Resensi Buku

Perempuan, Pergulatan, dan Kegilaan

Posted on in Resensi Buku

Menerbitkan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) tak mesti diawali dulu dengan pengembaraan bertahun-tahun di surat kabar. Kita telanjur menilai seorang yang pantas menerbitkan buku adalah mereka yang laris dimuat di surat kabar. Ketekunan menyapa pembaca lewat surat kabar dianggap bukti kiprah sastrawi. Buku kumpulan cerpen pada akhirnya jadi sekunder, sekadar penghimpunan cerpen-cerpen yang telah beredar. Kita memang menemukan beberapa pengecualian. Okky Madasari, katakanlah, jarang kita jumpai cerpen-cerpennya di surat kabar. Kumpulan cerpen Yang Bertahan dan Binasa Perlahan (2017) pun tak mencantumkan riwayat publikasi. Kasus serupa kita jumpai di buku kumpulan cerpen Sebuah Kencan yang Baik (2017) garapan Ayu Alfiah Jonas. Di buku itu memang ada riwayat publikasi, namun tak menyebutkan beberapa surat kabar yang dianggap pengesah label cerpenis.

Kumpulan cerpen dapat dibaca dengan mula sesukanya: dari depan, dari belakang, dari tengah, atau acak. Namun, dengan meniatkan diri membaca secara amat wajar, kita memilih memulainya dari depan, dari cerpen pertama. Cerpen Wanita Berjubah Hitam “bahasa” sastranya cukup alias tak terlalu berlebihan. Ayu masih punya kecenderungan yang terduga dalam penulisan sastra, yakni penguatan pada misteri, pada hal-hal yang tak terjelaskan. Ayu memilih latar yang dekat dengan dirinya: gunung. Hanya saja, ide yang tersurat dalam cerpen terasa umum dan berisiko klise, yakni soal sampah-sampah di gunung, hasil perbuatan siapa lagi kalau bukan pendaki tak bertanggung jawab. Kita akan lebih terpuaskan seandainya pembacaan berhenti pada paragraf sebelum paragraf terakhir. Lalu, kita bisa beranjak ke cerpen berikutnya tanpa menenteng kecewa.

“Setelah berpikir matang-matang, ia pun memutuskan untuk mengistirahatkan kepalanya sejenak dengan menaruh isi kepalanya di dalam kulkas. Ia berharap isi kepalanya bisa disejukkan. Dan sejenak, ia akan berhasil menikmati kepala tanpa ingatan dan rasa sakit. Kosong tak berisi. Bebas tanpa dibebani pikiran-pikiran memusingkan.”

Baca Juga:  Ilusi Kebahagiaan Bermula dari Istri atau Suami Idaman

Cerpen kedua berjudul Serpihan Isi Kepala rasanya layak dipersoalkan. Peristiwa mengeluarkan isi kepala dalam cerpen Ayu mengingatkan kita ke A Story for Children karangan Svava Jakobsdottir. Dalam cerpen Jakobsdottir, dikisahkan seorang ibu rela kepalanya dibedah demi menuruti keinginan anaknya, “Mama, kami mau tahu rupa otak seseorang.” Isi kepala ibu lantas diambil untuk dipelajari anak-anak dengan mikroskop, dan sesudah itu berakhir di tempat sampah. Beruntung, suaminya mau membersihkan isi kepalanya dengan alkohol, meski akhirnya dimaksudkan untuk dijadikan pajangan di ruang tamu.

Kita tak tahu apakah Ayu sudah pernah membaca cerpen itu dan lantas terinspirasi olehnya atau tidak. Tapi, ia menulis peristiwa yang sama meski subjeknya berkebalikan. Dalam cerpen Ayu itu, tokoh yang mengeluarkan isi kepala adalah seorang anak, sedang ibu baru muncul di bagian akhir cerpen. “Ibunya tidak tahu, serpihan kepala yang akan ia simpan di dalam kulkas adalah ingatan-ingatan buruknya tentang hidup. Mencakup pengkhianatan, kegagalan, perpisahan, dan hal-hal buruk lain yang jika dipasang kembali, akan mengacaukan damai di hidupnya, membuatnya terus menerus dilanda sakit kepala.” Perbedaan lain adalah bila dalam cerpen Jakobsdottir kepala ibu dibedah anaknya, dalam cerpen Ayu tokoh kita membedah kepalanya sendiri. Absurditas yang otodidak.

Buku kumpulan cerpen Ayu terbit dengan judul Sebuah Kencan yang Baik (2017). Tentu, kita pantas merasa diperingatkan supaya menaruh perhatian lebih pada cerpen yang judulnya dipinjam itu. Ayu memilih memakai sudut pandang pelaku utama, aku-perempuan. Pilihan itu sangat wajar. Secara sosio-psikologis, Ayu bertanggung jawab. Dalam cerpennya, Ayu menyoal cinta anak muda menghadapi paksaan pernikahan yang memisahkan. Tentu secara tematik tak ada bedanya dengan kisah Siti Nurbaya, namun Ayu lebih menekankan pada perspektif perempuan muda berhadapan dengan absurditas: lelaki yang dicintainya, juga lelaki lain yang menjadi suaminya. Cerpen Sebuah Kencan yang Baik tak lepas dari ciri khas Ayu, tanpa pangkal dan ujung yang jelas. Kita sah-sah saja mengembangkan imajinasi atas apa yang mungkin terjadi setelah, bahkan sebelum, peristiwa dalam cerpen Ayu terjadi.

Baca Juga:  Mencari Identitas Islam di Indonesia

“Dalam sebuah kencan yang baik, kita mesti mengakhirinya dengan kebaikan pula. Kapitalisme akan runtuh karena keunggulannya. Perang dunia dua telah berakhir lama. Orang-orang jahat mendekam di penjara. Para pemimpin sibuk dengan citra. Kita, berdua, mengakhiri kencan dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

Sekali waktu Ayu pernah menuliskan “ia tak ingin punya anak dari rahimmu” di akun media sosialnya, Instagram kalau tidak salah. Belakangan kita tahu itu salah satu judul cerpennya. Ia Tak Ingin Punya Anak dari Rahimmu berpangkal pada satu kalimat kausal, “ia tak ingin punya anak dari rahimmu, maka ia meninggalkanmu.” Ayu menulis ia, namun ia yang tak ingin punya anak dari rahim tokoh utama itu dapat juga merujuk pada fakta sosial, bila kita meminjam term Emile Durkheim. Tokoh utama yang bisanya hanya merokok dan merokok, berharap dan berharap, ditinggalkan terus ditinggalkan, tulis Ayu, memang tidak pantas dipilih sebagai pasangan hidup. Ada berbagai karakter perempuan di dunia ini, kita amat memakluminya. Namun, untuk mendefinisikan istri dan ibu, kita sepakat menyebut, “perempuan baik-baik.”

Cerpen yang juga perlu diperhatikan adalah Harmonika dan Kemeja. Cerpen itu paling pendek dan cepat selesai dibandingkan cerpen Ayu pada umumnya. Pemendekan kisah semacam ini kerap terjadi dalam sastra modern, kita lalu menyebutnya fiksi mini, dan yang paling terkenal tentu kisah-kisah pendek Amerika Latin. Namun, dilihat dari peristiwa yang terjadi dalam cerpen, kisah pendek Ayu lebih identik dengan fiksi mini Franz Kafka. Kita dapat menengok buku kumpulan fiksi mini Franz Kafka yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, yakni Kesialan Orang Lajang (2017). Kisah yang disajikan oleh Ayu maupun Kafka sekadar peristiwa keseharian yang mudah ternalar, yang gara-gara kewajaran peristiwa, eksplorasi kebahasaannya menggoda kita mencari makna lebih.

Baca Juga:  Mencintai dengan Cara yang Begitu Sehari-Hari

Secara umum, ada kecenderungan yang sangat kentara di buku kumpulan cerpen Sebuah Kencan yang Baik. Kecenderungan itu tertangkap penyumbang kata pengantar, Toni Lesmana, dan akan lekas dirasakan pembaca. “Pengarang sepertinya mempunyai perhatian yang khusus terhadap nasib manusia, khususnya kaum perempuan, yang selalu menjadi korban,” tulis Toni. Kecenderungan Ayu mengingatkan kita pada Leila S. Chudori. Hanya saja, meski Leila membenamkan tokoh perempuan ke titik terpedih, pada akhirnya Leila menunjukkan kekuatan dan ketahanan tokoh perempuannya. Ayu memilih tak selalu melakukan itu. Ayu malah membenamkan tokohnya dalam kegilaan, dan kemungkinan itu lebih berterima. Semoga kita tak ikut gila membaca cerpen-cerpen di Sebuah Kencan yang Baik. Amin saja. []

Data Buku:

Judul                 : Sebuah Kencan yang Baik

Penulis              : Ayu Alfiah Jonas

Penerbit           : Papel Aksara Utama

Cetakan           : Pertama, November 2017

Tebal                 : xi + 135 halaman; 14 x 21 cm

ISBN                  : 978-602-6776-50-1

Gambar: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Esais, peresensi, dan editor buku.

Pengelola Bukulah!