Ulasan Film

Entropi Kehendak Manusia: Ulasan Film Annihilation

Posted on in Ulasan Film

Film sci-fi serebral seperti Annihilation adalah spesies rawan punah di tengah lanskap industri yang dipenuhi rentetan ekspansi franchise generik dan upaya memonetisasi isu sosial yang sedang tren. Tanpa label Marvel atau film pendahulu yang meledak di pasaran, nama-nama besar yang terlibat di dalamnya tidak banyak berpengaruh dalam meningkatkan antusiasme calon penonton.

Sumber materialnya juga bukan sejenis novel sci-fi young adult populer yang meluluhkan hati khalayak umum macam Divergent atau serial Maze Runner. Novel garapan Jeff VanderMeer adalah karya literatur yang sulit dibedah, apalagi diadaptasi. Kisah tentang anomali ekosistem di Area X menyimpan banyak pertanyaan kosmik yang segera mengeruhkan pikiran. Sulitnya lagi, mayoritas ide besar ini disampaikan melalui perspektif sempit yang terangkum dalam sekumpulan catatan harian seorang ahli Biologi tanpa nama.

Kabar mengenai penjualan hak distribusi internasional ke Netflix yang tersebar sebelum perilisannya juga memberi dampak buruk pada reputasi Annihilation pasca insiden The Cloverfield Paradox. Alex Garland boleh saja punya rekam jejak bagus perihal menggarap film sci-fi berbobot. Tapi yang jelas, mengadaptasi Annihilation adalah tantangan besar di film keduanya sebagai sutradara.

Banyak yang beranggapan kalau Alex Garland mengambil jalur berisiko tinggi, tapi tidak ada yang bilang kalau dia gagal melunasi tantangan ini. Selain premis dasarnya, Annihilation memang melipir jauh secara naratif. Namun, satu elemen krusial yang untungnya tidak tercampakkan adalah atmosfir ganjil yang menghidupkan novelnya. Film ini lebih pantas dianggap sebagai rekayasa balik ketimbang adaptasi kejur.

Sang ahli Biologi kini bernama Lena. Suatu malam ia mendapati Kane, suaminya, tiba-tiba hadir dan berperangai layaknya Dougie Jones setelah diduga tewas dalam misi militer. Untuk mencari penjelasan, Lena mengikuti ekspedisi ke dalam Area X, atau dikenal juga sebagai “The Shimmer”—referensi terhadap semacam gelembung sabun raksasa yang mengisolasi sepetak daerah rawa di Florida. Lena didampingi Dr. Ventress, psikolog yang juga berperan sebagai bos dalam ekspedisi tersebut; Josie, ahli Fisika; Anya, paramedis; dan Cass, antropolog.

Baca Juga:  Three Billboards Outside Ebbing, Missouri: Kontras-Kontras di Seputar Kekerasan

Kedalaman karakter Lena tersingkap melalui serangkaian kilas balik tentang rahasia gelap pernikahannya dengan Kane yang ternyata tidak begitu harmonis. Dorongan emosional ini terbangun paralel dengan konflik yang mewabah dalam dimensi batin ketiga karakter lainnya. Area X seakan membuktikan kalau ancaman tidak harus selalu berwujud mutasi buaya bergigi hiu atau beruang yang gemar melahap ketakutan mangsanya. Terkadang, ancaman terbesar bisa dilihat dengan mudah menggunakan cermin. Dari sini, materi kuliah tentang kanker serviks yang disampaikan Lena beresonansi jelas dengan tema besar Annihilation.

Mudah untuk melihat bagaimana Area X mengacaukan struktur DNA flora dan fauna di dalamnya seperti refraksi cahaya yang melewati segelas air. Namun, Area X nyatanya hanya mempercepat proses entropi yang bersifat inheren dalam semesta. Pada dasarnya, sudah menjadi kodrat setiap elemen untuk selalu bergerak menuju ketidakteraturan. Jika ditarik ke ranah observasi perilaku manusia, hukum alam ini dapat diterjemahkan sebagai takdir bahwa setiap individu memiliki kecenderungan untuk merusak dirinya sendiri. Bahkan tanpa mereka ketahui, impuls tersebut selalu mengintai di sudut pikiran yang paling gelap.

Banyaknya pertanyaan kontemplatif yang dilempar memang sebuah kesengajaan. Namun, film ini juga menaruh kepercayaan pada penontonnya dengan membiarkan tata bahasa visual yang cantik sekaligus mengerikan berbicara lebih lantang ketimbang dialog eksposisional ala Christopher Nolan. Bagi Anda yang tidak peduli dengan eksperimentasi pikiran semacam ini, kemasan audiovisual yang terinspirasi mimpi basah David Cronenberg sudah cukup untuk memberi serangan stroke.

Sejak awal Annihilation menunjukkan identitasnya sebagai film yang tidak sekadar menawarkan rangkaian aksi kebas dan ledakan tidak realistis. Keputusan artistik ini dipertahankan secara konsisten hingga akhir film. Dalam satu adegan, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Natalie Portman selama lebih dari sepuluh menit. Dia justru terjebak dalam tatanan koreografi yang terlihat seperti hasil perzinaan antara 2001: A Space Odyssey dan sketsa komedi Groucho dan Harpo Marx di Duck Soup.

Iringan musik Geoff Barrow dan Ben Salisbury menjalar ke seluruh tubuh dan sesekali memberi efek disorientasi untuk memperkuat atmosfir Annihilation. Dengung aransemen string dan paduan suara alto yang ditegaskan degup synthesizer menangkap esensi lovecraftian dari Area X dengan sempurna. Sementara petikan gitar akustik digunakan untuk bagian film yang lebih melankolik.

Baca Juga:  Love for Sale: Cinta Betulan atau Cuma Prostitusi?

Lebih dari sekadar film yang berpotensi memantik banyak diskusi pseudo-intelektual, Annihilation adalah ledakan imaji yang membanjiri sensor indrawi. Pengalaman seperti ini sulit untuk sepenuhnya dihayati jika tidak menonton langsung di bioskop. Sayangnya, berhubung saya tidak tinggal di Amerika Serikat atau Cina, saya cuma bisa mengandalkan Netflix (iya, “Netflix”) di laptop dan sepasang speaker medioker.

Ada cerita di balik keputusan Paramount untuk “membuang” Annihilation ke Netflix. Menurut liputan yang dilansir The Hollywood Reporter, seorang eksekutif bernama David Ellison menuntut perubahan drastis di bagian akhir film lantaran dinilai terlalu “intelektual” dan akan sulit dicerna. Untungnya, Scott Rudin selaku produser menolak anjuran tersebut demi melindungi visi Alex Garland. Alhasil, Paramount terpaksa mengambil langkah ekonomis. Tapi, ada baiknya kita bercermin terlebih dahulu sebelum memandang David Ellison sebagai tokoh antagonis. Mau bagaimana juga, dia punya tanggungan keluarga yang harus diberi nafkah.

Saya lebih bisa menaruh simpati pada entitas korporat yang sedang merugi selama dua tahun terakhir. Setelah Mother!, bisa dimengerti mengapa Paramount tidak akan bertaruh besar dengan proyek auteur lain dalam waktu dekat. Lihat juga kerugian $80 juta yang harus ditanggung Alcon Entertainment akibat kegagalan finansial Blade Runner 2049. Apa kalian pikir kerugian sebesar itu tidak akan membuat para eksekutif studio Hollywood ciut?

Terima atau tidak, Hollywood adalah industri sinis yang membangun model bisnisnya dengan mengesampingkan visi progresif seorang sutradara di hadapan proyeksi finansial. Kalau tidak ada antusiasme yang cukup dari penonton, wajar saja kalau mereka menarik dukungan untuk proyek ambisius seperti ini.

Saya bukan—dan tidak ingin menjadi—seorang film snob yang memandang orang-orang di antrean panjang Avengers: Infinity War sebagai sub-spesies manusia. Tapi dalam kasus ini, saya tidak ragu untuk menyalahkan kebanyakan penonton yang enggan menonton film di bioskop cuma karena nilai buruk di Rotten Tomatoes atau Cinemascore. Karena selera mereka yang bebal, saya (mungkin) tidak akan pernah menikmati Annihilation di tengah ruangan gelap dengan tatanan suara Dolby Atmos dan layar yang lebih luas dari kontrakan saya.

Baca Juga:  Ketika Nobel Sastra Singgah di Argentina: The Distinguished Citizen

Annihilation seharusnya tidak menjadi film terakhir yang berani menyampaikan pemikiran idiosinkratik tanpa kompromi. Konsepnya yang kongruen dan memikat tidak menjanjikan jawaban mudah dan menuntut perhatian lebih dari penonton. Setelah Ex Machina, Alex Garland sekali lagi membuktikan kecakapannya sebagai sutradara auteur dengan memberikan abstraksi mengenai kompleksitas kejiwaan manusia dengan segala hasrat emosional dan cengkeraman terornya.[]

Data Film:

Sutradara            : Alex Garland

Genre                   : Petualangan, Drama, Fantasi

Cast                : Natalie Portman, Jennifer Jason Leigh, Tessa Thompson, Gina Rodriguez

Durasi                   : 115 menit

Studio                   : Paramount/Netflix

Rating                   : 7.0/10 (IMDb), 87% (Rotten Tomatoes), 79 (Metacritic)

Gambar: IMDb

Facebook Comments

Filmmaker kacangan, wartawan serampangan.