Resensi Buku

Pesan Pendek dalam Botol Kosong

Posted on in Resensi Buku

“…. kadang-kadang, aku merasa seperti pesan pendek yang gagal terkirim.”

(Botol Kosong, hlm. 22)

Dari berbagai belahan bumi, ratusan puisi telah, dan akan lahir setiap harinya. Ia seperti rumput liar yang tumbuh di mana-mana. Tumbuh dan berkembang di tangan penyair pemula amatiran hingga penyair kondang.

Puisi itu bahkan hidup dan mengendap di ruang yang sangat sempit, sunyi nyaris tak terjangkau khalayak umum. Di setiap genggaman, juga di pelupuk mata. Setiap hari kata-kata berjatuhan atas nama puisi. Dari sekian banyak penyair yang menulis puisi, ada yang peduli dan ada yang tidak peduli apakah puisi—atau pesan pendek yang telah tertulis sebagai puisi—itu berhasil atau malah gagal diciptakan dan gagal terkirim.

Thendra BP, penyair asal Nagari Padang Sibusuk ini kembali melahirkan buku puisi—berjudul Botol Kosong (JBS, 2017)—setelah Tuhan, Telepon Aku Dong (Gambala Media, 2004) dan Manusia Utama (IBC, 2011). Buku sebelumnya itu banyak dibicarakan lantaran kekuatan Thendra membungkus isu-isu puisi, politik dan cinta yang terjadi di lingkup hidupnya ke dalam puisi.

Thendra berhasil membawa semangat lingkungannya bersama puisi. Seperti yang disebutkan Dea Anugrah bahwa dalam Manusia Utama itu, bahkan terasa semangat Jogja yang sangat kental.

Lalu, bagaimana dengan Botol Kosong? Ternyata Thendra masih konsisten dengan puisi pendek, lugas, naratif dan bait yang mengunci. Dalam Botol Kosong, Thendra terasa lebih padat untuk merekam atau memotret peristiwa yang terjadi sepanjang puisi itu ditulis, yakni sejak 2012 hingga 2017.

Tampaknya sekilas Thendra bisa dikategorikan sebagai penyair yang selektif. Bayangkan, dalam kurun waktu lima tahun, hanya 43 puisi saja yang dimasukkan dalam Botol Kosong ini. Dan, seperti biasanya, kebanyakan adalah puisi-puisi pendek yang muncul.

Baca Juga:  Cinta Tak Ada Mati: Remah-Remah yang Disatukan Kembali

Pertanyaannya, hal apa kini yang ditawarkan Thendra lewat Botol Kosong dan pesan-pesan pendeknya? Tidak terlalu banyak.

Jika bicara tentang transformasi, atau perubahan yang terjadi dari buku puisi sebelumnya, kita mungkin tidak akan menemukan banyak perubahan. Thendra masih lugas mengupas isu lingkungan dan masih juga membicarakan cinta dalam beberapa puisinya. Selebihnya tentang keseharian, sindiran sejarah juga persoalan politik tampak dalam beberapa puisi.

Misalnya bagaimana Thendra merekam peristiwa lingkungannya secara jelas nampak pada puisi Ladang Karet; buah karet berjatuhan/ pecah di tanah/ mainan kanak-kanak/ daun karet berguguran/ resah di udara/ mainan angin lasak/ batang yang dilukai/ dan sabar/ meneteskan darah putih/ ke tempurung nasib petani/ ladang sunyi/ pedalaman.

Puisi pendek berjudul Parlemen yang menyiratkan pesan dengan sindiran politik yang nakal; si wajah berlemak itu berkata:/ “berikan suaramu kepadaku/ kita bersama/ akan baik-baik saja”/ aku tulis sajak/ membacakannya ke lubang biawak.

Atau sindiran Puisi Temuan dalam Tv yang dikemas hanya dalam dua baris. di antara iklan mereka menyebut rakyat dan tuhan/ tetapi rakyat dan tuhan telah mati ketika tv dinyalakan.

Sebenarnya gaya puisi pendek seperti ini, bahkan Joko Pinurbo juga sering menggunakannya. Puisi Temuan dalam Tv itu pun tata bahasa dan cubitan pesan mirip dengan Kepada Puisi-nya Jokpin; kau mata, aku air matamu. Keduanya sama-sama menggunakan cara paling padat dalam menyampaikan pesan. Dan, kita tahu bahwa cara ini tidaklah mudah dilakukan.

Jika dalam puisi yang judulnya menjadi bungkusan judul buku ini, yakni Botol Kosong, Thendra menulis seperti yang saya kutip di awal resensi ini, kadang-kadang aku merasa menjadi pesan pendek yang gagal terkirim, justru saya menganggap hitungan keberhasilan Thendra sebagai pesan pendek lebih banyak berhasil terkirimnya ketimbang kegagalannya. Apalagi jika pesan pendek tersebut berkaitan dengan hal-hal yang langsung bersentuhan dengan inti jantungnya. Misal dalam puisi In Memorian yang dipersembahkan untuk papa.

In Memorian

:papa

Tidurlah/ pejamkan lelahmu/ dalam tanah/ kau adalah akar/ kenangan yang menjalar/ kematian tak berkuasa/ cinta tetap ada. (In Memorian, hlm. 17)

Baca Juga:  Menjadi Muslim, Menjadi Orang Indonesia yang Baik

Sekali lagi, kekuatan Thendra terletak dalam pemilihan diksi yang bebas dan padat. Tidak bertele-tele meski ditulis secara naratif. Ia tidak sibuk menciptakan kalimat yang quotable—yang banyak dicari pembaca akhir-akhir ini—atau bahasa rayuan yang saking puitisnya sampai sulit dipahami.

Jika buku ini berada dalam genggaman masyarakat awam sekalipun, saya yakin pesan-pesan pendek Thendra akan tetap sampai dan berhasil terkirim. Entah sebagai peringatan, hiburan atau bahkan lebih jauh; inspirasi. [AR]

Identitas Buku:

Judul               : Botol Kosong

Penulis            : Y. Thendra BP

Penerbit         : Penerbit JBS

Cetakan          : Pertama, Desember 2017

Tebal              : 56 halaman

ISBN                : 978-602-61258-5-1

Gambar: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Penulis sekaligus desainer lepas. Mahasiswa S-1 Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Aktif bergiat di Komunitas Kutub. Sedang menyiapkan buku kelimanya: mengunjungi hujan yang berteduh di matamu. Surel: alfinrizalrizal@gmail.com.