Ulasan Film

Kimi no Na Wa; Sebuah Pertunjukan Seni yang Komplet dan Megah

Posted on in Ulasan Film

Pernahkah Anda bosan dengan lingkungan di mana saat ini Anda berada? Sebuah desa terpencil barangkali? “Yah, di sini minimarket tutup pada pukul sembilan malam. Tidak ada toko buku, tidak ada dokter gigi, tidak ada pekerjaan, tidak ada calon suami (?). Dan lagi, cahaya matahari cuma muncul sebentar.” Itulah yang dikeluhkan Mitsuha, seorang gadis manis yang merupakan putri dari Walikota Itomori, sebuah kota fiktif yang terletak cukup jauh dari Tokyo.

Kebosanan Mitsuha itu terjawab bagai gayung bersambut oleh Yang Kuasa. Entah fenomena apa yang menyeretnya, suatu pagi saat ia terbangun dari tidur, tiba-tiba saja ia mendapati dirinya terjebak dalam kondisi yang sangat-sangat membingungkan. Tunggu dulu! Ruangan kamar ini bukan ruangan miliknya! Deringan suara handphone yang tergeletak di atas lantai itu, rasanya juga asing sekali! Ia lalu merasakan satu bagian tubuh aneh yang tidak pernah ia miliki selama ini. Dengan wajah memerah, ia menunduk dan memastikan bagian itu benar-benar nyata. “Kyaaaaa!!!!” Seketika ia menjerit saat mendapati dirinya ternyata sudah berubah menjadi laki-laki.

“Mitsuha, apa nenekmu sudah mengusir setan yang ada di dalam dirimu?” tanya Tessie, teman dekat Mitsuha saat mereka hendak berangkat sekolah bersama-sama beberapa hari sebelum ia menemukan dirinya terbangun menjadi laki-laki. Pertanyaan yang Tessie ajukan bukanlah pertanyaan tanpa dasar. Tidak hanya Tessie, tapi adik perempuan Mitsuha, neneknya, guru serta teman-temannya juga menganggap tingkah Mitsuha kemarin sangat aneh seperti orang yang sedang amnesia. Bahkan, seperti Tessie, tidak sedikit pula yang mengatakan ia sedang kerasukan setan atau gila.

Keanehan yang dirasakan Mitsuha semakin nyata saja saat ia menemukan sebuah tulisan dalam buku yang sama sekali tidak ia ingat kapan ia pernah menuliskannya. Tulisan “Siapa namamu?” itu, membuat Mitsuha berpikir panjang. Aneh sekali bukan? Kapan ia menuliskan itu? Ia tidak ingat sama sekali. Yang Mitsuha ingat hanyalah kadang kala ia merasa bermimpi seperti berada dalam kehidupan orang lain.

Waktu lalu menjawab kebingungannya. Lambat laun, Mitsuha menyadari bahwa apa yang ia alami ini bukanlah sekedar mimpi belaka. Semua ini realita. Ya! Ia mengalami fenomena unik yang tidak diketahui apa penyebabnya. Yang kemudian menjadi sangat jelas baginya, beberapa kali dalam seminggu, ia bertukar tubuh dengan seorang laki-laki seumurannya yang tinggal di Tokyo dan belakangan diketahui bernama Taki. Sebuah pertukaran yang kemudian menyeret mereka berdua ke dalam pusat cerita dari film Kimi no Na Wa atau dikenal juga dengan judul Your Name ini.

Baca Juga:  The Insult; Narasi Ego dalam Konflik Komunal

Film bergenre fantasi remaja ini sendiri, ditulis dan disutradari oleh Makoto Shinkai dan produksi oleh Comix Wave film dengan gubahan musik Radwimps, band rock asal Jepang, berdasarkan novel karya sang sutradara dengan judul yang sama.

Pengenalan Tokoh yang Lamban, Dibayar Lunas dengan Konflik Mendalam

Bila Anda bukan tipikal orang yang sabar, maka bersiap-siap saja. Barangkali 40 menit awal dari film animasi ini akan sangat menguji Anda. Bukan apa-apa, tapi sepanjang paruh pertama film, Anda akan merasa tidak dihadapkan dengan satu konflik pun. Segalanya berjalan lancar-lancar saja. Mitsuha dan Taki, meski kemudian mengundang tawa dengan tingkah konyol mereka saat bertukar tubuh, keduanya saling membantu satu sama lain. Mitsuha membantu Taki mendekati wanita yang disukainya, sementara Taki membantu Mitsuha menjadi perempuan populer di sekolah.

Ujian kesabaran itu akan berakhir tatkala Taki yang ingin memberinya kabar kegagalannya dalam berkencan dengan wanita yang ia sukai, mencoba mengontak Mitsuha dengan ponselnya. Namun, bukan suara Mitsuha yang terdengar melainkan suara operator yang mengatakan bahwa nomor telepon Mitsuha sedang tidak aktif.

Sejak saat itu, fenomena pertukaran tubuh Taki dan Mitsuha pun terhenti. Taki terus-menerus menghubungi Mitsuha. Namun tetap saja, ia gagal dan gagal. Rasa penasaran Taki memuncak, ia memutuskan mencari di mana Mitsuha berada. Awalnya, ia tidak mengetahui nama kota yang ingin ia cari. Berbekal lukisan pemandangan gunung dan kota yang ia ingat saat berada di dalam tubuh Mitsuha, ia bertanya ke sana-kemari sampai sepasang suami istri penjual mie ramen kemudian memberitahunya….

“Itomori! Jangan-jangan … itu nama kota di mana komet itu jatuh?”

Taki yang syok dengan berita yang barusan ia dengar, akhirnya memutuskan mendatangi kota itu. Matanya membelalak, keringat dingin bercucuran. Suaranya bergemetar saat menyaksikan garis kuning batas polisi. Kota itu bahkan sudah tidak bisa dikatakan sebagai kota lagi. Yang ada hanyalah air, air, dan air saja sejauh mata memandang.

Baca Juga:  Love for Sale: Cinta Betulan atau Cuma Prostitusi?

“Kau pasti ingat, bencana yang memakan ratusan korban ini terjadi tiga tahun yang lalu!”

“Korban? Tiga tahun yang lalu? Jangan-jangan … tapi aku masih punya catatan yang dia tinggalkan.” Sambil merogoh kantong, Taki mengambil handphone-nya untuk melihat memo di mana Mitsuha biasanya menulis laporan aktivitasnya saat berada di dalam tubuh Taki. Satu persatu, kalimat di memo itu lenyap dari handphone Taki.

Seni Abstrak Itu Berupa Perpindahan Alur yang Halus

Misteri kedatangan Mitsuha dari masa tiga tahun yang lalu adalah sebuah jurus hebat dalam alur Kimi no Na Wa yang dimainkan dengan sangat baik oleh Makoto Shinkai. Bagaimana tidak, meski menggunakan alur twist dengan cerita dasar di masa Taki sekarang, tapi dengan penonjolan karakter Mitsuha sejak awal, seolah sang sutradara ingin memberikan syok terapi sekaligus kejutan yang tidak terkira. Jurus hebat ini tidak diracik dengan sembarangan. Salah-salah, yang ada hanya akan membingungkan penonton. Namun hal tersebut dapat dihindari dengan sempurna oleh Makoto Shinkai.

Bahkan dalam suatu adegan yang sangat detail namun sepele, seperti saat Mitsuha yang terbangun kemudian dikatakan kerasukan setan oleh Tessie setelah apa yang terjadi kemarin harinya, terdapat perpindahan alur yang sangat halus dan berkelas. Perlahan, perpindahan yang mulus itu lantas membawa kita kepada jawaban-jawaban yang kita cari sejak konflik pertama dibeberkan. Siapa sebenarnya Mitsuha? Bisakah ia selamat dari pecahan komet tiga tahun yang lalu? Bagaimana kelanjutan hubungan Mitsuha dengan Taki? Dan yang terpenting, apakah sekali lagi mereka akan bertemu? Jawabannya akan Anda temukan setelah mengkaji secara mendalam film animasi yang meraih pendapatan kotor tertinggi ke-4 sepanjang waktu di Jepang ini, mengalahkan Harry Potter and The Philoshoper’s Stone, sekaligus peringkat ke-2 di belakang film animasi yang pernah memenangkan Oscar, Spirited Away, keluaran Studio Gibli, bila tidak menghitung film impor.

Jangan Pernah Tanya Soal Grafik dan Musik!

Kimi no Na Wa tidak cuma bermain cantik dari sisi alur. Kalau hanya itu, rasanya sulit mencapai level persaingan dengan Spirited Away sebagai film animasi yang sukses menyabet Oscar. Soal grafik dan musik, film animasi ini benar-benar bertengger di kelas yang jauh lebih tinggi bahkan dari Spirited Away.

Baca Juga:  Bukti Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Secara pribadi, saya kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan keindahan grafik Kimi no Na Wa. Detail, nyata, hidup, dengan gradasi dan kejernihan warna yang tiada tara. Rasanya memang manusia masih punya keterbatasan bahasa untuk menggambarkan banyak hal yang mengagumkan termasuk dalam hal grafik, lukisan, seni dan juga musik.

Kemampuan menawan Radwimps dalam menggubah musik untuk film animasi ini sama sekali tidak mengecewakan. Mereka menciptakan lagu yang cocok, serasi dan terasa sangat pas melengkapi setiap monolog dan dialog antara Mitsuha dan Taki. Ditambah lagi dengan suara vokalisnya yang khas dan menyentuh, tak mengherankan bila kemudian lagu Zen Zen Zense, soundtrack Kimi no Na Wa ini, menjadi juara kedua kategori “Best Theme Song” dalam Newtype Anime Awards ke-7.

Pada Akhirnya, Semua Kembali pada Selera Masing-Masing

Di atas kertas, film animasi berdurasi 1 jam 52 menit ini (hanya satu episode) memang layak menuai banyak pujian. Tidak tanggung-tanggung, My Anime List memberikan rating 9,19! Hanya kalah tinggi dari Stain Gate (24 episode) dan Full Metal Alchemist Brotherhood (sebanyak 64 episode).

Memang rating bukan segala-galanya. Namun dari ratinglah setidaknya kita menjadi tahu penilaian mayoritas orang yang sudah menikmatinya. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan tadi, semua kembali pada selera masing-masing. Apalagi selama ini di Indonesia, pandangan terhadap para penikmat film animasi, terutama anime Jepang, masih kurang positif. Paling sering kami dikatakan masih kekanak-kanakan, tidak dewasa, dan lain sebagainya. Padahal, kita semua seharusnya tahu, bahkan dari sebongkah batu pun, seseorang bisa mendapatkan pelajaran.[]

Data Film:

Sutradara        : Makoto Shinkai
Genre               : Drama, Fantasi
Cast                  : Mone Kamishiraishi, Ryunosuke Kamiki, Masami Nagasawa
Durasi              : 1 jam 52 menit
Tanggal Rilis     : 7 Desember 2016 (Idonesia)
Studio               : CoMix Wave Films
Rating               : 8.4/10 (IMDb), 79% (Metacritic)
Gambar: IMDb
Facebook Comments

Pelajar yang masih harus banyak belajar. Di sela-sela kesibukannya menulis masih mencari inspirasi dari banyak sumber, termasuk film. Dapat dihubungi di cakmun15@gmail.com.