Catatan Kurator

Sekapur Sirih

Posted on in Catatan Kurator · Resensi Buku

Bismillahirrahmanirrahim

Ketika film Into the Wild (2007) yang sedang saya tonton hampir sampai di adegan pamungkasnya, saya membayangkan, Christopher McCandless barangkali sempat berandai-andai tentang mesin waktu pada detik-detik akhir kehidupannya di alam liar Alaska. Selalu ada satu titik buntu dalam kehidupan manusia ketika ia menyesali keputusan fatal yang telah diambilnya. Maka wajar belaka jika kemudian pikiran-pikiran tentang membalikkan waktu itu terbetik dalam kepala; berharap ia bisa memulai kembali dari ‘titik aman’ sebelumnya, dan mengambil keputusan yang berbeda untuk hasil masa kini yang jauh lebih ideal pula. Meskipun pada akhirnya ide semacam itu tak lebih hanya sebatas khayalan keputusasaan yang sia-sia.

Christopher McCandless meyakini kebahagiaan hidup hanya akan didapatnya jika ia mengasingkan diri dari kehudupan masyarakat yang semakin materialistis dan melakukan perjalanan panjang ke tempat-tempat terjauh yang terasing dari peradaban; menyatu dengan alam. Di usia emasnya yang belum genap 25 tahun, ia memutuskan untuk meninggalkan segala hal berharga (ia menolak hadiah mobil baru dari orang tuanya yang kaya raya, membuang lembaran-lembaran dolar tabungannya seolah uang tersebut hanya kertas buram tak bernilai) berikut harapan-harapan masa depan cemerlang yang oleh anak muda ‘normal’ lainnya sangat diidam-idamkan dan diperjuangkan mati-matian. Namun, betapa pun, di akhir perjalanan itu, ia kemudian menyadari bahwa kesunyian yang ia ambil selama ini tidaklah sepenuhnya menjadi solusi atas kehampaan jiwanya dan kebahagiaan tidak dapat dinikmati seorang diri, melainkan “…only real when shared.” Kalimat menggugah hati itu ia tulis di buku hariannya tepat beberapa detik sebelum maut menjemput akibat keracunan tanaman liar setelah berhari-hari sebelumnya ia didera kelaparan.

Baca Juga:  ‘Tauhid Fana’ Ala Imam Junaid Al-Baghdadi

***

Suatu malam di awal April 2018, saya bertamu ke rumah Kyai saya, Bapak Edi Mulyono, dan di ujung sebuah pembicaraan beliau berkata, “Saya ingin bikin website khusus memuat tulisan resensi buku dan film. Kira-kira apa, ya, namanya yang enak didengar?”

Semalaman saya ikut memikirkan pilihan nama-nama yang sekiranya tidak biasa namun tetap menarik. Besoknya kami bertemu lagi, nama yang saya sarankan ditolak oleh beliau sambil tertawa karena terkesan terlalu serius.

“Gimana kalau blablabla.com aja? Udah ada yang pakai?”

Saya segera membuka mesin perambah dan mengetikkan alamat itu. “Sudah ada, Pak Yai,”

Beliau tampak berpikir sejenak. “Karepe.com?”

Saya mencari lagi. “Oh, yang ini masih belum dipakai.”

“Ya sudah, karepe.com saja.”

Singkat cerita, saya diamanahkan untuk mengelola website tersebut. Proses persiapan konsep dan segala macamnya segera kami godok kurang dari 2 kali 24 jam. Bahkan beberapa menit setelah ide nama karepe.com itu kami sepakati, beliau langsung menyebar pengumuman di Facebook. Sambutannya luar biasa. Penerimaan naskah dibuka, tulisan-tulisan mulai bertubi-tubi masuk ke surel redaksi. Dan pekerjaan seru itu terus berlangsung hingga hari peluncuran resmi ini tiba.

Dalam suatu kesempatan lain, seseorang bertanya: “Apa, sih, motivasi Bapak bikin website lagi? Kan, sudah ada basabasi.co dan nyonthong.com?”

Pak Kyai saya yang ngefens berat sama Dewa 19 itu menjawab dengan santai, “Nggak ada motivasi apa-apa. Buat senang-senang aja. Biar kalian dapat duit dari menulis. Biar ada wadah buat tulisan-tulisan kalian yang nggak ada jodohnya itu.”

Senang-senang. Sesederhana itu. Tapi saya kemudian menyadari, dibalik misi ‘senang-senangnya’ beliau yang sesimpel itu, terdapat banyak hati yang akan berbahagia ketika nantinya mendapati tulisannya yang susah payah digarap akhirnya ditayangkan di media dan mendapat honor yang pantas. Meski nominalnya relatif tidak terlalu besar, tetap saja, itu adalah mata air kebahagiaan, terutama bagi golongan mahasiswa-mahasiswa melarat yang tiap akhir bulan terpaksa menjinakkan lapar dengan sebungkus mie instan dan air putih, sebagaimana yang selalu saya alami dulunya.

Baca Juga:  Before 30, Bukan Novel Amore Biasa

Seperti yang Christopher McCandless tulis dalam buku hariannya, “Kebahagiaan hanya nyata dengan berbagi.” Pak Kyai saya benar-benar mewujudakan hal itu melalui pengadaan website karepe.com ini. Semakin banyak kebahagian yang dibagi, akan semakin berarti hidupmu, akan semakin bermakna dirimu. Bukankah begitu?

Akhirnya, di pagi yang cerah ini, 1 Mei 2018, atas rahmat Allah yang maha kuasa, dan dengan restu penuh dari Pak Kyai Edi Mulyono yang mendanai segala keperluan perkembangan website ini sekarang dan seterusnya, saya selaku redaktur dengan bangga dan berbahagia mempersembahkan website karepe.com ini buat dunia, buat kalian semua.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa pada peluncuran perdana website ini, masih terdapat banyak sekali kekurangan di sana-sini. Seiring dengan berjalannya waktu akan selalu dilakukan perbaikan, dan tentunya dengan dukungan kalian, para penulis dan pengunjung website ini, kami optimis bisa terus berbenah dan memberikan konten yang terbaik.

Pada penayangan perdana ini, ada tulisan resensi buku yang sangat menarik dari Satya Adhi yang mengulas seputar internet dan netizen Indonesia dan hubungannya dengan kegiatan berdemokrasi dan berpolitik di negeri ini. Saya memilih tulisan ini sebagai pembuka dengan pertimbangan keterkaitannya yang erat dan gamblang dengan kondisi jagat maya di masyarakat kita belakangan ini, terutama dengan keriuhan-keriuhan yang mulai semakin menjadi-jadi menjelang apa yang orang-orang sebut sebagai tahun politik. Harapan saya, semoga tulisan Satya Adhi ini nantinya akan menuntun kita (terutama netizen-netizen yang butuh panduan hidup bersosial media yang baik dan benar) pada solusi-solusi praktis untuk menjadi warganet yang bijak dan dewasa dalam menyikapi pelbagai isu.

Selanjutnya, kami akan menayangkan satu tulisan setiap hari (kecuali hari Minggu dan tanggal merah), baik resensi buku maupun ulasan film. Harapan yang agak muluk dari redaktur barangkali adalah semoga keberadaan website ini dapat menjadi wadah yang menyenangkan hati banyak penulis dan membahagiakan para penikmat buku dan film. Semoga, ya.

Baca Juga:  Am.pe.nan : Tiga Suku Kata yang Menggelisahkan

Sekian, selamat menikmati. Salam sayang.[Kurator]

 

 

 

 

Facebook Comments