Ulasan Film

Only Lovers Left Alive: Dapur Kultural dari Sepasang Vampir

Posted on in Ulasan Film

Spoiler atau dalam bahasa Indonesia berarti beberan memang seringkali menyebalkan. Pasalnya, menonton film dalam keadaan tidak tahu apa-apa bisa berakhir sangat menyenangkan. Meskipun tidak selalu, ada sensasi taruhan di sana. Bisa puas atau justru bisa buntung.

Kemarin siang saya memutuskan untuk menonton Only Lovers Left Alive, film yang tayang perdana tahun 2013. Seperti kencan buta, tidak ada petunjuk apa pun yang menuntun saya menonton film berdurasi 123 menit ini.

Dugaan pertama saya setelah dua menit pertama adalah film ini sepertinya bersinggungan dengan mitologi. Magis. Lawas. Kultural. Kesan pertama yang berasal dari jenis font yang dipakai Jim Jarmusch, sang sutradara, ketika membuka filmnya: Victorian font.

Apalagi setelah itu disusul dengan latar belakang sebuah ruangan yang disesaki tumpukan buku-buku, dengan Tilda Swinton (berperan sebagai Eve) yang memakai gaun tidur beludru khas bangsawan terlelap di antara seluruh buku yang berserakan.

Ketertarikan saya sempat meredup karena teringat dengan film-film yang menggunakan tumpukan buku (atau vinyl dan sejenis produk budaya lainnya) sebagai latar pendukung. Beberapa di antaranya justru terjerumus dengan memanfaatkannya sebagai kosmetik belaka.

Beruntung, setelahnya, dialog Tom Hiddleston (berperan sebagai Adam) dengan Anton Yelchin (berperan sebagai Ian) menyelamatkan saya dari hello effect. Tom yang saya kenal dari perannya sebagai Loki dalam film Thor, mengobrol tentang Eddie Cochran, rocker dari Amerika yang abadi berkat lagunya yang berjudul Summertime Blues. Lagu ini sempat dipopulerkan kembali oleh Tielman Brothers, grup band dari Indonesia yang terkenal di Belanda.

Kencan buta saya siang itu rupanya tidak buntung-buntung amat, malah sangat menyenangkan karena hampir sepanjang film, Eve dan Adam menciptakan daftar panjang rujukan kultural yang cemerlang. Setidaknya saya menemukan buku-buku seperti Don Quixote (Miguel de Cervantes), Infinite Jest (David Foster Wallace), serta bukunya Franz Kafka dalam daftar panjang mereka.

Baca Juga:  Tengkorak: Film Nekat Nihil Substansi

Belum lagi saat tokoh tua bernama Christoper Marlowe (diperankan oleh John Hurt) dalam film itu muncul beberapa kali. Iya, Christoper Marlowe yang itu. Penyair dan dramawan yang kabarnya berada di balik kesuksesan Shakespeare. Marlowe dalam kisah yang sebenarnya dikabarkan memalsukan kematiannya yang ganjil (ia mati muda pada usia 21 tahun) dan kemudian menyamar sebagai William Shakespeare.

Isu ini abadi dan Jim Jarmusch turut melanggengkanya dengan menjadikan Marlowe sebagai salah satu tokoh dalam filmnya yang benar-benar memalsukan dirinya sebagai Shakespeare. Bedanya, Marlowe dalam film ini hidup ribuan tahun setelah kematiannya, sebagai vampir.

Saya lalu jatuh cinta pada Jim Jarmusch yang membingkai film ini sebagai film vampir. Sebelumnya, gara-gara film Twilight, saya jadi punya kesan yang buruk dengan film-film berbau vampire karena isinya melulu tentang roman picisan. Belum lagi sebagai penonton dari Indonesia, kesan itu diperparah dengan adanya sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, versi KW-annya Twilight, yang total ambyar.

Jim Jarmusch, sutradara film indie dari Amerika itu menyelamatkan saya dari penghakiman berkepanjangan. Ia tidak meletakkan Eve dan Adam sebagai sepasang kekasih yang romansanya itu-itu saja seperti Edward dan Bella dalam Twilight, tapi justru mengutus keduanya menjadi agen kebudayaan lintas zaman.

Eve, vampir perempuan cerdas yang mencintai karya sastra, membagikan rujukannya pada karya-karya monumental. Sementara Adam, adalah vampir pria yang juga seorang musisi. Di dalam rumahnya, ia memajang foto musisi-musisi terbaik pada zamannya, seperti Tom Waits, Robert Johnson, serta Rimbaud; penyair yang jadi insipari Jim Morrison dalam menulis puisi.

Eve dan Adam menjelma jadi sepasang kekasih dengan karakter sarkas yang sangat kuat, mengomentari selera budaya orang-orang abad ke-21 yang begitu buruk di mata keduanya. Ada sepenggal scene yang menurut saya paling banal dalam menggambarkan sarkasme mereka, yaitu ketika Adam memutuskan untuk membuang jasad seorang manusia yang hampir saja menjadi vampir ke dalam genangan limbah pabrik.

Baca Juga:  Wiro Sableng: Sang Pewaris yang Membanggakan

Berabad-abad yang lalu, mayat bisa dengan mudah dihanyutkan ke sungai, hilang bersama wabah penyakit. Namun, sekarang ini, ia bahkan bisa melenyapkan setiap makhluk yang diceburkan ke dalam genangan limbah pabrik yang menyedihkan itu. Sebuah sindiran telak bagi kerusakan lingkungan akibat limbah-limbah industri dewasa ini.

Jarmusch juga cerdas karena dengan segepok referensi kultural yang ia jejalkan, pria berambut abu-abu itu tidak terjerumus menjadi sutradara yang cenderung bersikap mansplaining. Only Lovers Left Alive tetap terasa dingin, tidak menggurui.

Ia  menyematkan rujukannya dalam dialog-dialog yang satir serta menjadikannya dalam bentuk properti (seperti dalam bentuk buku yang judulnya jelas bisa terbaca dan foto para musisi yang terbingkai) yang bernyawa.[]

Data Film

Sutradara:  Jim Jarmusch

Skenario: Jim Jarmusch

Genre: Drama, Musik

Durasi: 2 jam 3 menit

Pemain:  Tom Hiddleston, Tilda Swinton, Mia Wasikowska, John Hurt

Tahun Rilis:  2013

Rating: 7.3/10 (IMDb), 85% (Rotten Tomatoes), 79% (Metacritic)

Poster: IMDb

Facebook Comments

Menulis cerpen dan resensi film di rhni.wordpress.com. Penggemar Olive Chicken.