangan yang harfiah. Ada memang bayang-bayang Marge Gunderson, karakternya dalam Fargo (1996), tetapi sentuhannya atas maskulinitas Mildred membuat karakter ini justru memercikkan aroma feminin-nya dengan lebih kuat.

Woody Harrelson yang senyumnya ikonik itu tampaknya hanya “kalah” durasi dengan Sam Rockwell, hingga meskipun keduanya jadi nomine peraih piala Oscar, Rockwell yang berhasil meraihnya. Tentu harus dikesampingkan kemenangan Mahershala Ali tahun lalu di kategori yang sama untuk film Moonlight (2016) meskipun di film itu Ali juga bermain relatif singkat.

John Hawkes juga menarik perhatian–seperti juga dalam Winter’s Bone (2010). Ia berperan sebagai Charlie Hayes, mantan suami yang dikisahkan gemar memukuli istrinya. Bayang-bayang kekerasan pada sosok Charlie dimainkan Hawkes tidak dengan otot atau tato, tapi dengan ekspresi kaku dan model rambut gank rockabilly.

Kekerasan yang merupakan refleksi dari kemarahan dalam film ini memang tidak sampai menghadirkan kengerian, meskipun secara fisik penggambarannya cukup brutal. Kontras-kontras yang berpendar di seputar isi cerita membuat adegan kekerasan terasa biasa, seakan-akan kita paham benar bahwa itu akan terjadi dan sudah sepantasnya terjadi.

Baca Juga:  Wiro Sableng: Sang Pewaris yang Membanggakan

Hal yang relatif serupa–dengan cerita yang lebih kompleks–juga muncul dalam Seven Psychopaths (2012) karya McDonagh sebelumnya. Tapi dibanding film yang juga dibintangi Rockwell itu, Three Billboard Outside Ebbing, Missouri jauh lebih mengesankan, bahkan juga berpengaruh.

Terbukti, setelah pemutaran film ini banyak yang meniru laku Mildred dengan menuliskan protes–dengan kalimat yang mirip–terhadap banyak masalah dan ketidakadilan di berbagai tempat, di dunia nyata.[]

Data Film

Sutradara: Martin McDonagh

Skenario: Martin McDonagh

Genre: Drama-Komedi

Durasi: 115 Menit

Pemain: Frances McDormand, Sam Rockwell, Woody Harrelson, John Hawkes

Tahun Rilis: 2017

Rating: 8.2/10 (IMDb), 88/100 (Metacritic), 92% (Rotten Tomatoes)

Poster: IMDb

Facebook Comments

Penyair, cerpenis dan penggemar film. Telah menerbitkan sejumlah buku, yang mutakhir adalah kumpulan cerpen Belfegor dan Para Penambang (basabasi, 2018).