Resensi Buku

Bandung, Panggung dan Seribu Tanda Seru

Posted on in Resensi Buku

Peringatan 63 tahun Konferensi Asia-Afrika ditandai peluncuran buku dan pameran di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Acara terpenting adalah pemberian sertifikat Memory of the World UNESCO 2017. Peringatan itu memang capaian sejarah beralamat di Indonesia saat menggerakkan Asia-Afrika.

Di Bandung, Jawa Barat, peringatan diwujudkan dengan mengadakan Karnaval Asia-Afrika, 28 April 2018, bertema Respect for Diversity. Karnaval diikuti 2.000 peserta dari pelbagai negara: Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Taiwan, Vietnam, Uganda, Madagaskar, Tanzania, Tajikistan, India, dan Pakistan.

Cara mengingat sejarah dengan karnaval tentu mencipta keramaian dan kerumunan tak seperti cara orang mengenang sejarah dengan membuka halaman-halaman buku. Keramaian itu sengaja diadakan bernalar turisme. Kini, kita pun diajak mengenang (lagi) sambil belajar sejarah masih berlubang melalui buku menghindari ramai dan jepretan kamera.

Di pembukaan Konferensi Asia-Afrika di Gedung Merdeka, Bandung, 18 April 1955, Soekarno memulai dengan kalimat-kalimat dramatis: “Bagi saja, dalam gedung ini bukan hanja terdapat pemimpin-pemimpin dari segala bangsa Asia dan Afrika sadja, didalamnja terdapat pula roch jang tak kasatmata, jang baka, jang selalu djaja, dari mereka jang mendahului kita.”

Konferensi itu politis dan sakral. Soekarno mengikutkan ingatan pada roh para leluhur saat mereka melawan kolonialisme selama ratusan tahun. Di Gedung Merdeka, para pemimpin “ditemani” para roh leluhur menghasilkan kesepakatan-kesepakatan besar untuk menggerakkan sejarah dunia abad XX.

Soekarno juga mengutip puisi gubahan Longfellow dalam bahasa Inggris, berlanjut diterjemahkan ke bahasa Indonesia: “Teriakan menantang, bukan karena takut,/ Suara di malam gelap, ketukan pintu,/ Dan sepatah kata akan berkumandang sepanjang masa…” Konferensi pun sengaja menjadi “drama” dan “puisi” akbar di mata dunia.

Baca Juga:  Jurnalisme Musik: Dari Guns N’ Roses, Slank, Sampai Nike Ardila

Peristiwa itu bergaung sampai sekarang. Kita memiliki ingatan baku melalui buku-buku pelajaran sejarah di sekolah. Di buku pelajaran, nama para tokoh dari pelbagai negara dan Dasasila Bandung harus dihapalkan. Pada masa Orde Baru, Konferensi Asia-Afrika (KAA) adalah soal-soal dalam ujian untuk membutkikan murid mengerti sejarah. Kebenaran jawaban menghasilkan nilai tinggi.

Buku pelajaran itu masa lalu bagi murid penghapal sejarah. Kini, kita berhadapan dengan buku serius berjudul Konferensi Asia-Afrika: Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme. Isi buku tak menuntut dihapalkan pembaca. Kemauan membaca khatam dan mengerti sekian hal sudah dianggap memadai dalam ikhtiar mengenang KAA.

Pembaca agak beruntung jika sudah melahap Tempo, 20-24 April 2015, edisi khusus 60 tahun KAA. Majalah itu memang tak digunakan dalam pengerjaan buku berasal dari tesis di Institute for History, Leiden University, Belanda. Wildan Sena Utama lulus 2014, tak perlu menambahi daftar referensi dengan Tempo, terbit telat setahun dari perampungan tesis.

Kita bakal mendapatkan suguhan penjelasan dan argumentasi bermutu di buku sambil membuka lagi majalah Tempo. Pilihan itu bermaksud membebaskan diri dari ingatan-ingatan terbatas KAA saat diajarkan di sekolah-sekolah pada masa Orde Baru.

Pembaca buku bakal semakin paham setelah mendapat cuilan-cuilan berita, cerita, biografi, dan pidato di majalah Tempo. Pengulangan menjadi lazim tapi beda dalam penempatan untuk pemaknaan sejarah. Wildan mencatat bahwa masa 1950-an, dunia bergejolak akibat Perang Dingin.

Peran itu fenomena hegemonik meski mustahil mengabaikan arus nasionalisme antikolonial, telah bergerak sejak puluhan tahun silam di Asia dan Afrika. Situasi tak keruan pada masa 1950-an memungkinkan para pemimpin di negara-negara Asia Afrika ambil peran berbeda dari para tokoh “pengendali” dunia di Amerika Serikat, Uni Soviet, dan China.

Baca Juga:  Apeirophobia, Cerita-Cerita dan Ketakutan akan Keabadian

Pertemuan para pemimpin Asia-Afrika di pelbagai tempat untuk bersuara nasib dunia mengantarkan ke keputusan bergerak ke Bandung, Indonesia. Para penggerak itu bernama Jawaharlal Nehru, Gamal Abdul Nasser, U Nu, Mohamad Ali Jinah, dan Ali Sastroamidjodo. Pertemuan demi pertemuan menentukan sikap Asia-Afrika atas lakon dunia.

Pertarungan memperbutkan kekuasaan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet memamerkan supremasi ideologis. Perebutan itu memengaruhi nasib-nasib negara baru merdeka atau mentas dari kolonialisme. Para pemimpin di Asia-Afrika tak ingin terjerumus atau memasrahkan nasib dengan memihak ke blok-blok sedang bertarung sengit.

Segala niat meski memiliki segala keterbatasan-keterbatasan mewujud dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 18-24 April 1955. Indonesia menjadi penggerak dan tuan rumah, penentu nasib puluhan negara di hadapan negara-negara adikuasa di Perang Dingin. Peristiwa itu dihadiri perwakilan 29 negara merdeka dan hampir merdeka.

Wildan membahasakan: “KAA adalah kulminasi dari banyak aspirasi: solidaritas Asia-Afrika, dekolonisasi, perdamaian dunia, dan kemungkinan membentuk aliansi baru.” Peristiwa itu telah diramalkan bakal mengubah arah sejarah dunia.

Detik-detik sebelum KAA berlangsung di Gedung Merdeka dengan pidato dan rapat serius, adegan drama telah digelar di jalan. Peristiwa para delegasi keluar dari Hotel Savoy dan Hotel Preanger dengan berjalan kaki mengenakan baju khas negara mereka menuju Gedung Merdeka.

Berjalan kaki bersama telah dimaknai drama politik di mata jurnalis dan pengisah KAA ke dunia. Berjalan kaki tak bernafsu berpikiran kecepatan seperti mesin-mesin untuk pemajuan dunia dan penghancuran dunia akibat perang. Berjalan kaki dengan mesem, percakapan, bergandengan tangan, dan lambaian tangan adalah teater realis untuk memberi seribu tanda seru bagi negara-negara serakah kuasa dan duit.

Bandung menjadi panggung dunia. KAA tak cuma pidato dan berjalan kaki. Bandung pun ruang pameran untuk pemasangan spanduk dan baliho bercerita mengenai Asia-Afrika. Pameran itu digunakan di sampul buku, berasal dari koleksi Museum Asia-Afrika: adegan pemasangan spanduk besar dan tukang becak menonton penasaran.

Baca Juga:  Cinta Tak Tentu Arah

Adegan itu semakin mengartikan tekad besar Asia-Afrika turut dalam penentuan nasib dunia. Negara-negara Asia-Afrika ibarat masih bergerak dengan kecepatan becak tapi memiliki kemauan besar untuk merdeka, makmur, dan damai. Mereka tak mau jadi “polusi” dan membuat bising dunia.

Bergerak dan berkeringat menentukan martabat negara-negara di Asia-Afrika tanpa kepatuhan mutlak pada ambisi-ambisi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Mereka itu negara-negara terhormat meski “dikecilkan” dan “ditepikan”. KAA 1955 terbukti cespleng menghasilkan tanda seru demi ralat lakon dunia ke arah beradab, tak melulu perang dan rebutan laba. Begitu.[]

Data Buku:

Judul : Konferensi Asia-Afrika: Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme

Penulis : Wildan Sena Utama

Penerbit : Marjin Kiri

Cetak : Desember 2017

Tebal : xxii + 281 halaman

ISBN : 978-979-1260-74-9

Facebook Comments

Kuncen Bilik Literasi.