Resensi Buku

Grunge (Belum) Mati

Posted on in Resensi Buku
105 Shares

Suatu hari, Jani Lane, vokalis band metal Warrant, datang ke kantor Columbia Records. Ia tengah berada di puncak karier musikalnya saat itu. Cherry Pie, album kedua Warrant yang baru dirilis enam bulan sebelumnya laris manis. Album itu mencatatkan angka penjualan hingga 3 juta keping di seluruh dunia.

Namun hari itu, ia datang ke Columbia Records dengan perasaan galau.

Musababnya ialah Nevermind, album debutan dari band yang nyaris tidak pernah terdengar sebelumnya, yakni Nirvana, mulai membuntuti angka penjualan Cherry Pie.

Jani risau, atau lebih tepatnya merasa terancam.

Nevermind memang bukan album sembarangan. Album itu menjadi semacam malaikat maut bagi musik metal yang saat itu menjadi arus utama dalam industri musik. Begitu pula Nirvana, band yang digawangi tiga personel yakni Kurt Cobain, Krist Novoselic dan Dave Grohl itu segera menjadi idola baru bagi anak muda Amerika.

Selain berhasil menjungkalkan dominasi musik metal di kancah budaya populer Amerika, Nirvana juga membidani lahirnya subkultur baru bernama grunge. Dalam perkembangan selanjutnya, grunge menjadi semacam identitas budaya kaum muda, tidak hanya di AS, namun di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia.

Sebagai sebuah istilah, grunge adalah sebuah istilah yang ganjil. Jika kita membuka kamus Bahasa Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily yang legendaris itu, bisa dipastikan kata grunge tidak tercantum di sana.

Begitu pula jika kita menggunakan layanan google translate dan mengetikkan kata grunge. Yang muncul juga hanya kata grunge. Itu artiya, nihil padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Perihal kehebatan Nevermind mengakhiri masa jaya musik metal, dan betapa melegendanya Nirvana, terutama sosok Kurt Cobain, barangkali adalah ihwal klise yang berulang kali diceritakan. Yang masih jarang dibahas adalah bagaimana grunge sebagai aliran musik sekaligus subkultur masuk ke Indonesia dan berpengaruh pada kehidupan sosial-politik anak mudanya.

Padahal, diakui atau tidak, grunge yang identik dengan gaya hidup perlawanan dan anti-kemapanan telah menyumbang andil pada perubahan sosial yang terjadi di Indonesia.

Buku Grung Still Alive; Catatan Seorang Pecundang (selanjutnya ditulis GSA) yang ditulis Yoyon Sukaryono ini adalah salah satu di antara sedikit usaha untuk menjelaskan apa itu grunge dan bagaimana ia berkembang menjadi salah satu ikon budaya populer di Indonesia.

Baca Juga:  Tokoh-Tokoh yang Tak Berusaha Tampil Baik

Buku ini menarik, setidaknya bagi saya, karena tiga alasan.

Pertama, buku ini ditulis oleh “orang dalam” di skena musik dan subkultur grunge. Yoyon adalah vokalis Klepto Opera, grup musik beraliran grunge. Dalam banyak hal, ia terbilang memiliki otoritas untuk bicara dan menulis tentang grunge.

Kedua, buku ini didukung oleh data-data wawancara dari para pegiat skena grunge tanah air mulai dari musisi sampai penganut subkultur grunge. Data ini tentu sangat penting sebagai fondasi untuk memahami subkultur grunge.

Ketiga, meski tidak dimaksudkan sebagai kajian akademik, namun buku ini tetap memakai pendekatan teori sosial. Teori sosial menjadi elemen yang penting dalam kajian budaya karena ialah yang akan menuntun penulis agar tidak terjebak pada glorifikasi. Terlebih jika ia sendiri menjadi bagian dari kebudayaan yang dikaji.

Alasan keempat ini barangkali terlalu berlebihan. Setiap kali saya ke toko buku dan menghambur ke rak musik, sederet buku yang teronggok di sana hanyalah buku-buku kumpulan lagu. Bagi saya, buku kumpulan lirik lagu beserta kunci gitarnya tidak layak disebut sebagai “buku musik”.

Buku ini menjadi semacam penghiburan bagi saya. Ternyata masih ada orang yang menulis musik secara serius dan masih ada penerbit yang berani rugi untuk menerbitkannya.

Secara garis besar, buku ini terbagi ke dalam tiga babak pembahasan. Bagian awal buku ini membahas ihwal awal mula grunge muncul sebagai sebuah fenomena musikal di Seattle, AS. Bagian kedua, dibahas mengenai bagaimana grunge masuk ke Indonesia dan menjadi bagian penting dari perkembangan budaya populer dan budaya kaum muda (youth culture) di Indonesia. Di bagian ketiga, kita akan disuguhi pembahasan tentang grunge sebagai sebuah ekosistem komunitas yang dalam banyak hal berpengaruh pada perubahan sosial.

Perbincangan mengenai grunge, utamanya soal definisi acapkali berakhir pada kebuntuan. Hal ini lantaran nyaris tidak ada kata sepakat tentang apa itu makna grunge. Masing-masing pihak cenderung punya tafsir sendiri tentang apa itu grunge dan fatalnya mengklaim tafsirannya sebagai yang paling sahih.

Tampaknya, Yoyon paham betul problem itu. Maka di buku ini, ia berusaha mengklarifikasi perdebatan tentang grunge yang selama ini tidak kunjung menemui titik temu. Menurutnya, secara etimologis, grunge berasal dari langgam slang dalam Bahasa Inggris. Maknanya kurang lebih adalah kotor atau jorok.

Baca Juga:  Hasrat Psikoposkolonial Aroma Karsa

Istilah grunge dipakai di ranah musik pertama kali oleh Mark Arm, vokalis band Green River. Konteksnya kala itu ia tengah mengkritik aliran musik Mr. Epp dan The Calculations yang disebutnya “pure grunge, pure noise, pure shit”. Kritik Arm itu disampaikan melalui sebuah surat pada majalah Desperate Times yang bertitimangsa 1981.

Dalam perkembangan selanjutnya, lema grunge merujuk pada satu aliran musik yang dicirikan dengan karakter sound yang berat dan kasar. Grunge juga kerap disinonimkan dengan istilah Seattle Sound, karena secara kebetulan, band-band yang mengusung aliran musik itu berasal dari kota Seattle, AS.

Nirvana, Pearl Jam, Mudhoney dan sederet band asal Seattle lainnya adalah pengusung awal grunge sampai akhirnya mendunia.

Meski banyak band asal Seattle yang secara musikal bernuansa grunge, harus diakui bahwa Nirvana adalah satu-satunya band yang sering dianggap sebagai agen penyebaran grunge ke seluruh dunia.

Sebagai generasi yang mengalami masa remaja di era 1990-an, ketika rezim Suharto mulai kehilangan dominasinya, saya menyaksikan sendiri bagaimana Nirvana menjadi band paling penting di kalangan remaja dan anak muda.

Dalam amatan Yoyon, subkultur grunge diimani kalangan kaum muda Indonesia karena sejumlah alasan. Pertama, sebagian besar lagu-lagu band grunge, terutama Nirvana, berbicara tentang krisis eksistensial khas anak muda. Karakter Nirvana yang kelam, misterius, namun meledak-ledak dianggap merepresentasikan problem psikologis dan sosiologis kaum muda. Sebelumnya, band-band metal lebih banyak menyajikan lagu tentang hidup hura-hura: pesta semalaman, tidur seharian.

Kedua, secara keseluruhan, grunge menawarkan bentuk gaya hidup yang sederhana. Untuk memainkan musik grunge, seseorang tidak butuh skill bermusik yang tinggi. Kesederhanaan itu juga tampak dalam gaya berpakaian. Berbeda dengan gaya busana anak metal yang cenderung glamor, grunge justru menuntut kesederhanaan. Semakin apa adanya, justru semakin ngegrunge.

Sebagai sebuah karya yang dimaksudkan untuk membaca sejarah dan perkembangan grunge di Indonesia, buku ini terbilang cukup representatif. Yoyon tampak berhasil meramu berbagai data dan menganyamnya dengan teori sosial-budaya lalu menyajikannya dengan lumayan rapi dan runtut.

Hal ini tampak salah satunya dalam kesimpulan Yoyon bahwa grunge populer di Indonesia melalui proses culture imitation (imitasi budaya). Memakai teori yang ia pinjam dari Gabriel Tarde, Yoyon menarik kesimpulan bahwa komunitas grunge di Indonesia pada dasarnya adalah tiruan dari apa yang sebelumnya telah mapan di Amerika Serikat.

Baca Juga:  Bukan Perawan Maria: Narasi Alternatif yang Usil dan Santai

Dalam proses peniruan itu kemudian muncul dua kategori. Pertama, peniru yang sengaja melakukan proses imitasi dan memiliki kesadaran atas tujuan peniruan tersebut (deliberate imitation). Kedua, para peniru yang sama sekali tidak paham akan subtansi dan esensi dari apa yang mereka tiru (indeliberate imitation). Kelompok kedua inilah yang dalam komunitas grunge kerap disebut “poser”.

Ketika  pertama kali membeli buku ini di acara diskon tahunan yang digelar sebuah toko buku, saya membayangkan akan membacanya dengan nyaman, sembari menyesap kopi di kafe “Basabasi”. Sayangnya, ekspektasi itu sedikit terganggu.

Ada satu hal teknis yang cukup mengganggu saya sebagai pembaca, yakni keputusan Yoyon untuk menyajikan hasil wawancara atau pendapat dengan cara pengutipan langsung (ditulis menjorok ke dalam dengan huruf ukuran kecil). Awalnya, saya mengira hal itu hanya akan dilakukan sekali atau dua kali. Sialnya, ia melakukannya di sekujur buku.

Teknik pengutipan langsung memang menegaskan bahwa data, terutama hasil wawancara, yang dituliskan adalah benar-benar data asli tanpa intervensi penulis. Namun, dalam banyak sisi, cara itu cukup menganggu aktivitas membaca. Pembaca tentu akan lebih senang jika hasil wawancara itu dinarasikan, alih-alih dikutip langsung.

Namun, apa pun itu, buku ini cukup otoritatif dan representatif untuk melihat bagaimana subkultur grunge masuk dan berkembang lalu menjadi bagian dari perubahan sosial di Indonesia.

Lebih dari itu, buku ini telah berhasil memprovokasi saya untuk mengenang masa remaja: mengenakan flannel, sepatu converse, jins belel dan dengan noraknya melakukan air guitar di nomor legendaris Smells Like Teen Spirit.

Kehadiran buku ini sekaligus juga menegaskan bahwa grunge belum mati, setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.[N]

Data Buku:

Judul Buku                 : Grunge Still Alive: Catatan Seorang Pecundang

Penulis                        : Yoyon Sukaryono

Penerbit                     : Octopus

Tahun terbit              : Cetakan I, 2018

Tebal                          : 271 hlm

Gambar: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Periset partikelir, buruh tulis dan pengajar paruh waktu.