Ulasan Film

Ketika Nobel Sastra Singgah di Argentina: The Distinguished Citizen

Posted on in Ulasan Film

Seperti yang kita tahu, Argentina adalah salah satu negara yang menjadi tempat kelahiran para raksasa sastra seperti Jorge Luis Borges, Julio Cortazar, Ernesto Sabato, Roberto Arlt, hingga Cesar Aira. Namun seperti yang kita tahu juga, belum pernah ada seorang sastrawan Argentina pun yang menerima penghargaan paling diimpikan oleh nyaris semua penulis: Nobel Sastra. Begitulah realitasnya, akan tetapi jika kita bicara tentang karakter fiksi, tentu ada satu orang yang telah dilakabkan sebagai pemenang Nobel Sastra pertama yang berasal dari negara paling selatan di benua Amerika yang kerap dijuluki El sur del sur tersebut: Daniel Mantovani (yang dilakonkan oleh Oscar Martinez dengan sangat apik).

Pada dasarnya, film hasil kolaborasi dari duo Gaston Duprat dan Mariano Cohn ini bercerita tentang suasana mudik yang dialami oleh Daniel Mantovani di tempat kelahirannya yang merupakan kota terpencil bernama Salas. Selain dipenuhi dengan rentetan satire dan dagelan yang tersusun dengan sangat rapi, di sepanjang durasi film ini kita juga diajak untuk menafakuri sekaligus mengamini salah satu aforisme yang sering kita baca/dengar―sebagaimana yang tertera di poster edisi internasionalnya―yakni, tidak ada seorang pun yang diperlakukan seperti nabi di tanah kelahirannya sendiri, tidak ada, bahkan untuk seorang pemenang Nobel Sastra sekalipun!

Kisah diawali dengan pembacaan pidato penerimaan Nobel oleh Daniel Mantovani di hadapan anggota Akademi Swedia di Stockholm. Dalam pidato yang disampaikan dengan nada satire dan sarkastis tersebut, dia mengolok-olok hadiah yang diterimanya serta menyindir para tamu yang hadir dalam acara bergengsi itu. Dia mengutarakan kekhawatirannya dengan mengatakan bahwa meraup kesuksesan berarti menjadikan dirinya sebagai seorang penulis yang sangat tidak menantang, sehingga menurutnya kanonisasi adalah sebuah kesalahan yang fatal.

Baca Juga:  Tengkorak: Film Nekat Nihil Substansi

Masalah utama―yang menjadi inti cerita dari keseluruhan alur di dalam film ini―baru muncul lima tahun setelah Daniel Mantovani menyampaikan pidatonya tersebut. Sebagai seorang penulis beken dan adiluhung, tentu saja dia menerima banyak undangan yang berasal dari berbagai organisasi dan majalah ternama di berbagai negara untuk menghadiri acara-acara sastra atau sekadar melakukan wawancara. Namun, setelah kehabisan ide untuk menulis karena merasa telah berada di titik zenit dari karier kepenulisannya, dia menolak semua undangan tersebut hingga pada suatu hari sepucuk surat undangan dari Salas, kota kelahirannya, tiba di rumah mewahnya yang terletak di kota Barcelona. Undangan itu adalah permintaan langsung dari Wali Kota Salas (Manuel Vicente) agar Daniel berkenan untuk menghadiri penobatannya sebagai Distinguished Citizen atau warga kehormatan. Meskipun telah 40 tahun lebih tidak pernah pulang kampung, faktanya dia adalah orang paling terkenal di kota tersebut, sehingga tentu saja dia menerima undangan itu, akan tetapi dengan syarat: tidak boleh ada wartawan dan publisitas jenis apa pun. Dari sinilah kisah perjalanan unik sang sastrawan, seraya bertemu dengan teman-teman lama dan bernostalgia dengan kenangan pada masa kecilnya di Salas, bermula.

Perjalanan Daniel sebelum sampai ke Salas juga dikemas dengan balutan komedi ringan yang mengundang senyum simpul. Misalnya, ketika berada di dalam pesawat, pilot mengumumkan kepada para penumpang bahwa mereka akan terbang bersama seorang pemenang Nobel. Daniel yang merasa tidak nyaman dengan situasi semacam itu tentu hanya bisa cengar-cengir dan merasa kesal. Selain itu ada juga adegan lucu saat mobil yang menjemputnya dari bandara tiba-tiba mogok di tengah perjalanan. Karena hari semakin gelap, maka atas saran Daniel, si sopir berusaha untuk menghidupkan api dengan menggunakan lembaran dari salah satu buku karya Daniel. Saat itu, sembari menggerutu, dia menganggap bahwa kegunaan buku tersebut tidak hanya berlaku ketika ada yang membacanya.

Baca Juga:  Sajian Tiga Lapis Rasa dari Edwin

Setibanya di Salas, Wali Kota mengadakan proses penyambutan yang hangat atas kedatangan sang Distinguished Citizen. Setelah acara pemberian gelar selesai, beberapa warga yang mengaku memiliki kesamaan nasib dengan tokoh di novel Daniel, mengajaknya untuk singgah ke rumah mereka, tapi ditolak dengan berbagai dalih. Setelah itu Daniel bersua dengan Antonio (Dady Brieva), teman masa kecilnya, yang ternyata telah menikah dengan Irene (Andrea Frigerio), mantan kekasih yang telah ditinggalkan Daniel tanpa kabar sejak 40 tahun yang lalu. Memang adegan nostalgia antara teman lama dan mantan kekasih itu hanya ditampilkan sebentar saja, namun hal itu disampaikan dengan dialog yang kuat dan memantik suasana yang melankolis. Selain itu, selain ending yang keren, ada satu adegan lagi yang menurut saya sangat menarik, yakni ketika Daniel diminta oleh Wali Kota untuk menjadi juri dalam perlombaan melukis. Dari beberapa peserta, ada satu orang yang mengirim lukisan Paus Fransiskus dengan figur yang dibuat amat minimalis namun cukup bagus. Ketika para juri sedang berdiskusi untuk menentukan pemenang, maka semua menolak untuk memenangkan lukisan itu―dan penolakan tersebut seolah-olah menjadi semacam simbol yang menggambarkan bahwa faktanya tidak semua orang Argentina menyukai sosok Sang Paus, walaupun beliau berasal dari negara itu (lagi-lagi satire yang cerdas!).

Terlepas dari semua itu, memang ada beberapa kekurangan yang tidak mungkin luput dari film ini. Memang terkesan agak rancu: meskipun duo Gaston Duprat dan Mariano Cohn bertindak rangkap selaku sutradara sekaligus sinematografer, akan tetapi mereka gagal menggambarkan kota Salas yang begitu istimewa sehingga tampak sangat membosankan. Namun hal itu bukan menjadi alasan penting mengingat film ini telah mengantongi banyak penghargaan internasional, baik sebagai film secara keseluruhan atau penghargaan secara personal, seperti dalam ajang Venice Film Festival, Haifa International Film Festival, Havana Film Festival, Goya Awards, Platino Awards, serta sebagai wakil Argentina untuk kategori Best Foreign Language Film  pada Oscar tahun 2017 lalu, meski tidak masuk nominasi.[]

Baca Juga:  Yang Istimewa Karena Biasa

Data Film:

Judul               : The Distinguished Citizen atau El ciudadano ilustre

Sutradara         : Gaston Duprat dan Mariano Cohn

Pemeran          : Oscar Martinez, Dady Brieva, Andrea Frigerio, Manuel Vicente

Tahun Rilis      : 8 September 2016

Negara             : Argentina

Durasi              : 1 Jam 58 Menit

Gambar: IMDb

Facebook Comments

Pengajar sejarah yang mengagumi Radiohead dan segala hal  yang berkaitan dengan posmodernisme. Cerpennya masuk ke dalam antologi Cerpen Eksperimental Penerbit Basabasi.