Resensi Buku

Akhirnya, Jalan Penulis Adalah Kesunyian Masing-Masing

Posted on in Resensi Buku

Judul buku ini sama dengan judul lagu dangdut karya Rhoma Irama: Darah Muda. Saya tak tahu apakah buku ini diangkat berdasarkan lagu karya Rhoma Irama atau tidak. Namun, pada bab “Pracerita”, Dwi Cipta—sebagai penulis buku ini—mengatakan, “Catatan ini tentang masa kanak-kanak, kehidupan ranum masa remaja, tikungan nasib gelap awal masa dewasa, dan impian tidak sampainya untuk menulis cerita, ….”

Kita anggap saja—setidaknya menurut saya—bahwa kisah kanak-kanak, pubertas remaja, hingga gejolak hati dan pikiran orang dewasa adalah titimangsa di mana darah itu “mendidih”. Ketika kanak-kanak, kita “mendidih” dengan permainan. Ketika remaja, kita “mendidih” dengan cinta monyet. Dan, ketika dewasa, kita “mendidih” dengan pergolakan hal-hal di sekitar kita: keuangan, kampus, organisasi, politik, cinta, dll.

Cipta mengawali novelnya, “Pada mulanya adalah kisah keringnya sungai di sebelah timur rumahku selama bulan Oktober ….” Pembuka novel yang cukup klise bila kita potong pada mulanya adalah …. Sama halnya dengan “pada mulanya adalah kata,” kalimat yang kerap diucapkan penyair Sutardji Calzoum Bachri. Atau, dalam Alkitab, Yohanes 1:1 tertulis “pada mulanya adalah Firman.” Mungkin, yang over klise seperti pada suatu hari ….

Namun, saya mencoba hilangkan tiga kata awal yang klise itu. Sebab, di kata selanjutnya kita tergerak untuk membaca apa yang terjadi di sungai kering dekat rumah Aku-tokoh pada Oktober.

Setiap Oktober, sungai di desa Aku-tokoh—yang tidak terdeteksi peta—mengalami kekeringan luar biasa.

Di bawah terik sinar matahari, aroma busuk kotoran manusia, bangkai binatang dan sampah menguar dari sungai sebelum menyebar ke berbagai sudut desa” (hlm. 2). Penduduk desa membenci derita bulan Oktober.

Padahal, akibat sungai kering itu penduduk desa banyak mengambil ikan. Dan, pastinya menjadi santapan di rumah-rumah. Kadang, kita memang fokus pada yang buruk, tidak bersyukur pada hal baik.

Baca Juga:  Ayah, Putera, dan Narasi yang Menjenuhkan

Tetapi, bukan itu. Kekeringan di bulan Oktober, bukan saja kekeringan air sungai, namun kekeringan empati penguasa terhadap rakyatnya; kekeringan air mata atas perilaku serdadu yang semena-mena; dan kekeringan itu membawa malapetaka.

Orang-orang menyebut tragedi itu dengan nama Gestok. Mencekamnya masa-masa sesudah Gestok itu membuat kakek dan ayahku dihantui ketakutan pada seragam loreng dan kaki-tangannya” (hlm. 11).

Di awal, pembaca diajak sekilas mengetahui apa yang terjadi dengan peristiwa Gestok atau yang lebih dikenal dengan nama G30S PKI. Peristiwa yang cukup menyita mata dan pikiran bangsa ini, bahkan kita belum menerima apa yang sesungguhnya terjadi di bulan Oktober tersebut.

Cipta berhasil menarasikan dengan baik melalui si tokoh Aku dalam menceritakan kisah sungai kering di bulan Oktober, yang dituturkan oleh kakek dari kakek buyut. Pengisahan ini sebenarnya bukan hal baru di masyarakat Indonesia: “sejarah lisan” yang terus dipelihara oleh tetua-tetua kampung.

Setelah itu, pembaca digiring ke perjalanan si tokoh Aku saat sekolah dasar serta polemik-polemiknya yang cukup keras bila ditarik ke zaman sekarang.  Misalnya, “Kirik cengeng”, ejekan yang tersemat pada diri tokoh Aku. “Jangan sering bermain dengan dia. Main saja dengan anak-anak lain daripada dengan Kirik” (hlm. 43).

Ibu mana yang tidak membela apabila anaknya dipersekusi demikian? Saya kira ibu yang normal pasti membela. “Bermainlah dengan anak-anak yang tidak menyakitimu. Kalau tidak, bermainlah dengan anak-anak anjing yang sering berkeliaran di depan rumah. Lebih baik bermain dengan anak anjing daripada bermain dengan manusia yang memperlakukanmu seperti anjing” (hlm. 44).

Ada rasa keputusasaan dari seorang ibu melihat anaknya dipersekusi. Dengan putus asa itu, seorang ibu tidak lagi meminta anaknya bermain dengan anak-anak sebaya, tetapi dengan anak anjing.

Baca Juga:  Pinurbo dan Keberhasilan Puisi Jenaka

Persekusi itu banyak terjadi di lingkungan kita. Bagaimana seorang anak tidak ingin sekolah lagi karena di sekolah telah menjadi rangkiang kekerasan fisik dan psikis. Apa yang terjadi kemudian, yah, berkurung di kamar dan si anak terisolasi dari dunia luar. Ini berbahaya bagi tumbuh kembang si anak.

Seperti kalimat kesedihan si Aku pada halaman 53, “Aku berperan seolah-olah mulai memahami bahwa akhir hidup manusia adalah kesunyian mencekam, tanpa seorang pun bisa membantunya keluar, benar-benar sendirian.”

Mungkin pembaca akan bertanya, apakah kalimat itu sudah mampu dikeluarkan dari mulut dan pikiran anak seusia SD? Ini kekeliruan Dwi Cipta menarasikan tokoh Aku-kecil. Si Penulis nampak lebih cerdas daripada tokoh yang ia buat sendiri.

Buku tentang Penulis

Buku Darah Muda bisa menjadi rujukan untuk siapa pun yang berkeinginan menjadi penulis. Siapa pun dia bisa menjadi penulis andal bila fokus. Fokus dan konsisten terhadap apa yang dia inginkan adalah cara mutakhir untuk melumpuhkan hambatan-hambatan untuk meraih cita-cita.

Maaf, saya tidak mencoba memberi Anda motivasi agar bergairah menulis. Tidak.

Tetapi, buku ini bisa membawa pembaca untuk mengetahui bagaimana perjuangan calon penulis meraih mimpinya. Atau, bagaimana pergulatan anak muda yang gandrung terhadap kata-kata: buku.

“… aku menikmati momen-momen kesendirianku: membaca novel dan buku-buku di perpustakaan atau persewaan buku, bercanda dengan teman-temanku, menyembunyikan diri di antara rak-rak buku sebuah toko swalayan di samping alun-alun kota selama dua jam, atau menghabiskan waktu sore hari di pantai …. Memasuki malam hari, aku kembali pada dunia imajinasi lewat buku-buku cerita yang kusembunyikan di bawah kasur” (hlm. 129).

Malam menjadi penanda kesunyian dan waktu yang tepat untuk membaca buku. Si tokoh Aku dalam novel Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M. Dahlan pun menjadikan malam sebagai medium komunikasi antara pembaca dan buku. “… tiap malam aku meringkuk di kamar. … sendiri tanpa ada masa depan. Beberapa kali kubolak-balik buku. Beberapa kali kuambil pena untuk menulis lagi. Dan, selalu saja gagal. Aku takut” (hlm. 260).

Baca Juga:  Yang Tersembunyi di Balik Aroma Makanan

Kisah kecemasan calon penulis yang digambarkan di atas adalah ultimatum bagi siapa saja yang ingin menjejaki jalan sunyi itu: berat dan mendaki.

Kisah yang tak kalah heroik juga ditampilkan oleh Knut Hamsun dalam novel Lapar. Si tokoh Aku pada novel Lapar memiliki tekad baja untuk mempertahankan nilai hidup yang ia jalani. Walaupun hidup itu terjal, pahit, dan berliku, ia tetap semangat menulis.

Novel ini telah banyak memengaruhi jejak kepenulisan beberapa penulis hebat Indonesia. Salah satunya adalah Eka Kurniawan. Seperti kata Eka, “Lapar adalah novel yang pertama kali membuat saya ingin menulis.”

Hamsun mengambil Kota Kristiania, Norwegia, sebagai latar cerita Lapar. Muhidin M. Dahlan dan Dwi Cipta menjadikan Kota Yogyakarta sebagai tempat proses kepenulisan mereka. Dan, mereka berdua hingga sekarang tetap berkutat dengan dunia aksara.

Lebih dari itu semua, bila membaca Darah Muda, pembaca akan mengetahui seluas apa bacaan penulisnya. Cipta tidak pelit mencantumkan buku-buku apa saja yang ia baca. Dan, itu akan kita tahu saat menelusuri kata per kata di buku setebal 386 halaman ini.

Kenapa buku ini harus dibaca bagi orang yang ingin menjadi penulis? Buka halaman 322, “Aku ingin terus menulis, apa pun yang terjadi dengan hidupku kelak.”[]

Data Buku:

Judul: Darah Muda

Penulis: Dwi Cipta

Penerbit: Literasi Press

Tebal: x + 386 halaman

Tahun: Januari 2018

Gambar: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Bergiat di Sarekat Peresensi Jogja dan Komunitas Kutub.